
Acara bagi-bagi makanan akhirnya selesai juga. Aku memutuskan masuk ke kamar tamu yang kini sudah disulap menjadi kantor sekaligus tempat penyimpanan stok Keripik yang akan dipaking. Setelah sebulan kubur, rencananya kami akan mulai beroperasi kembali. Toko-toko langganan sudah kembali ku hubungi dan mereka siap menerima pesanan. Ibunya Reni juga sudah berjanji akan mempromosikan produk kami ke rekan-rekan kerjanya yang kebetulan punya usaha toko cemilan dan oleh-oleh.
Sedang asyik mengutak-atik laptop untuk promosi, tiba-tiba pintu di ketuk. Mbak Lila masuk setelah aku izinkan. Pintu kamar sengaja dibuka agar tak timbul fitnah. Kami berdua memang tak terlalu akrab karena aku adalah orang terakhir di rumah ini yang mengenalnya. Tapi meski begitu, tampaknya mbak Lila sudah menganggap aku seperti adiknya sendiri sehingga ia tak sungkan menyampaikan keluh kesahnya.
"Sebelumnya maaf ya Ben, ini terkait pembicaraan tetangga tadi " mbak Lila membuka pembicaraan. "Kalau kamu tidak keberatan, mbak ingin membawa Alif pindah " katanya.
"Pindah? Tapi Kenapa, mbak? Apa mbak nggak kerasan tinggal di sini?" Tanyaku. Melepaskan keponakan satu-satunya itu memang agak berat mengingat bunda mengharap agar aku yang menjaganya. Ia satu-satunya peninggalan abangku. Lagipula dengan latar belakang mbak Lila yang sekarang tak memiliki pekerjaan membuatku khawatir dengan masa downa Alif. Jika ia ada di lingkungan yang bisa aku pantau, setidaknya, aku bisa membantu biaya hidupnya. Aku akan tahu apa saja yang dibutuhkan anak ini. "Mbak tersinggung dengan kata-kata ibu tadi?" tanyaku lagi, sebab tak ada jawaban dari mbak Lila.
"Bukan. Bukan itu Ben. Tapi aku hanya kepikiran saja. Bagaimana kalau Alif besar nanti dan yang ia tahu Yohana lah ibunya. Padahal Yohana bukan ibu kandungnya. Bagaimanapun Alif akan memakai nasab ibunya saat menikah nanti karena ia hadir sebelum ayah dan ibunya menikah. Apakah itu tak akan jadi beban untuknya nanti? Kalau Alif jauh dari Yohana maka ia akan bisa melupakan Yohana dan menerima mbak sebagai ibunya. Tapi kalau masih ada Yohana, ia akan selalu menganggap itulah ibunya. Sejak kedatangan Yohana, Alif terus menempel, meninggalkan aku. Alif juga enggan memanggilku ibu. Katanya, ibunya itu Yohana, bukan aku." Sepasang mata mbak Lila berkaca-kaca saat bercerita. Tersirat betul bagaimana ia cemburu pada Yohana sebab putranya lebih mengasihi dan menerima Yohana sebagai ibunya. Bagaimanapun juga, hatinya anak-anak biasanya begitu, yang mengasuhnya sejak kecil akan menjadi orang yang paling dekat dengannya.
Aku menarik nafas panjang. Memikirkan cara agar kedua ibu ini tak saling berperang batin. Mereka berdua sama-sama perempuan baik-baik dan untuk rasa sayangnya pada Alif, aku yakin Mereka sama-sama punya rasa sayang yang besar. Mbak Lila berhak mendapatkan kasih sayang dari Alif seperti yang ia berikan pada Yohana, bahkan harus lebih. Karena ialah yang sudah mengandung dan melahirkan. Tapi tak bisa juga mengabaikan pengorbanan Yohana. Sejak masih bayi merah, ialah yang mengurus Alif. Jadi, ia juga berhak mendapatkan baktinya. Tapi entah siapa yang harus aku menangkan.
__ADS_1
Sejak Yohana bertemu Alif, aku juga merasa kalau sikap mereka berdua membuat mbak Lila tersisih. Bahkan malampun, Alif maunya dikeloni oleh Yohana. Kadang kaishan juga melihat mbak Lila, tapi bagaimana lagi. di benak Alif, yang ia tahu Yohana adalah ibunya. Makanya ia menolak memanggil mbak Lila ibu, melainkan Tante.
"Aku ingin mulai semuanya dari awal Ben." Kata mbak Lila. "Aku memutuskan ini bukan sekedar karena perasaanku saja. Tapi untuk memberitahukan pada Alif juga siapa ibunya yang sebenarnya." Tambahnya. "Jadi, mohon izinkan ya."
"Mbak, bukan itu masalahnya. Tapi bunda sudah memesankan agar saya menjaga Alif. Bagaimanapun ia adalah satu-satunya peninggalan bang Sigit dan saya sebagai om satu-satunya wajib untuk menjaganya bahkan menafkahinya. Kalau mbak pergi bersama Alif, lalu bagaimana cara saya menjalankan amanah ini?"
Tak ada kesepakatan yang bisa aku buat bersama mbak Lila. Aku hanya bisa menjanjikan akan bicara dengan Yohana agar ia menahan diri, menjaga jarak dengan Alif. Bagaimanapun ada yang lebih berhak yaitu mbak Lila. Meski belum puas betul namun mbak Lila menerima keputusan ku.
***
"Tapi ... kalau aku terlalu sibuk, Bagaimana dengan Alif? Ia masih membutuhkan aku. Kami baru bertemu dan banyak waktu yang hilang yang harus aku terus dengannya. Jadi, bisakah pekerjaan itu dialihkan pada orang lain saja." pinta Yohana sambil menarik selimutnya.
__ADS_1
"Siapa? Ami? Dia kan akan mulai kuliah lagi."
"Hmmm, bagaimana kalau mbak Lila?"
"Sayang ... baiklah, biarkan aku bicara jujur apa adanya." Aku menarik nafas panjang, berharap apa yang akan aku sampaikan nanti tak membuatnya sedih apalagi kecewa. "Mbak Lila cemburu padamu."
"Hah? Kenapa?" Yohana tampak berpikir sejenak, lalu tiba-tiba ia menyadari. "Apa karena aku dekat dengan Alif?"
"Ya. Ia ingin diperlakukan sama seperti kamu oleh Alif. Tapi ketika ada kamu, Alif mengabaikan mbak Lila." Kataku, sambil mengecek ekspresi wajah Yohana untuk mengantisipasi perubahan suasana hatinya. "Sayang ... bagaimanapun juga mbak Lila itukan ibunya Alif. Apa tidak sebaiknya kita beri mereka kesempatan untuk dekat. Biarkan mbak Lila yang mengurus Alif dan kamu juga ajari Alif untuk mengenal mbak Lila sebagai ibunya." Kataku, pelan.
"Oh, begitu ya. Maaf kalau aku sudah membuatnya tak nyaman. Tapi kalau harus menjauhi Alif aku agak sulit. Aku ...." Yohana tak sanggup melanjutkan, namun aku paham isi hatinya. Ia sangat menyayangi Alif, sudah seperti anaknya sendiri. Bagaimana tidak, kan ia yang menjaga Alif sejak kecil. Tapi aku juga tak bisa membiarkan Alif mengabaikan ibu kandungnya. "Maafkan aku, aku akan berusaha agar tak menyakiti siapapun." Kata Yohana sambil terisak. Ia berbaring membelakangi aku, menutup hampir semua tubuhnya dengan selimut, lalu terdengar suara Isak tangis.
__ADS_1
"Han, maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya ingin ...."
"Kamu baru saja melakukannya. Aku memang bukan ibunya. Aku nggak berhak apa-apa terhadap Alif. Aku hanya punya kewajiban mengurusnya ketika ibunya tak ada, saat ibunya kembali maka aku harus mengembalikan Alif. Aku benar-benar hanya sebatas pengasuh!. Tapi sekarang karena ibunya sudah ada maka aku benar-benar tak punya kewenangan atas Alif." Ia menutup pintu komunikasi, larut dalam tangisnya. Malam ini, aku benar-benar tak diberi kesempatan untuk berbicara. Ia sudah membuat sebuah kesimpulan dengan dirinya sendiri, kesimpulan yang tentunya aku yakin tak seperti bayangan