
Ini hari pertama aku masuk kerja setelah sepekan berada di negeri Ranah Minang. Pagi-pagi, aku sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari peralatan tulis, buku, UU dan tentunya laptop sebagai senjata utamaku saat bekerja. Baru hendak keluar dari pintu kamar, tetapi langkah ini terhenti sebab Yohana berada tepat di depan pintu. Ia sepertinya sedang bimbang, apakah harus mengetuk pintu atau tidak sebab gerakan tangannya yang terangkat.
"Hei Han, sudah datang? Mau membereskan kamarku? Kan sudah ku katakan, khusus kamarku tak perlu dibereskan, aku sudah membereskan semuanya sendiri. Tuh lihat saja, sudah rapi, kan? Meski nggak sebersih kalau kamu yang beresin, tapi lumayan lah. Ya kan!" Kataku, sambil membuka setengah pintu agar Yohana bisa melihat kondisi kamar yang sudah ku rapikan sejak pagi, bahkan tong sampah juga sudah aku buang.
"Iya Ben, aku ingat kok. Aku hanya harus datang sekali sepekan, kan?" katanya. "Tapi aku ke sini bukan untuk itu." tiba-tiba ia menyodorkan bungkus kresek berukuran sedang yang semula tersimpan di belakang badannya. "Ini, aku bawakan sarapan. Biasanya kantin kantor baru buka jam delapanan. Sepagi ini jarang ada yang buka di sekitar sini, kecuali kamu jalan ke pasar kecil itu." Kata Yohana lagi. "Aku tahu kamu nggak akan kuat nahan lapar terlalu lama, Ben. Jadi sarapan dulu ya."
Aku mengambil bungkusan yang diberikannya. Lalu mencium aroma gulai dari dalamnya. "Ini pasti lontong Padang. Iya, kan?" tanyaku. "Gulainya apa?"
"Gulai nangka, kesukaan kamu, Ben."
"Alhamdulillah, rezeki anak salih." Kataku. "Besok kamu nganterin sarapan lagi?"
Ia tertawa. "Ya enggaklah. Bisa tekor aku nanti."
"Terus aku sarapan apa dong besok?"
"Nanti sore beli susu dan roti. Kamu sarapan pakai itu saja. Atau dengan sereal. Gampang kan?" ia lalu berlalu tanpa peduli lagi padaku.
__ADS_1
Yohana, perempuan berdarah Minang itu ternyata masih sangat perhatian padaku. Ia bahkan rela sepagi ini datang hanya untuk mengantarkan sarapan untukku. Aku yang semula tersenyum melihatnya tiba-tiba terdiam. Senyum itu sirna saat melihat pakaian yang ia kenakan. Lagi-lagi aku terlambat menyadari bahwa ia datang dengan pakaian yang amat lusuh. Mengenakan gamis yang bahkan sudah ada dua tambalan di sisi lengan dan rok bagian bawahnya.
Apa hidupmu benar-bemar sempit, Yohana? Atau kamu saja yang memang tak suka belanja seperti dahulu.
Aku tak tahu bagaimana kondisi Yohana setelah ia menikah hingga meninggalkan rumah kami. Apakah ia memang sudah selusuh itu atau baru berubah sejak di sini. Hanya saja, pemandangan itu membuat mataku berkaca-kaca.
***
[Ren, apa kabar?] aku menyapa Reni saat panggilan telepon sudah terhubung. Aku sengaja menghubunginya di jam istirahat untuk meminta bantuan.
[Ren, sebenarnya aku ingin minta tolong padamu.] kataku.
[Apa Ben? Katakan saja, aku pasti akan berusaha untuk mengabulkannya.]
[Ren, boleh aku pinjam uang kamu? Sekitar dua bulan lagi pasti akan ku kembalikan. Aku sedang butuh, sekarang sedang banyak pengeluaran.] kataku, tanpa berpanjang lebar. Sebenarnya tak enak jika harus meminjam dana pada Reni, meski ia sering menawarkan. Tapi aku tak punya pilihan lain sebab hanya ia rasa-rasanya kenalan dekat yang bisa memberikan pinjaman. Minta pada bunda, khawatir akan membuatnya jadi cemas padahal saat ini bunda sedang menghandle semua keperluan rumah tangga termasuk pengobatan Abah yang tak bisa terlambat apalagi sampai absen.
[Tentu saja boleh. Kamu butuh berapa? Aku kirim sekarang!] Kata Reni.
__ADS_1
Setelah menyebut sejumlah nominal dan ia tak keberatan aku sedikit berbasa-basi lalu menutup panggilan ini. Hanya dalam hitungan menit, sejumlah uang yang telah kami sepakati masuk ke rekening. Aku tersenyum puas.
Jam kerja yang masih setengah waktu lagi kini terasa lama sebab daftar belanjaan itu sudah ada di benakku. Makanya ketika pekerjaan pertama datang, aku mengerjakan dengan uring-uringan.
"Kerjakan semua ini dengan baik ya pak Ben. Ingat, tiga bulan pertama adalah masa uji coba anda sebelum menjadi karyawan tetap di sini. Kalau anda tidak serius maka masih banyak orang-orang di luar sana yang menginginkan posisi anda!" kata pak Hasan selalu manager di atasku langsung.
Aku hanya mengangguk-angguk. Merasa bersyukur karena kembali diingatkan. Kalau saja tadi mengikuti suasana hati, sudah pasti pekerjaan ini akan diselesaikan asal-asalan.. akibatnya, aku hanya dipertahankan tiga bulan, setelah itu kehilangan pekerjaan yang berarti harus kembali ke Jakarta dan kembali jauh dari Yohana. Padahal aku sangat ingin selalu dekat dengannya, apalagi dalam kondisi saat ini, hidupnya dalam penderitaan, ia pasti berharap ada yang melindunginya.
"Ingat Ben, kamu harus kerja sungguh-sungguh agar bisa bertahan. Dengan gaji yang lumayan tinggi kamu harusnya bersyukur tak perlu lama mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan bonus dekat Yohana!" kataku, mengingatkan diri sendiri.
Kontrak kerja. Beberapa kali aku mengulang membuka lembar demi lembar perjanjian kerja para buruh perkebunan kelapa sawit untuk memastikan bahwa semuanya sudah benar. Masih ada beberapa kejanggalan. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan sebuah kesalahan biasa, tapi ini fatal. Untuk meyakinkan, makanya ku coba menghubungi senior di kampus dulu, ia yang saat masih menjadi mahasiswa terkenal dengan kecerdasannya dan sekarang berprofesi sebagai pengacara di LSM. Selain cerdas ia memang sangat idealis, selalu menomor satukan keadilan.
[Ini aneh sekali, jelas sekali ada kecurangan Ben. Bisa kamu kirimkan semua file lengkapnya? Aku akan bantu menyelidiki sampai masalah ini tuntas. Tapi jangan beritahu siapa-siapa dulu kalau ini mencurigakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika benar dugaan kita benar.] pinta Genta Hasibuan, temanku tersebut.
[Oke, siap Gen. Data-data yang kamu minta sudah aku kirim ke email. Tolong kabari aku secepatnya ya.] balasku.
Setelah selesai, barulah aku kembali ke ruang managerku untuk menyerahkan semua tugas yang sudah aku periksa.
__ADS_1