Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Caca Cemburu


__ADS_3

"Betapa bodohnya aku, Puti ada di dekat kita tapi aku gak menyadari." Ungkap Yohana saat kami berada di kamar, berbincang tentang kedua anak itu. "Bahkan aku bersikap buruk padanya, mungkin karena itu ia semakin marah. harusnya aku berbuat baik kepadanya. itulah, entah kenapa aku tak punya feeling atasnya. mungkin karena kebencian Puti yang begitu besar padaku." Kata Yohana lagi. Ia menyesali sikapnya yang lalu sehingga membuat kesalahpahaman.


"Tak usah dipikirkan lagi. besok kita cari Puti, lalu jelaskan semuanya agar semua menjadi baik." Kataku.


"Ya, semoga saja anak itu bisa memahami. Aku yakin ia memiliki hati yang baik meski saat kecilnya ia sedikit keras kepala dan agak pendendam." kata Yohana. "Sudah ya sayang, aku mau ke kamar tamu dulu. Upik pasti sudah menunggu." kata Yohana. Ia memang sudah meminta izin akan tidur bersama Upik malam ini. Aku mengizinkan, agar mereka bisa melepas rindu.


***


Akhirnya pekerjaan kantor selesai juga, aku keluar kamar sebentar untuk mengambil minum. Sepertinya Yohana lupa mengisi gelasku. Mungkin saking excited nya ia sebab baru bertemu dengan Upik.


Jalan menuju dapur, aku bertemu Caca. Ia tengah berdiri mematung di depan pigura foto keluarga. Ada gambar aku, Yohana dan Caca ketika masih kecil.


"Ca, belum tidur nak?" tanyaku.


"Eh, ayah." Caca gelagapan, ia buru-buru menghapus sisa air matanya sehingga aku menyadari kalau ia baru menangis.


"Hei, ada apa ini. Kenapa putrinya ayah yang paling cantik menangis? Siapa yang sudah berani menyakiti hati anaknya ayah? Ayo katakan! Nanti akan ayah marahi!" kataku.


"Ayah!" Caca menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Nak, ayo kemari, ceritakan sama ayah. Apa yang membuatmu sedih?"

__ADS_1


Aku mengajak Caca duduk di meja makan. Ia menurut.. Setelah agak tenang, barulah ia bercerita.


"Caca ... Maafkan Caca yah, tapi Caca Cemburu sama kak Upik dan kak Puti. Ibu begitu menyayangi mereka. Apakah rasa sayang ibu juga sama pada Caca? Ataukah ibu akan melupakan Caca setelah kedua kakak-kakak pulang?" sepasang mata Caca menatapku penuh harap.


"Ya Allah nak, ya enggak mungkin ibu bisa melupakan Caca. Kamu tahu, dahulu kenapa kamu yang diadopsi, bukan seorang anak laki-laki yang pertama kali kami lihat? Itu karena ibumu sudah sangat jatuh cinta padamu, nak. Ya, hanya kamu yang membuatnya sejatuh cinta itu. Ia begitu menyayangi kamu. Bahkan baginya kamu adalah obat hatinya. Saat ia terpuruk kehilangan Upik dan Puti, kamu yang membuatnya kembali bangkit. Jadi jangan berkecil hati kalau sekarang ibumu terlihat abai. Ia begitu karena sudah sangat rindu pada dua anak itu. Nasib mereka sungguh sangat menyedihkan, wajar jika ibumu mengasihi mereka. Kalian bertiga sama di hatinya." kataku.


"Benar yah. Sebenarnya Caca tahu, hanya kadang Caca butuh diyakini." Caca menghapus air matanya, ia mencoba tersenyum. "Caca juga sangat sayang ibu dan Caca bahagia akhirnya ibu bisa bertemu dengan kedua anak ibu yang lain." kata Caca


Ehem. Seseorang berdehem. Yohana, ia berdiri tak jauh dari kami, entah sejak kapan ia berada di sana.


"Ada apa ini? Apakah ibu melewatkan sesuatu? Anaknya ibu kenapa? Seperti habis menangis?" tanya Yohana. Ia memegang pipi Caca sambil menatap matanya.


"Caca merindukan kamu." kataku.


"Enggak Bu, jangan. Caca udah nggak apa-apa." kata Caca. Ia tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu ibu ke kamar sebelah dulu, tapi sebelumnya ibu akan mengantar putri ibu dahulu." kata Yohana.


Terlihat betul Yohana sangat menjaga perasaan anak-anaknya. Meski mereka tak lahir dari rahimnya, namun Yohana sangat tulus dan aku sangat percaya bahwa rasa sayangnya sama-sama besar.


***

__ADS_1


Aku, Yohana dan Upik sudah berada di dekat kampus Upik. Kami menuju kosannya, namun harus mendapatkan kenyataan bahwa Puti sudah tidak tinggal di sana sejak tiga bulan lalu. Ada banyak masalah yang dibuat oleh Puti hingga ia akhirnya dikeluarkan oleh pemilik kosan. Mulai dari suka membawa pacarnya masuk ke kamar kosan dan kalau ditegur maka ia akan mengamuk. Memusuhi siapapun yang berani melaporkan dirinya. Puti juga terlibat hutang dengan beberapa anak kosan yang hingga sekarang belum diselesaikan. Yohana dengan sigap langsung menyelesaikannya.


Untungnya salah satu teman kosan Puti tahu dimana lokasi kontrakan Dewa. Ia juga tidak keberatan mengantarkan kami sampai di depannya. Setelah itu baru ia meninggalkan kami bertiga.


Aku mewakili kami bertiga mengetuk pintu. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang menyahut dari dalam, suara yang tak asing lagi untukku. Suara Nilam atau Puti.


Benar saja, ia yang membuka pintu. Puti sangat terkejut melihat kedatangan kami. Ia berusaha menutup kembali pintu, namun dengan sigap aku menghalangi.


"Puti ... ini ibu, nak. Ibu sangat merindukan kamu!" kata Yohana, ia maju beberapa langkah, berusaha mendekat.


"Ini pasti ulah kamu kan kak?" Puti melirik Upik. "Apa sih mau kami, kak? Kenapa kamu bawa mereka ke sini? Kan sudah ku katakan kalau hubungan kita sudah berakhir, jadi jangan ganggu aku lagi." teriak Puti.


"Puti ... kamu bicara apa, sih? Ibu minta maaf kalau banyak salah. Tapi jangan begitu. Ayo kita bicarakan semuanya baik-baik." pinta Yohana.


"Bicara apa lagi? Kamu yang mengusir saya, kamu yang nggak menginginkan kehadiran saya. Lalu untuk apa muncul di sini?" tanya Puti lagi. "Sudahlah, pergi dari sini. Nggak ada gunanya bertemu saya sebab saya sekarang tak sebaik yang kalian bayangkan. Saya itu perempuan murahan, hamil di luar nikah. Puas kalian?" kata Puti, sambil memperlihatkan perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Apapun kondisi kamu enggak akan merubah perasaan ibu, nak. Ayo kita pulang dan bicara. Ibu sudah mencari kamu selama ini. Jadi ayo kita pulang." pinta Yohana lagi.


Yohana dan Upik terus membujuk Puti agar mau bicara dengan mereka. Namun perempuan itu tetap keras kepala, bahkan ia memaki ibu angkat dan kakak kandungnya sendiri. Benar-benar sifat yang sangat tidak baik. Kalau tak ingat perjuangan Yohana maka sudah ku ajak mereka berdua kembali.


Aku akhirnya buka mulut, menyuruh Puti untuk ikut pulang. Bahkan sudah ku katakan kalau semua masalah itu sudah aku lupakan. Puti tampak berpikir, hingga akhirnya ia menurut, mau ikut pulang bersama kami.

__ADS_1


Melihat Puti mengangguk membuat Yohana begitu bahagia. Sebagai suami, aku yang merasa feeling tidak bagus, tak sampai hati untuk menahannya agar tak usah membawa Puti pulang. Aku hanya berharap, Puti benar-benar berubah.


__ADS_2