
"Ayahnya dimana?" Pertanyaan tidak penting itu langsung keluar begitu saja, melihat dua anak yang entah usianya berapa, yang jelas mereka sangat kurus. Seperti kurang gizi, tapi kalau dilihat dari kehidupan mereka wajar saja anak-anak ini kurang gizi.
"Hah? Itu ... sedang pergi ke ibunya." kata Yohana.
Jadi, laki-laki itu masih berhubungan dengan mantan istrinya? Aku menyunggingkan senyum sinis. Sebenarnya bisa saja berpikir positif, wajar mereka bertemu, mungkin ada hal yang ingin dibahas, toh mereka memang masih harus menjaga silaturahim sebab sudah punya dua anak yang harus terus dikomunikasikan. Tapi aku tak paham dengan hati Yohana, mengapa ia terlihat biasa saja? Apakah ia benar-benar mencintai suaminya itu? Laki-laki kasar yang tidak punya perasaan tersebut, atau ia terpaksa menikah karena sudah tak bisa mengelak permintaan paman dan bibinya selaku walinya.
"Kamu tidak ikut?" Tanyaku.
"Tidak. Lagipula untuk apa? Aku harus menjaga Upik dan Puti." Jawabnya, sambil memandang jauh kedeoan, seolah menerawang masa depan.
"Han, bolehkan aku tahu, apakah kamu bahagia menjalani ini semua?"
"Aku baik-baik saja, Ben."
"Kamu mendapatkan beban dua anak ini. Mengasuh mereka pasti bukan hal yang mudah." Aku geram, tak suka semuanya dilimpahkan lelaki itu pada Yohana.
"Apa bedanya dengan saat aku mengasuh Alif?" Kata Yohana, membuatku kami sama-sama terdiam sesaat. "Ben, maaf. Maksudnya. Apa kabar Alif? Aku benar-benar rindu dia. Apa kamu punya fotonya? Aku sangat ingin bertemu dengannya, sayangnya sekarang jarak kami begitu jauh. Ben, apa kamu tahu, aku sampai mimpi-mimpi dan sempat demam sebab merindukan Alif. Apa ia juga merindukan aku?"
"Maafkan kami ya Han. Aku benar-benar menyesal sudah membebani kamu."
"Tidak apa-apa. Justru aku yang harusnya minta maaf. Kadang, karena terlalu banyak beban di hati ini, jadi lebih gampang emosi. aku benar-benar gampang tersulut." Kata Yohana sambil tertawa kecil.
"Han, kamu pasti lelah. Oh ya, ngomong-ngomong, apakah kamu mau liburan denganku?"
"Liburan? Maksudnya bagaimana Ben?"
"Akhir pekan nanti aku ingin ke Bukittinggi, katanya di sana pemandangan bagus sekali, banyak tempat wisata juga. Kamu mau ikut denganku?"
"Tidak bisa, Ben. Aku harus menjaga Upik dan Puti "
"Mereka juga ikut, Han. Bagaimana?"
__ADS_1
Yohana terdiam sebentar, ia tengah mempertimbangkan banyak hal, lalu diluar dugaan aku ia menganggukkan kepala dengan alasan ia butuh mengajak anak-anak keluar agar tak terlalu terkurung.
"Alhamdulillah. Oke, besok hari Minggu aku jemput kalian ya." Kataku
"Tidak usah Ben, kita ketemu di dekat lapangan saja
***
Lagi-lagi aku meminjam uang pada Reni untuk biaya jalan-jalan kami akhir pekan ini. Sebab aku belum gajian, lagipula gajiku akan dipotong langsung untuk melunasi hutang Yohana pada pak Zainal. Sementara itu uang yang ku pinjam diawal pada Reni sudah habis untuk membeli pakaian, makanan dan membantu Yohana melunasi hutang-hutangnya.
[Tumben sekali kamu boros, Ben? Biasanya sangat hemat sekali. Tapi aku tak masalah kamu meminjam. Aku juga tak akan meminta untuk dikembalikan.] kata Reni diujung telepon.
[Iya Ren, aku harus melunasi sesuatu yang sangat penting. sebenarnya ada yang belum aku beritahu.] kataku, saat aku meneleponnya.
[Apa?]
[Aku sudah menemukan Yohana.] Reni diam. Aku sampai memanggilnya beberapa kali barulah akhirnya ia menyahut. [Ren, apa kamu mendengarkan? Apa di sana sinyalnya bagus? Disini sih bagus.]
[Ren, kamu tahu. Aku benar-benar bahagia sekali. Akhirnya aku menemukan Yohana tanpa perlu bersusah patah mencarinya. Ia yang datang sendiri. Tuhan mengabulkan permohonan aku.]
[Maksudnya bagaimana, Ben?]
[Yohana bekerja di perusahaan yang sama denganku.]
[Hah, bagaimana mungkin?]
[Ya, begitulah Ren. Skenario Tuhan memang benar-benar luar biasa.!]
[Lalu bagaimana ceritanya ia bisa bekerja di sana? Bukannya ia hanya lulus SMA??
aku menceritakan semuanya pada Reni. Tentang pertemuan kami yang pertama kali bertemu. Rahasia Allah memang luar biasa. Siapa sangka kini kami bisa bertemu setiap harinya. Padahal awalnya aku mengira akan sangat rumit mencari Yohanq tanpa alamat yang jelas.
__ADS_1
[Ren, sepertinya bicaranya sudah dulu ya. Aku harus melanjutkan pekerjaan.] Kataku.
[Ya Ben.] ia yang semula ceria berubah jadi lesu. Tapi karena sibuk dengan cerita tentang Yohana, aku jadi tak memperhatikan Reni.
Hanya dalam hitungan menit, uang yang dijanjikan Reni masuk ke rekeningku. Aku tersenyum bahagia.
***
Minggu pagi, usai salat Subuh, aku sudah bersiap mengambil mobil yang sengaja ku carter untuk jalan-jalan tentunya dengan bantuan pak Zainal yang sudah hafal segala hal di sini.
Mobil telah ready. Aku juga sudah membeli dua kantong makanan dan minuman untuk bekal di jalan nantinya. Pukul tujuh pagi, aku langsung tancap gas menuju lapangan tempat kami janjian. Hampir satu jam aku menunggu, akhirnya Yohana datang bersama Upik dan Puti datang juga.
"Maaf ya Ben, terlambat beberapa menit karena tadi harus mengakali ayahnya anak-anak dulu supaya ia tak curiga." kata Yohana, sambil mengangkat tas cukup besar berisi perlengkapan mereka.
"Ada masalah, Han?" Tanyaku, khawatir ia kenapa-napa.
"Enggak apa-apa, cuma kalau aku minta izin pasti di larang. Ayahnya Upiqk dan Puti paling tidak suka kalau kami keluar-keluar kecuali untuk urusan uang, barulah ia akan bersedia. mengizinkan."
Yohana, bagaimana sebenarnya kehidupan kamu? Kenapa seolah-olah tanggung itu sepenuhnya dipikulkan pada kamu padahal kamu bukan ayah atau ibunya. Aku benar-benar mencekam lelaki yang disebut ayah itu. Ia yang harusnya menjadi contoh untuk anak-anaknya.
Hari ini kami harus bahagia. Aku memutuskan melupakan sejenak cerita Yohana dan kembali fokus pada liburan ini. kami akan menuliskan bagaimana bahagianya mereka saat jalan bersamaku.
Yohana baru saja mengatur tempat duduk Upik dan Puti. Setelah selesai, ia hendak duduk di belakang bersama anak-anak. Tetapi aku memintanya untuk duduk di sampingku di depan dengan beralasan kalau sendiri seolah-olah aku adalah supir mereka, tapi kalau Yohana mau duduk di depan maka kami akan seperti Keluarga bahagia.
Yohana tertawa.
"Semua sudah siap? ayo kita berangkat!" kataku, sambil memimpin pembacaan doa. Diikuti oleh Yohana dan anak-anak.
Andai saja orang yang melihat tidak tahu bahwa aku dan Yohana bukan suami istri, mereka pasti mengira kami pasangan sebab indahnya pemandangan yang kami buat. Kekompakan kami berempat. Seperti ayah, ibu dan anak-anak. Apalagi kami sama-sama memakai pakaian dengan nuansa biru muda. Seperti memakai seragam layaknya keluarga sesungguhnya.
Sepanjang perjalanan, anak-anak saling berganti bercerita. Mereka terlihat bahagia sekali.
__ADS_1