
[Han, kenapa pesan-pesanku tidak dibalas? Pagi ini kenapa kamu tidak masuk? Ada yang ingin aku sampaikan.] aku kembali mengirimkan pesan pada nomor Yohana. Entah sudah berapa pesan dan tak ada jawaban sama sekali. Khawatir ia tak punya pulsa, makanya aku menelepon beberapa kali, tapi nomornya tidak aktif.
Kamu dimana sih, Han? apa kamu baik-baik saja? Aku begitu khawatir, sejak kemarin sore tak ada kabar darinya. Ketika ku tanya pak Zainal, katanya tak ada pesan dari Yohana. Ia tidak izin, tetapi bolos kerja.
Untuk menjawab semua tanya ini, rencananya nanti saat pulang kerja aku akan mendatangi kosan Yohana. Mungkin ia sedang ada masalah, atau keponakannya Upik atau Puti sakit, makanya tidak bisa memberikan kabar.
"Ben, dipanggil!" salah seorang karyawan mengatakan aku dipanggil oleh manager kami, pak Hasan. Aku langsung menuju ke ruangan atasanku langsung tersebut, ternyata di sana sudah ada beberapa orang manager dan supervisor.
"Ada apa ya pak?" Tanyaku, khawatir ada pekerjaan yang tidak beres sebab sebelumnya banyak libur mengurus Reni dan Bre.
"Kamu tahu kenapa dipanggil ke sini?" Kata pak Khai, ia supervisor di kantor ini. Mengurus masalah lapangan. Aku menggelengkan kepala. "Kamu kan yang mengirim data-data tentang kantor ini ke wartawan?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Sebenarnya aku agak kaget, kenapa mereka menuduhku langsung. Padahal ada beberapa orang yang langsung berurusan dengan data-data tersebut. Tak ingin mengundang kecurigaan, makanya aku bersikap tenang agar tak mencolok. "Data yang mana ya pak? Saya nggak mengerti? Saya tidak pernah mengirimkan data apapun pada wartawan?" Kataku. Aku tak berbohong sebab data itu ku kirim pada Genta, ia lawyer bukan wartawan!
__ADS_1
"Tidak usah berbelit-belit, Ben. Kami punya bukti kalau kamulah orangnya. Iya, kan? Mengakulah sekarang atau kamu akan kehilangan pekerjaan!" kini pak Hasan yang mengancam ku.
"Saya benar-benar tidak paham apa yang sedang bapak-bapak bicarakan. Kenapa juga saya yang dituduh? Apa kesalahan saya?" Aku balik menegaskan karena sangat yakin apa yang kulakukan sangatlah rapi. Tak mungkin ada yang tahu dan Genta juga tak mungkin membocorkan rahasia kami. Ia adalah seorang pengacara profesional, yang berjuang untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi
Bruk. Satu tumpuk kertas prin-prinan di lempar ke atas meja yang berada tepat di hadapanku. Dalam kertas itu ada data dari laptopku. Aku tersenyum sinis, ada yang diam-diam mengkopi data di laptopku. Tapi siapa? Aku jarang meninggalkan laptop di kantor kecuali untuk makan siang dan itu juga dengan rentang waktu yang relatif singkat. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa tahu bahwa akulah informan itu?
"Sekarang kamu sudah tak bisa mengelak, kan?" Ejek pak Khai. "Kamu sudah melanggar aturan di kantor ini, menyebarkan data tanpa izin hingga membuat keributan pada karyawan pabrik dan para petani. Kamu bisa kena pidana. Paham?"
"Tapi tenang, Ben. Kami bisa mengampuni asalkan kamu menarik semua datanya, memberitahu kami siapa otak yang mengendarai kamu, lalu kamu tinggal klarifikasi kemudian mengundurkan diri!" Tegas pak Hasan.
"Hahahaha, jadi kamu mengancam kami, Ben? Kamu tahu siapa dibalik kami? Orang besar yang punya jabatan dan uang. Untuk melenyapkan orang seperti kamu sangat mudah, Ben. Jadi berhentilah menyanyi atau kamu akan hilang secepatnya!" Tantang pak Hasan
"Kita lihat saja siapa yang akan hilang!" Balasku. Sebenarnya aku tak terlalu yakin bisa melawan mereka semua apalagi tanpa kekuatan apapun, tapi sudah kepalang basah, setidaknya aku harus pura-pura berani agar tak diinjak-injak.
__ADS_1
"Ben Ben. Kamu itu masih sangat muda. Kami ingatkan untuk berhati-hati. Atau keluar dari sini kamu tak akan mendapatkan pekerjaan di manapun lagi!" Tegas pak Hasan. "Cabut semuanya atau kamu akan mendapatkan balasan. Saya tidak main-main, kamu hanya punya waktu satu kali dua puluh empat jam Dari sekarang!"
Aku tak peduli, segera berlalu dari ruangannya. Begitu sampai di ruang legal, semua mata tertuju padaku. Mereka seolah tahu tentang apa yang barusan terjadi, tapi salah satu darinya berbisik agar aku melihat grup kantor dan betapa terkejutnya aku saat mendapati berita tentang kedekatan ku dengan Yohana.
"Mereka bilang kamu selingkuh dengan cleaning servis di mes, apa itu benar, Ben? Bukankah istrimu ada di sini? Ia baru melahirkan, kan? apa kamu gak memikirkan bagaimana perasaan istrimu?" Tanya salah satu karyawan yang cukup dekat denganku. Namanya Satrio, ia juga dari Jakarta, tapi beda almamater denganku. "Ben, aku juga pernah nakal, Hampir semua kenakalan aku lakoni, tapi ketika aku menikah dan punya anak, semua itu aku tinggalkan. Aku memutuskan setia dengan satu perempuan untuk memberikan kenyamanan pada diri sendiri dan juga menjaga kehormatan serta hati anakku nantinya. Seperti apapun godaan wanita, aku elakkan karena aku tahu akhirnya kalau diikuti hanya akan membuat rugi diie sendiri!"
"Ini gak seperti yang kalian pikirkan. Lagipula Yohana itu adik amgkatku." Kataku, sejujurnya aku tak suka dengan berita yang ada di grup kantor itu. entah siapa yang menghembuskan gosip pertama kali, tapi aku sangat terganggu!
"Maksudnya adikmu, bagaimana Ben?" Satrio semakin penasaran. Ia benar-benar ingin tahu bagaimana hubunganku dengan Yohana.
"Ia diangkat oleh orang tuaku saat kami masih kecil, ia adalah kakak iparku. Aku sampai ke sini juga untuk mencarinya yang sempat hilang. Jadi apa salahnya kalau aku dekat dengan saudara amgkatku? Lagipula istriku mengenalnya dan rasanya tak ada masalah." Kataku.
"Oh begitu ya?" Satrio mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia memahami posisi kami berdua. Wajar jika dua saudara yang baru bertemu kembali jadi akrab. Satrio bahkan menawarkan diri untuk menjelaskan pada orang-orang tentang hubunganku dan Yohana yang sesungguhnya untuk menghindari gosip semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Belum selesai kami berbincang, bagian HRD memanggilku. Aku kembali harus menghadap ke manager HRD. Panggilan itu membahas tentang gosip di grup kantor. Aku mendapat peringatan pertama agar tak lagi melakukan kesalahan yang sama, sementara itu pihak HRD juga mengabari bahwa Yohana dipecat atas masalah ini.
"Apa, dipecat?" Mendengar kabar itu, aku langsung pergi meski pihak HRD belum selesai bicara. Aku sudah tak peduli, aku hanya ingin tahu bagaimana Yohana saat ini, pantas saja pagi ini ia tak datang ke mes, pantas juga ia tak menjawab telepon ataupun pesanku. Ia pasti sangat sedih kehilangan pekerjaan ini sebab baginya pekerjaan ini sangatlah berarti untuk menghidupi dirinya dan kedua keponakannya; Upik dan Puti.