
Bayangkan bagaimana terkejutnya laki-laki tua tersebut saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh putranya.
"Siapa? Kalina?," dia mencoba untuk bertanya kembali dan meyakinkan pendengarannya atas apa yang diucapkan oleh Ahem.
"Bagaimana bisa? perempuan itu." dia mencoba untuk menggantung kalimatnya dan berusaha untuk mengingat-ingat.
Kalina.... bukankah dia melihatnya bersama Hayat saat perempuan itu masuk ke dalam sebuah kamar hotel untuk melewati malam panas bersama laki-laki yang tidak tahu siapa, lalu bagaimana bisa perempuan itu merencanakan sesuatu yang ada di luar pemikirannya.
Tuan All zigra mencengkeram erat telapak tangan nya.
"Brengsek," laki-laki mengumpat dengan perasaan penuh kemarahan yang sangat luar biasa.
tuan All zigra seketika langsung mengeluarkan handphonenya dan tanpa berpikir dua tiga kali laki-laki itu langsung menghubungi seseorang di seberang sana di mana begitu dia menghubunginya tidak butuh waktu lama handphonenya langsung diangkat oleh seseorang di ujung sana.
"Lacak keberadaan Kalina sekarang juga," ucap tuan All zigra dengan cepat.
Ahem yang melihat gerakan cepat dari daddy nya seketika menetap ke arah laki-laki tua tersebut untuk beberapa waktu.
"Pastikan apa yang dia lakukan setelah dia bertemu dengan laki-laki itu dan aku ingin tahu apakah benar dia membawa menantu ku, jika benar maka aku akan membuat dia menyesali apapun yang dia lakukan malam ini kepada keluarga Hillatop." dan tuan All zigra bicara dengan cepat sembari mengeluarkan perintahnya.
Di seberang sana, bisa dia yang dengar jawaban pasti dari seseorang yang menyatakan dia tidak butuh waktu lama untuk melacak keberadaan Kalina, dan berharap tuan All zigra menunggunya sejenak saja untuknya mendapatkan informasi tentang perempuan tersebut dalam beberapa menit.
Setelah itu tuan All zigra langsung mematikan panggilannya dengan cepat kemudian dia menatap ke arah putranya.
"Aku tidak yakin dia bekerja seorang diri pasti ada seseorang yang bekerja di belakang perempuan itu saat ini, kaum bergerak dengan cepat untuk menyelidiki siapa yang ada bersama Kalina, daddy akan melesat pergi kembali menuju ke arah di mana daddy terakhir kali melihat Kalina." setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut berniat untuk melangkah pergi dari hadapan putranya.
Tapi Ahem langsung berusaha untuk mencegah gerakan daddy nya.
"But dad, aku poin kondisi tubuh daddy tidak dalam keadaan baik-baik saja, biarkan aku bergerak sendiri untuk menyelidiki semuanya dan mencari Hayat." dia cukup khawatir dengan keadaan laki-laki tua dihadapan nya itu, karena dia tahu keadaan daddy nya jelas tidak dalam keadaan fit dan juga menguntungkan untuk pergi ke sana kemari apalagi di jadwal waktu malam-malam begini.
"Keadaan tidak sebanding dengan keadaan Hayat yang kita tidak tahu bagaimana saat ini, ditambah lagi, ada bayi di dalam perut nya saat ini, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? aku tidak bisa lagi kehilangan cucuku untuk kesekian kali nya," ucap laki-laki tua itu cepat.
Mendengar apa yang diucapkan oleh sang daddy nya, seketika membuat akhir pergi ya dan dia membiarkan laki-laki tua itu berlalu pergi menjauhi dirinya dengan cepat. Ahem sempat mematung untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya tanpa sadar dia mengembangkan senyuman di balik bola matanya yang terlihat berkaca-kaca. Ada secercah kegembiraan di dalam hatinya ketika dia mendengar laki-laki paruh bayar lebih itu mengakui istrinya dan juga anak yang ada di dalam perut Hayat saat ini.
__ADS_1
Ahem berusaha untuk menarik nafasnya beberapa waktu hingga pada akhirnya laki-laki tersebut langsung bergerak menjauh dari posisinya saat ini dengan cepat tanpa berpikir dua tiga kali.
"Terus cari informasi di cctv-nya dan lihat apa kabar hal yang lain Yang terlewatkan dalam beberapa waktu ke depan." memerintahkan pada seseorang yang merupakan anak buahnya untuk terus melacak keberadaan dari CCTV.
"Perhatikan di mana saja Kalina sering berada dan coba tanyakan siapa-siapa saja orang yang terlibat dengan nya belakangan ini." kembali di acara dan memerintahkan kepada satu sosok yang berbeda di sisi kirinya.
Setelah berkata begitu, Ahem berusaha untuk menghubungi seseorang dari seberang sana. Mungkin sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk menghubungi siapapun karena posisi waktu yang jelas sudah malam dan sangat tidak memungkinkan, tapi keadaan yang terjepit memaksa dia untuk melakukannya.
setelah sekian lama menunggu panggilan tersambung pada akhirnya bisa didengar suara seseorang seberang sana.
"Aku butuh bantuan mu, Azlan." ucap laki-laki tersebut kemudian bicara pada adik iparnya.
"aku mungkin juga membutuhkan bantuan dari O'Neill." lanjut laki-laki itu lagi kemudian.
"Aku belum tahu apa yang terjadi tapi aku rasa bisa jadi aku membutuhkan banyak bala bantuan, ini tentang istri ku." dan laki-laki itu mulai menjelaskan.
"Mungkin kita bisa sedikit berperang dengan keadaan jika ini cukup membahayakan." itu adalah kalimat penutup laki-laki tersebut.
Setelah berkata seperti itu dia langsung menutup panggilannya dengan cepat kemudian laki-laki tersebut bergerak menuju ke arah area parkiran di mana mobilnya berada, dia pada akhirnya bergerak meninggalkan restoran tersebut dan mencoba untuk bergerak menuju ke arah satu tempat di mana dia sempat mendapatkan informasi tentang sebuah titik lokasi yang cukup mencurigakan ke arah bagian utara.
"bukankah kau berjanji semua akan baik-baik saja? karena itu sebelum aku tiba jaga dirimu baik-baik." batin laki-laki tersebut lagi kemudian.
*******
Disisi lain,
Gudang gelap dan pengap.
Hayat yang tergeletak di dalam gudang tersebut terlihat berusaha untuk menggerakkan jemari-jemarinya secara perlahan, efek obat yang diberikan kepadanya sebagai obat bius yang membekap mulutnya secara perlahan telah menghilang.
di dalam rasa pusing dan juga kesulitannya, Hayat merasa seluruh anggota tubuh yang menjadi berat dan sulit untuk digerakkan, dia berusaha untuk membuka bola matanya secara perlahan namun nyatanya sangat rumit, hingga pada akhirnya perempuan itu berusaha untuk memaksakan diri menyadarkan dirinya dari segala situasi.
Seketika bola mata perempuan itu terbuka dan dia baru menyadari jika dia berada di dalam ruangan yang kosong dan gelap, terasa sangat pengap dan membuatnya cukup sulit untuk bernafas.
__ADS_1
Hayat sejenak mengerikan keningnya dan mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, dia tidak menampilkan ekspresi panik dan takutnya sama sekali mencoba untuk mencerna apa yang terjadi saat ini. Ingatan nya secara perlahan berkelana dan dia ingat apa yang terjadi sebelumnya ya seseorang menangkap dan membekap mulutnya kini dia sadar dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Perempuan itu melirik ke arah kaki dan tangannya hingga pada akhirnya dia sadar tali telah mengikat dirinya saat ini, dia di culik.
Itu yang ada di dalam pikiran Hayat.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah siapa pelakunya dan kenapa dia ditangkap apakah ini berhubungan dengan suaminya atau dengan ayah mertuanya, atau sebenarnya ini ada hubungan dengan keluarganya sendiri, dia mencoba untuk berpikir dengan keras hingga pada akhirnya tiba-tiba saja arah pintu masuk dan keluar ruangan tersebut terdengar seseorang mencoba untuk membuka pintu dari arah luar.
Hayat buru-buru langsung memejamkan bola matanya dengan cepat namun perempuan itu berusaha untuk sedikit mengintip dan dia ingin tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan tersebut saat ini.
Bisa dia dengar derap suara langkah kaki yang bergerak perlahan masuk ke dalam sana, suara sepatu seorang laki-laki bukan suara hells seorang perempuan, itu yang ditangkap oleh telinganya saat ini. Kaki sang empunya sepatu bergerak perlahan mendekati dirinya dan hal itu cukup membuat Hayat agak menegang, karena dia masih buta dan meraba-raba tentang siapa yang membawanya saat ini. Jadi wajar saja di grup jantungnya tidak baik-baik saja namun meskipun begitu dia mampu mengontrol jantungnya dengan baik agar tidak terdengar oleh lawan dan bahkan dia mencoba untuk menarik nafasnya dengan teratur karena dulu dia pernah latihan seperti ini dalam beberapa kali untuk permainan tembak menembak dan ilmu beladiri bersama para saudara nya.
Drap.
Drap.
Drap.
Suara telapak sepatu tersebut terus bergesekan dengan lantai berjalan mendekati dirinya hingga pada akhirnya bisa Hayat rasakan, sepatu tersebut telah berdiri tepat di sisi kirinya. Sepatu mengkilap berwarna hitam tersebut seolah-olah sengaja berdiri tepat di samping tubuh Hayat, gimana pada akhirnya sang pemilik secara perlahan menjongkokan tubuhnya kemudian membiarkan tubuhnya tersebut ditopang oleh kedua belah kakinya.
Tiba-tiba saja laki-laki tersebut menyentuh pipi Hayat secara perlahan, membuat perempuan itu mencoba untuk menahan nafasnya dan menahan rasa jijik ketika ada tangan lain yang menyentuh dirinya kecuali suaminya, dia mencoba untuk tidak membuka bola matanya saat ini, mencoba untuk mengikuti alunan yang terjadi, ingin tahu berikutnya apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tersebut kepada dirinya dan dia ingin tahu siapa sebenarnya laki-laki yang kini berani-beraninya menyentuhnya tersebut.
Dia tidak bisa bergerak gegabah karena itu akan mencelakai dirinya terutama bagi bayi yang ada di dalam kandungannya, jadi dia harus bergerak dengan sangat tenang dan juga tidak terburu-buru.
Ditengah berbagai macam pemikiran yang menghantam dirinya tiba-tiba saja dari arah pintu depan kembali terdengar suara gerak langkah sepatu yang memecah keadaan, itu jelas merupakan heels dari seorang perempuan.
Hayat berusaha untuk menahan nafasnya beberapa waktu.
"Masih belum bangun rupanya?," dan suara perempuan itu memecah keadaan.
Hayat langsung mengerut kan keningnya saat dia mendengar suara perempuan itu, dia tahu betul itu suara siapa.
"Kau?," batin Perempuan itu pelan.
__ADS_1
Dia cukup tidak percaya saat mendengar suara perempuan tersebut, dan kini dia bisa menebak siapa laki-laki yang ada di sampingnya tersebut.