Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Reni Sakit


__ADS_3

Baru saja selesai sarapan, pintu kamar di ketuk. Aku buru-buru keluar, sembari berusia berangkat kerja. Awalnya kupikir itu adalah pak Zainal yang ingin memberikan kabar tentang penginapan, tapi ternyata Yohana. Ia berdiri di hadapanku sambil tersenyum, begitu melihatku, ia langsung memberikan bungkusan yang dibawanya.


"Apa ini, Han?" tanyaku, sambil membukanya, ternyata lontong sayur yang jadi favoritku. Lengkap dengan bakwan udang dua potong. Aku yang sudah pernah merasakan lontong ini sebenarnya ingin menyantap tapi saat ini perutku sudah terlanjur kenyang karena sarapan bersama Reni.


"Makanlah Ben. Ini kami beli sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah mengajak aku dan anak-anak jalan-jalan." Katanya, sambil tersenyum malu-malu.


"Ben, siapa?" Reni muncul dari dalam. Mendadak wajah kedua perempuan itu berubah. Yohana yang awalnya tersenyum langsung pudar senyumnya, begitu juga dengan Reni yang cemberut. Muka mereka benar-benar tak sedap dipandang.


"Hei, ini, kalian sudah saling kenal sebelumnya kan. Sini aku perkenalkan. Ini Yohana, dan ini Reni." kataku, memperkenalkan mereka berdua. Tapi tak ada tanggapan. Dua-duanya sama-sama diam. Ketika aku ingatkan lagi barulah keduanya berjabat tangan. Itu pun tak ada basa-basi seperti orang lain ketika berkenalan. Mereka diam seribu bahasa. "Maaf Han, aku sudah sarapan. Tapi ini akan aku bawa ke kantor untuk makan siang " kataku


"Eh, kalau sudah sarapan tidak apa-apa Ben, biar aku bawa saja, siapa tahu ada teman-teman yang belum makan." Kata Yohana, ia merebut bungkusan di tanganku dengan cepat. Lalu oanut pergi, tapi tak jadi sebab aku menahannya. Aku ingat Yohana tinggal di sekitar lingkungan sini, barangkali ia tahu tentang kontrakan yang agak lumayan untuk tempat tinggal Reni hingga orang tuanya datang menjemput.


"InshaAllah nanti akan aku carikan, Ben." kata Yohana, masih dengan kepala tertunduk.


"Oh ya, bagaimana dengan anak-anak? Maksudku, apa mereka suka jalan-jalannya?" tanyaku, mengingat anak-anak yang kemarin terlihat bahagia saat jalan-jalan. Aku belum tahu kabar mereka pagi ini, apakah mereka baik-baik saja setelah seharian kemarin beraktivitas


"Anak-anak terbiasanya untuk aktif kok Ben, jadi jalan-jalan kemarin tidak jadi masalah untuk mereka." Kata Yohana lagi. Setelah itu ia benar-benar pamit, saat aku panggil ia juga tetap abai.

__ADS_1


"Kamu kemarin jalan-jalan, Ben?" Tanya Reni, yang masih berdiri menunggui aku yang bersiap berangkat ke kantor.


"Ya, nyari hiburan." Kataku.


"Nyari hiburan? Oh, jangan-jangan uang yang kamu pinjam itu untuk jalan-jalan denganny?" Reni sewot. Membuatku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.


"Kenapa Ren? Kan aku hutang, nanti kalau sudah ada uangnya akan aku kembalikan." Kataku


"Aku enggak masalah dengan pinjaman kamu, Ben. Bahkan aku sudah ikhlas, hanya saja aku heran, kenapa juga kamu harus jalan-jalan sama Perempuan itu? Seperti tak ada kerjaan saja! Kamu ke sini kan untuk bekerja bukan main-main!".


"Apa sih Ren? Terserah aku dong. Lagian kan aku liburannya diakhir pekan, nggak ada masalah dengan pekerjaan. Lagian kalau soal hutang nanti akan aku bayar. Enggak malah jukid begitu. Bikin kesal saja!" aku langsung berangkat ke kantor tanpa pamit pada Reni. Biar dia tahu kalau aku kesal padanya. Lagian aku mau apa juga terserah diriku sendiri. Baru saja baikan sekarang kami kembali tidak akur.


***


Jam makan siang, aku masih asyik di depan komputer. Saking transfer data untuk Genta. Hingga tiba-tiba pak Zainal datang kr ruangan mengabarkan tentang Reni yang tengah sakit. Karena tak bisa meninggalkan komputer dalam keadaan menyala sebab khawatir ada yang mengetahui apa yang sedang aku lakukan, makanya ku minta pak Zainal menyuruh salah satu cleaning servis atau siapapun untuk menemani Reni, tak lupa ku beri ia dua lembar uang seratus ribu. Penjaga mes itu akhirnya pergi dengan senyum lebar karena mendapatkan fee yang lumayan.


Di perusahaan ini, aku belum tahu betul siapa yang bakal menjadi teman atau lawan, makanya ku putuskan menyimpan semuanya sendiri sampai terang benderang.

__ADS_1


***


Pukul lima sore, aku kembali ke mes. Di sana tak ada Reni. Kata pak Zainal, Reni dirawat di klinik, Yohana yang mengantarkan dan menjaganya. Mendengarnya aku langsung menyusul, sebenarnya bukan untuk Reni, tapi Yohana. Hampir setengah hari ia di sana, pasti repot juga, ditambah juga mereka sepertinya tidak cocok sebab dua kali bertemu sama-sama dingin.


Benar saja, sampai di klinik, Yohana ada di sana. Ia duduk termenung di depan kamar tempat Reni dirawat dengan raut wajah sendu. Waktu melihatku, Yohana hanya diam.


"Bagaimana keadaannya?" tanyaku pada Yohana, sebelum masuk ke kamarnya.


"Alhamdulillah sudah baik, hanya kelelahan." Kata Yohana. "Tapi karena kondisinya lemah, makanya bidan menyarankan agar mbak Reni dirawat di sini dulu untuk observasi." tambahnya.


"Oh begitu. Terimakasih ya Han, kami sudah merepotkan kamu." kataku


"Enggak apa-apa Ben, selamat ya sebentar lagi kamu akan punya anak. Aku pamit dulu, Upik dan Puti pasti sudah menunggu." Katanya, lalu pergi meninggalkan klinik. Setelah ia menghilang dari pandangan, barulah aku masuk ke ruangan tempat Reni di rawat.


"Ben, kamu sudah datang?" perempuan itu berusaha bangkit, tapi terhalang infus di tangannya.


Aku benar-benar tak paham dengan jalan pikiran Reni, kenapa ia harus seperti ini. Ia yang dahulu sungguh berbeda dengan yang sekarang. Reni benar-benar seenak hatinya, tak memikirkan anak yang tengah ada dalam perutnya. Sudah tahu apa yang ia lakukan berbahaya, tapi tetap saja dia datang ke sini. Sekarang kalau sudah begini aku yang bingung, mau membawa ke kota juga berbahaya, dipulangkan tidak bisa, orang tuanya pun tak bisa menjemput.

__ADS_1


"Ben," Reni kembali memanggil.


__ADS_2