
Yanuar, itu nama anak laki-laki sulung pak Diki. Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi tentangnya, kemungkinan lelaki itu berada di salah satu pondok pesantren kecil di daerah Parung Bogor.
Sampai di sana, benar saja aku menemukan laki-laki itu. Waktu ku ceritakan siapa aku dan tujuanku, lelaki yang memang dasarnya baik itu bisa memaafkan dengan ikhlas, namun ia belum bisa pulang sebab ayahnya sendiri yang mengusir mas Yanuar.
"Bapak sangat kecewa dengan saya yang berhenti kuliah, Ben. Makanya bapak tak mau saya kembali lagi. Tak ada jalan lain selain mengikuti kehendak bapak sebab saya tak ingin menjadi beban dan penyakit di hatinya." ucap mas Yanuar.
Kondisi yang sama denganku dahulu. Ingin sekali pulang, tapi sampai di rumah malah dicuekin habis-habisan. Bahkan kadang diusir karena memang kehadirannya tak diinginkan.
"Saya mengerti mas, tapi mau kan mas mencoba sekali saja. Mungkin hati pak Diki sudah luluh. Dahulu ia mengusir tak bermaksud begitu, hanya karena kecewa saja dengan keputusan mas yang sebenarnya mungkin itulah terbaik." kataku.
Lagi-lagi aku bersyukur, betapa baiknya Tuhan padaku. Mas Yanuar janji akan pulang jika adiknya Puji juga pulang. Rasanya hambatan -hambatan itu satu persatu telah hilang. Aku hanya bisa mengucap syukur.
"Dimana kira-kira saya bisa menemui Puji, mas?" tanyaku lagi.
Mas Yanuar menulis sebuah alamat yang kembali membuatku mengernyitkan dahi. Alamat ini adalah tempat yang terkenal sebagai dunia malam. Jadi benar apa yang dikatakan ayahnya bahwa Puji sekarang menjadi perempuan malam?
Tak ingin berprasangka terlebih dahulu, mengingat Puji mengenakan hijab dan cukup religius sebelumnya, makanya aku memacu motor tuaku menuju tempat yang disebut abangnya. Saat azan Maghrib berkumandang, aku memilih untuk berhenti terlebih dahulu untuk melaksanakan salat.
Sudah lama aku tak berjamaah. Padahal begitu banyak masalah hidup yang datang, harusnya membuatku makin dekat dengan Allah. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis di atas sajadah, menyesali kelalaianku.
Usai salat, seseorang menepuk pundakku. Genta, rupanya ia juga sedang salat di sini, seingatku rumahnya memang di sekitar sini.
"Kamu mau kemana, Ben?" tanya Genta.
Aku menyerahkan secarik kertas yang diberikan mas Yanuar padaku. Melihat itu Genta langsung terbelalak, ia mengucap istighfar beberapa kali.
__ADS_1
"aku tahu pasti ada hal penting yang membuat kamu harus ke sini, Ben. Aku paham kamu, pasti bukan untuk aneh-aneh tho?" tebak Genta.
"Aku harus mencari seseorang Gen, namanya Puji." kataku.
"Puji?" Genta seperti kaget, tapi ia segera menggeleng.
"Ya, Gen. perempuan yang harus ku antar pulang sebab ia yang akan menjadi tiket untuk ayahnya agar mau memaafkan Abah." aku menceritakan kembali secara singkat masalah yang menimpa keluargaku. Genta mengangguk -angguk.
"Aku paham, Ben. Kalau boleh, aku bisa menemani kamu malam ini karena masuk ke sana sendiri apalagi untuk mencari pekerja sana sangat berbahaya. Lagipula nama itu mengingatkan aku akan seseorang yang sudah lama aku cari." tambah Genta.
Dikawal oleh seorang pengacara muda adalah rezeki yang tak bisa ditolak. Kami berdua sama-sama berangkat naik mobil Genta, sementara motorku ditinggal di rumahnya.
***
Suasana rumah bordil cukup horor untukku dan Genta yang benar-benar tak suka dengan perempuan terbuka. Tapi Genta yang sudah biasa dengan penyelidikan bisa dengan cepat menyesuaikan diri. Baru datang, lima orang perempuan dengan pakaian terbuka langsung menyambut kami.
"Ini temannya aku yang temani saja ya mas, aku juga bisa ngehibur, jadi teman ngobrol juga asyik, disuruh apa saja bisa. Untuk mas yang ganteng bayar sepatuh saja." kata yang lainnya sambil meraih lenganku.
Mati aku. Wudhuku bisa batal. Aku melirik Genta dengan tatapan memelas. Untungnya Genta cepat beraksi, ia memilih satu perempuan dan mengatakan kalau aku belum pernah memakai jasa seperti mereka, jadi masih malu-malu, makanya aku diminta menemani Genta dan perempuan yang dipesannya.
"Oke, sebenarnya saya pengen teman saya ini ditemani orang lain, soalnya dia jago dan pasti bisa ngajarin teman saya." kata Genta, pura -pura genit.
"Namanya siapa mas? Nanti bisa aku panggilin." katanya dengan manja.
"Puji." jawab Genta.
__ADS_1
"Puji? Hah?" perempuan itu tercengang, lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. "Ngarang mas ini, atau jangan-jangan mas bukan pelanggan sini ya? Puji mah pelayan, bukan perempuan kayak kami-kami ini." katanya. Tiba-tiba ia tersadar kalau kami sedang menjebaknya, makanya ia hendak bangkit dan pergi, tapi Genta menahannya sambil memberi beberapa lembar ratusan ribu.
"Tolong bawa Puji ke sini, kalau mbak bisa mengeluarkannya maka saya bisa kasih lebih " kata Genta.
Perempuan yang memang bekerja untuk uang itu tak menolak, ia segera masuk, kami harus menunggu selama lima belas menit hingga akhirnya ia keluar dengan orang yang ku cari.
Dunia benar-benar sempit, Puji ternyata adalah gadis yang dikenal sekaligus ditaksir oleh Genta. mereka bertemu secara tak sengaja saat Genta sedang menyelesaikan sebuah kasus, sayangnya setelah itu Puji menghilang. Genta mencarinya kemana-mana namun tak kunjung bertemu, ia nyaris menyerah hingga akhirnya hari ini dipertemukan juga.
"Aku sudah yakin, suatu saat, entah itu kapan kita pasti ketemu." kata Genta, sambil mengusap kepala Puji
"Kenapa mencari? Kan sudah ku katakan, mas nggak usah mencariku lagi. Aku sudah tak punya masa depan, mas. Aku sudah memilih jalan hidupku sendiri!" kata Puji dengan penuh emosi sambil berurai air mata.
Genta menceritakan tentang aku yang mencarinya. Juga tentang Abah dan ayahnya. Mendengar itu Puji langsung naik darah. Tapi Genta menenangkan, mengatakan kalau akupun sama sepertinya menjadi korban ayahku.
"Pulanglah Ji," pinta Genta.
"Aku nggak mau mas, bagaimana kalau Abah menolak ku? Abah sudah beranggapan kalau aku Perempuan tak benar hanya karena aku bekerja di sini, tapi aku disini nggak menjual diri, aku bekerja sebagai pelayan karena memang ini pekerjaan yang aku dapatkan!" kata Puji.
"Ada aku dan Ben yang akan menemani kamu, Ji." kata Genta.
"Juga mas Yanuar." kataku, yang memang sejak awal tak banyak bicara. Hanya menjadi pengamat mereka berdua.
"Mas Yanuar juga benci aku. Ia juga sama seperti Bapak. Mereka merendahkan aku padahal aku bekerja untuk mengumpulkan uang demi bisa lanjut kuliah." Puji mengadu pada kami.
Aku dan Genta berjanji akan selalu ada untuk Puji. Kami akan bicara dengan keluarganya.
__ADS_1
Hidup ini benar-benar misteri, tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya akan bertemu dengan orang-orang yang ceritanya tak kalah rumit dariku sebab kisahku pun menurutku sudah sangat melelahkan.