Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Desas-desus


__ADS_3

"Saya sudah tunggu bapak di cafe ternyata ada di sini. Benar-benar tidak menepati janji!" Nilam duduk di hadapanku. Wajahnya cemberut, ditekuk dan entah kenapa aku malah melihatnya seperti Yohana belasan tahun lalu.


Astagfirullah. Cepat-cepat aku mengingatkan diri sendiri untuk berhati-hati terhadap hati. Saat ini aku sedang bermasalah dengan Yohana, momen seperti ini biasanya setan pintar sekali masuk, mempengaruhi hati kita untuk bermain hati. Apalagi usiaku sedang rawan dengan yang namanya puber kedua. Begitu kata orang-orang. "Siapa yang menyuruh kamu duduk di situ?" aku melotot melihatnya dengan beraninya duduk di situ. "Saya tidak mengizinkan kamu. Silakan cari kursi yang lain, masih banyak yang kosong!" Kataku, Sambil melirik tempat lain yang memang masih banyak kosongnya.


"Bapak yang janji akan mentraktir saya, tapi bapak tidak tepat janji. Bapak tahu nggak sih, saya sudah menunggu selama setengah jam. Saya sampai harus kembali ke kantor dan bertanya ke sekretaris kemana bapak pergi. Untungnya dia tahu sehingga saya bisa nyusul bapak ke sini." jawabnya dengan enteng, bukannya sungkan malah menyalahkan aku sehingga membuatku menyesal sudah memakan makanan yang tadi pagi ia berikan.


"Oke, kamu silakan pesan, tapi jangan makan di sini. Pindah ke meja lain. Nanti saya yang bayarin." Aku memilih jalan tengah sebab tak mau membuang waktu berdebat dengannya. "Ayo pindah. Ini waktu istirahat sudah habis. Kamu bisa kena peringatan kalau terlambat masuk!" kataku.


"Enggak apa-apa, nanti saya ceritakan kalau saya terlambat karena bapak."


"Astagfirullah. Ya sudah sana, makan sana!" Aku masih berusaha mengusir. Namun Nilam malah lebih kekeh lagi bertahan. Duduk di sana, memesan makanan, lalu makan semeja denganku.


Meski tak ada apa-apa, tapi tetap saja membuatku was-was karena ini masih di lingkungan kantor. Khawatir ada yang melihat dan berpikiran yang tidak-tidak. Sekarang zaman dimana prasangka lebih didahulukan dibanding bertanya.

__ADS_1


Sudah ku utarakan kepada Nilam, karena kalau sudah ada gosip, biasanya suka dilebih-lebihkan. Tapi Nilam tak peduli. Katanya, ia tak pernah menghiraukan omongan orang lain sebab sejatinya bukan ia yang rugi, melainkan orang lain. Pengghibah akan mendapatkan dosa dan melakukan transfer pahala pada orang yang digosipkan. "Jadi nggak rugi, kan, pak? Malah untung!" ia tertawa kecil, lalu fokus melahap mie ramen yang dipesannya.


Melihat anak ini makan dengan santainya tanpa ada beban, aku pun terbawa, tak ingin ambil pusing karena memang kami nggak melakukan apapun. Hanya sebatas memenuhi janji yang sebenarnya aku pun tak bermaksud menjanjikan apapun padanya. Selesai makan, kami kembali masing-masing ke kantor.


***


Seperti dugaanku, yang namanya gosip cepat sekali berhembusnya. Tak sengaja aku mendengar mereka membicarakan aku dan Nilam. Pak Beni dan anak magang bernama Nilam ada affair. Padahal kami tidak lagi berkomunikasi setelah keluar dari resto. Ia sibuk dengan tugasnya dan aku larut dengan pekerjaanku.


Sehari dua hari hingga sepekan, gosip itu akhirnya menghilang juga bersamaan dengan kami yang memang menjaga jarak. Tetapi kembali jadi buah bibir ketika Nilam harus ikut denganku ketika ada tender. Sebenarnya ia harusnya berangkat dengan mobil kantor bersama tiga karyawan lainnya. Nilam ikut untuk belajar masalah tender. Namun, saya pulang, mobil kantor mogok sehingga tiga karyawan lain memutuskan naik taksi. Berhubung Nilam anak magang, ia disuruh naik bis kembali ke kantor. Saat itulah, aku tak sengaja berpapasan dengannya. Melihatnya berdiri cukup lama menanti bis dan saat bis itu datang, malah penuh hingga Nilam yang berusaha naik tak berhasil padahal badannya cukup kecil.


"Kenapa sih pak? Pelit banget? Kita kan tujuannya sama, mobil bapak juga kosong. Apa salahnya kalau saya numpang?" Tanyanya.


"Salahnya? Kamu mau jadi bahan gosip lagi?"

__ADS_1


"Pak pak. Kan sudah saya katakan kalau saya tak peduli. Seperti gosip sebelumnya akan hilang begitu saja karena memang kenyataannya apa yang mereka duga nggak benar. Lagian kenapa juga harus naik taksi kalau ada tumpangan gratis? Saya milih ikut bapak saja, hitung-hitung hemat juga, pak. Jadi voucher nya bisa digunakan saat kunjungan berikutnya kalau nggak ada tumpangan lagi. Jadi anak magang itu nggak enak, pak, harus pintar-pintar ngatur keuangan."


Mendengar Nilam mengeluh membuatku tak bisa menolaknya menumpang. Ia lagi-lagi sama persis dengan Yohana. Ahhh momen seperti ini membuatku semakin rindu Yohana namun hingga sekarang ia masih keras kepala tak mau menyuruhku pulang. Padahal aku sudah minta tolong Caca untuk membujuk ibunya. Apa aku benar-benar nggak berarti untuknya padahal aku adalah suaminya!


Ciiiiitttt. Aku terpaksa ngerem mendadak saat ada yang menyeberang secara dadakan. Akibatnya, Nilam yang duduk di samping langsung terpental kepalanya karena ia tak memakai sabuk pengaman. Kepalanya seperti lecet, makanya ia meringis kesakitan.


Aku mengabaikan ia, mendahulukan melihat kondisi pejalan kaki yang nyaris ku tabrak. Untungnya orang tersebut tak apa-apa. Sepertinya ia sadar bersalah makanya buru-buru minta maaf. Setelah yakin tak ada masalah, barulah aku kembali ke dalam mobil.


"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanyaku. "Makanya pakai sabuk pengaman. Kalau numpang itu jangan nyusahin, sudah dibantu malah ngasi masalah!" Aku mengomel karena kesal dengan kelalaiannya. Juga ada rasa khawatir ia kenapa-napa dan menjadi masalah untukku. Bukannya menjawab, Nilam malam menangis. Tentu saja membuatku makin bingung. "Heh, jangan menangis dong. Memang ada yang sakit? Kepalanya ya? Mana lagi yang sakit? Saya antar ke rumah sakit, ya?" aku menawarkan bantuan.


"Enggak usah. Nggak apa-apa kok."


"Kalau nggak kenapa-napa, kenapa nangis? Itu pasti ada apa-apanya, kan? Udah, jangan membantah. Kita ke rumah sakit saja." Aku yang hendak memutar mobil menuju rumah sakit dihentikan oleh Nilam.

__ADS_1


"Saya nangis bukan karena sakit pak. Sakit seperti ini sudah biasa, bahkan biasanya lebih. Saya enggak apa-apa kok. Saya cuma sedih saja. Ingat bapak saya yang sudah tiada. Saya rindu bapak saya." ia menyeka air matanya, berusaha untuk bersikap baik-baik saja namun tetap terlihat kalau ia sedang rapuh. "Saya sangat dekat dengan bapak saya, tapi Tuhan mengambilnya dengan cepat Dari saya. Dahulu bapak yang sering menghibur kalau saya sedih, bapak yang suka menemani dan menasihati saya meski bapak juga suka usil " tangis Bukan diikuti dengan tawa kecil saat ia mengingat masa lalunya.


Sikap Nilam ini mengingatkan aku tentang Caca, ia juga semangat itu dengan ayahnya. Aku suka mencandai meski ia akhirnya jadi menangis karena kesal dengan sikap ku.


__ADS_2