Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Isi Hati Bunda


__ADS_3

Usai salat Isya, bunda masuk ke kamarku. Tentunya setelah Abah keluar untuk mengisi kajian. Kadang aku heran pada Abah, terbuat dari apa hatinya. Ia benar-benar seperti diktator. Setelah puas menyakitu fisik dan mental anak dan istrinya, ketika di luar, ia akan bersifat seperti biasa-biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Makanya kadang muncul ide di benakku untuk membuka kedok Abah di hadapan jamaahnya, seperti yang ditakutkan Abah selama ini.


"Kamu bagaimana? Pasti sakit, Ben?" bunda yang sudah membawa handuk, air hangat dan obat-obatan segera mengompres memar di wajahku. "Maafkan bunda ya, Ben." Kata bunda lagi, sambil mengusap bekas hantaman tinju Abah yang lumayan menyakitkan. "Kapan kamu menikahnya?"


"Ahad nanti, Bun." Jawabku.


"Baik-baik ya Ben, meski pernikahan kalian hanya formalitas, tetap hargai dia yang jadi istri kamu. Bunda tak mau apa yang Abah lakukan juga kamu lakukan pada istri kamu."


Aku tertawa. "Memang aku punya kemiripan dengan Abah, Bun?" tanyaku.


"Enggak. Jangan sampai juga. Bunda nggak rela kamu mengikuti karakter abahmu, Ben."


"InshaAllah nggak kok, Bun. Aku akan bersikap lembut pada perempuan."


"Tapi tetap kamu harus janji, Ben. Agar kamu nggak seperti Sigit."


"Bang Sigit ... Yihana?"


Bunda diam. Aku mengepalkan tangan, ternyata selain batin, kamu juga tersiksa fisik, Hana. Aku menyesali semuanya. Benar-benar menyesal.


"Nanti, setelah urusan dokumen selesai, Ben akan mencari Yohana." kataku.

__ADS_1


"Benar, Ben?" bunda menjadi bersemangat. Ia menatapku penuh harap. "Alhamdulillah, bunda dukung Ben. Bunda akan siapkan semuanya, termasuk biaya kamu mencarinya. Entah kenapa Bunda sangat yakin keluarga kita masih berjodoh dengannya."


"Ya Bun," aku tak berani berharap banyak. Hanya ingin bertemu dan mengatakan maaf sebab sudah membiarkan dirinya menderita. Berarti sebenarnya akulah yang tak menepati janji. Akulah yang tak menjaganya. Bukan dia yang abai. Aku yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya berusaha membantu keluarga ini meski aku sangat yakin ia juga melakukannya karena terpaksa.


"Ben, bunda ingin berpisah dari abah. Bagaimana menurut kamu?" kata bunda lagi


"Kalau itu pilihan bunda, aku mendukungnya."


"Bunda akan pergi dari rumah ini. Tadi kata Ami ia akan ikut bunda, begitu juga dengan Alif, enggak mungkin tinggal di sini karena masih dalam pengasuhan bunda. Kamu, bagaimana? Mau ikut bunda juga atau di sini bersama Abah?"


"Aku mungkin akan kembali ngekos, Bun. Aku mau mulai kerja lagi sambil menyelesaikan kuliah. Ini tahun terakhir, kalau enggak lulus juga bisa DO."


"Iya, diseriusi ya Ben. Kalau masalah biaya, bunda masih ada sedikit tabungan. Nanti, setelah pisah dari Abah, bunda juga mau jualan kue kecil-kecilan. Semoga ada tambahan uang masuk. Kalau kamu masih butuh, bilang sama bunda saja ya. Kalau sekiranya kerja sambilan mengganggu kuliah kamu, jangan kerja dulu. Fokus kuliah saja, Ben. Untuk biayanya biar bunda usahakan."


"Alhamdulillah, bunda doakan semoga kuliah kamu lancar ya Ben."


"Aamiin. Terimakasih Bun." Percakapan aku dan bunda mungkin terdengar kaku, namun bagiku mengandung banyak arti. Percakapan yang sangat aku rindukan, selama enam tahun tak pernah aku dapatkan.


"Oh ya Ben, nanti istri kamu bagaimana?"


"Kami pisah rumah, Bun. Reni akan tetap tinggal dengan keluarganya karena pernikahan ini hanya sebatas ikatan secara hukum saja untuk pemenuhan syarat dokumen anaknya Reni nantinya." aku menceritakan secara singkat bagaimana musibah yang menimpa Reni. Semua terjadi juga ada andil kesalahan dariku.

__ADS_1


"Kapan-kapan, kenalkan bunda sama Reni ya Ben. Kasihan dia. Pasti sangat menderita sekali, tapi ia perempuan yang hebat. Keputusan kamu memang tepat Ben. Bunda mendukungnya."


"Iya Bun, Reni juga pasti senang berkenalan dengan Bunda. Nanti bunda datang diacara nikahan aku ya. Nggak lama kok karena acaranya hanya akad saja."


"Pasti Ben, bunda akan ikut." kata bunda. sebelum meninggalkan kamarku, Bunda kembali menyampaikan permohonan maafnya sebab pernah mengabaikan aku. Bunda menyesali semuanya.. Ia sebenarnya tak ingin melakukan semua itu, namun tak punya pilihan lain sebab takut diamuk oleh Abah.


Masih belum terlambat untuk memperbaiki hubungan ini meski sebenarnya cukup berat sebab masalah yang cukup komplek. Tapi aku sudah memilih untuk mengikhlaskan yang lalu, memaafkan bunda sebab paham posisinya tidaklah mudah.


***


Esok harinya, ditemani oleh Ami dan Alif, bunda pergi ke pengadilan agama untuk membuat surat gugatan. Bunda memilih tidak menuliskan masalah KDRt yang dialaminya serta sifat buruk Abah lainnya sebab bunda masih menjaga kehormatan Abah. Menurut bunda, jika semua dicantumkan maka citra Abah sebagai penceramah akan hancur. Orang-orang tak akan simpati lagi, bahkan mungkin jamaahnya akan meninggalkan Abah. Bunda khawatir itu akan menjadi pukulan untuk Abah nantinya. Meninggalkan Abah sudah membuah kesedihan, bunda tak mau menambahkan beban Abah nantinya.


Mendengar itu aku hanya bisa menahan haru, dalam kondisi seperti itu bunda masih memikirkan bagaimana Abah kedepannya. Andai saja Abah mau merubah wataknya maka ini semuanya tak perlu terjadi..Abah dan Bunda bisa menghabiskan masa tuanya bersama.


Tapi usai mendengarkan cerita bunda semalam tentang masa lalu Abah dan luka batinnya membuatku agak pesimis sebab ini sudah berpuluh tahun dan sepertinya Abah tak punya kesadaran untuk memperbaikinya. Padahal bunda pernah mengajak Abah untuk Konsul ke psikolog, yang ada Abah menghajar bunda habis-habisan. Bahkan karakternya semakin memburuk. Makanya bunda berhenti mengajak Abah dan memilih untuk menerima semuanya hingga akhirnya kesabarannya pun habis sebab tanpa sadar sikap buruk Abah itu mulai menular pada bunda. Yohana dan aku adalah dua korbannya. Tapi syukurlah sekarang bunda sudah menyadari.


Bersamaan dengan kepergian bunda, akupun harus keluar untuk mengurus banyak hal. Menemui Reni untuk menyelesaikan persiapan menikah yang meski hanya akad saja tapi lumayan panjang urusannya, mengurus kuliah yang sempat terbengkalai, mencari kosan baru yang harganya miring dan tentunya mencari pekerjaan baru yang dalam waktu satu pekan ini harus aku dapatkan karena uangku semakin menipis.


"Kamu kenapa Ben?" Reni begitu khawatir melihat lebam di wajah dan lenganku.


"Biasa, habis digebukin Abah." Aku menjawab enteng karena memang ini bukan pertama kalinya jadi tanpa disadari aku sudah terbiasa.

__ADS_1


"Astagfirullah, sampai segini? Tega sekali Abah kamu. Eh, maaf Ben, maksud aku ... ya nggak seharusnya anaknya dipukuli seperti ini. Memang kenapa, Ben?"


"Aku cuma minta izin menikah, Abah nyangka aku ngapa-ngapain kamu, padahal kan enggak " aku terkekeh, sementara Reni berubah sendu.


__ADS_2