
Mansion utama Ahem Hillatop dan Hayat,
Kamar tidur utama.
Secara perlahan Hayat membuka diary usang dihadapan nya, membiarkan jemari-jemari indahnya menggeser lembar demi lembar dalam diary tersebut.
Beberapa lembaran telah menghilang memang, tapi tak menyalurkan keinginan perempuan tersebut untuk tahu dan membaca isi lembar demi lembar diary tersebut. Sejenak bola matanya berapa bagian lembar kertas dengan tulisan yang dia baca, Elvitania.
Malam musim dingin Paris,
Kamu tahu sayang?.
Ini adalah salju pertama dan terakhir untuk kita, aku fikir satu hari kita akan kembali ketempat ini, mengingat banyak memori disini, tapi rupanya aku salah, kala itu adalah salju terakhir aku melihat kamu tersenyum dengan penuh cinta.
Aku merindukan mu, benar-benar merindukan mu.
Kalimat demi kalimat tertulis disana dengan tulisan tangan dalam balutan tinta hitam, membuat Hayat cukup penasaran apa yang akan ditulis pada lembar berikutnya di dalam buku diary tersebut.
Dengan gerakan perlahan perempuan itu mulai membuka lembar berikutnya, membiarkan bola matanya mulai membaca sebuah kisah yang tertuang di lembaran demi lembaran kertas dalam balutan warna yang mulai berubah warna.
*******
6 tahun Sebelum tragedi nenek buyut Elvitania dan kakek buyut Sherkan
Prancis
Kala salju memenuhi jalanan.
Seorang gadis tampak mendongakkan kepala nya sejenak, bisa dia rasakan buliran salju yang menimpa perlahan ke atas pipinya.
Terasa begitu dingin ketika salju itu terus jatuh ke atas pipi nya.
Dia tengah menanti seseorang di depan sebuah gedung bangunan mewah yang bertuliskan.
HILLATOP CONSTRUCTION.
Seorang laki-laki yang berkata akan datang menemui nya dalam 5 menit kedepan. Elvitania mengulur kan tangan nya sejenak, membiarkan salju yang terus turun memenuhi telapak tangan nya. Dia menggunakan jaket bulu untuk menutupi rasa dingin ditubuhnya sejak tadi. Gadis itu menghela pelan nafasnya, mencoba duduk berjongkok di depan gedung raksasa yang ada dihadapan nya itu.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba sepasang sepatu terlihat berdiri tepat dihadapan nya, Elvitania langsung mendongakkan kepalanya.
Di antara cahaya bisa dia lihat sosok sempurna di hadapannya itu tengah berdiri dengan tubuh kokoh dan gagah nya. Seorang laki-laki Tampak mengembang senyuman nya ke arah dirinya.
Elvitania seketika membalas senyuman laki-laki itu, dengan gerakan cepat dia berdiri mencoba mensejajarkan Dirinya pada laki-laki itu.
Realita nya, setinggi apapun seorang gadis, mereka tidak akan mengalahkan tinggi seorang laki-laki.
"Menunggu lama hmmm?"
Laki-laki itu bertanya sambil memasang sesuatu di kepalanya, gadis itu seketika memejamkan bola mata nya, menikmati moment Dimana laki-laki itu menempatkan sesuatu dikepala nya.
Secara perlahan Elvitania membuka bola matanya, sebuah topi rajut kini telah menutupi kepala dan sebagian rambut milik nya.
Dia pikir topi mungkin sudah cukup, tapi siapa sangka laki-laki itu secara perlahan meraih telapak tangan nya.
Memasang kan sepasang sarung tangan kepada Elvitania secara bergantian.
Gadis itu dengan wajah penuh malu dan kebahagiaan langsung menutupi wajah nya dengan kedua belah tangannya.

"Ahhhh hangat nya"
Ucap Elvitania sambil memejamkan kembali kedua bola matanya.
__ADS_1
"Tidak menjawab pertanyaan ku? terdengar begitu curang." Ucap laki-laki itu kemudian.
Seketika Elvitania membuka bola matanya, dia terlihat mengulum senyumannya untuk beberapa waktu.
"Hmmm tidak begitu lama menunggu." Dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu sejak beberapa waktu yang lalu.
"Dia selalu mengabaikan ku saat aku melontar kan pertanyaan." Laki-laki itu menyentuh lembut wajah nya.
Elvitania fikir bahkan genggaman tangan laki-laki itu tidak kalah hangat nya.
"Tidak, aku tidak mengabaikan kamu," Gadis itu dengan cepat menaikkan kedua tangan nya, menggenggam balik dua telapak tangan laki-laki itu yang masih terus menggenggam erat pipi nya.
Mendengar jawaban gadis itu, laki-laki itu terlihat mengembangkan senyuman nya.
"Aku sudah bicara dengan kakak," Ucap nya kemudian.
"Ya?," Elvitania tiba-tiba mengerutkan keningnya.
"Soal pernikahan kita." Saat mendengar kata pernikahan tiba-tiba jantung gadis itu berdetak tidak beraturan.
"Kita akan kembali ke Indonesia, membicarakan tanggal pastinya." Lanjut laki-laki itu lagi.
Seketika bola mata gadis itu berkaca-kaca, dia pikir secepat ini kah?.
"Hmm." Elvitania secepat kilat mengangguk kan kepalanya.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba laki-laki itu merapatkan wajahnya, dengan gerakan begitu lembut laki-laki itu menautkan bibir mereka secara perlahan.
Kamu tahu sayang?.
Ini adalah salju pertama dan terakhir untuk kita, aku fikir satu hari kita akan kembali ketempat ini, mengingat banyak memori disini, tapi rupanya aku salah, kala itu adalah salju terakhir aku melihat kamu tersenyum dengan penuh cinta.
Aku merindukan mu, benar-benar merindukan mu.
*******
Kamar tidur utama.
Hayat menutup sejenak diary yang baru saja mereka baca, bisa dilihat bola mata perempuan tersebut terlihat berkaca-kaca. Dia menghela palan nafas nya, berat dan cukup menyesakkan membaca barisan demi barisan cerita yang di tulis didalam sana.
Ahem secara perlahan menyentuh kedua belah bahu Hayat, memilih untuk memeluk istrinya secara perlahan dari arah belakang di mana wanita itu duduk di depan lemari rias dan baru saja membaca diary sesepuh Azzura di masa lalu.
"Itu terlalu tragis bukan?." Tanya Hayat dengan suara seraknya dia menatap suaminya dari arah kaca meja rias yang ada di hadapannya.
"Karena itu keluarga Hillatop begitu marah pada kakek buyut Sherkan?." Hayat terlihat menggigit bibir bawahnya.
"Bukankah kita masih belum tahu apa yang terjadi sebenarnya?." Ahem berusaha tidak mengambil kesimpulan tergesa-gesa.
"Itu hanya bagian dari beberapa lembar kertas usang yang ditulis dengan tinta yang nyaris menghilang, beberapa lembar kertas juga menghilang dari tempat seharusnya bukan? kertas pertama bahkan juga menghilang." Lanjut Ahem lagi kemudian.
mendengar ucapan suaminya, Hayat terlihat diam.
Kembali bola matanya menatap diary yang ada di hadapannya tersebut, membuka kembali lembar kertas berikut nya.
*******
Lewat 40 hari setelah peristiwa Malam mencekam
kematian Zahir Hillatop
Mansion utama Sherkan.
Elvitania tampak duduk meringkuk di dalam gelapnya kamar mewah yang mendominasi berwarna putih tersebut, bola mata nya jelas masih membengkak karena sisa tangis berhari-hari bahkan berbulan-bulan yang tidak pernah bisa berhenti.
Ingatan mengerikan soal Malam mencekam itu terus menghantui dirinya, selain kehilangan harga diri nya, dia juga harus kehilangan orang yang di cintai nya tepat didepan mata nya.
__ADS_1
Kebencian, ketakutan, rasa marah, jijik, takut, trauma dan entah apalagi dia tidak tahu saat ini bercampur menjadi satu didalam dirinya.
Bahkan dia tidak berani untuk keluar dari dalam kamar gelap tersebut selama ini.
Makan pun tidak bisa dia nikmati, bahkan beberapa kali tubuhnya tumbang karena jutaan rasa yang berkumpul menjadi satu.
Kebencian dan rasa jijik nya pada laki-laki yang bernama Sherkan pun terus berkembang, di tambah lagi setelah menghancurkan kehidupan nya, laki-laki itu berani-beraninya berkata akan bertanggung jawab.
Laki-laki itu bahkan akan menikahi nya karena rasa bersalah nya.
Bukankah hidup tidak sebercanda itu?!.
Setelah menghancurkan masa depan nya, bisa-bisa nya laki-laki itu ingin menikahi dirinya, Menukar pernikahan yang seharusnya dia dan tunangan nya lakukan menjadi pernikahan dirinya dan laki-laki itu.
Dan laki-laki itu membawa dia masuk ke dalam kediaman nya tanpa bertanya bagaimana perasaan nya.
Ada yang lebih hancur dan menjijikkan kecuali keadaan ini?!.
Bahkan realita nya Dia masih dalam keadaan berkabung setelah ditinggal kan laki-laki yang dia cinta, tapi lucunya di lantai bawah rumah mewah tersebut terdengar suara arak-arakan music dan tabuhan gendang kebahagiaan yang terus berteriak kencang memenuhi gendang telinga nya.
Semua orang tengah mempersiapkan pernikahan mereka.
Tidak lama lagi, yah tidak lama lagi.
Sejenak Elvitania tiba-tiba mencoba untuk tertawa, dia menertawakan nasib nya yang begitu mengerikan.
Ditipu oleh saudara kembar nya selama bertahun-tahun, identitas mereka di tukar, dimanfaatkan saudara kembar nya, dia kehilangan kekasihnya, tidak jadi menikah dengan kekasihnya setelah itu dia bahkan kehilangan masa depan nya.
Hanya dua nama dunia ini yang paling membuat dia membenci.
Britania sang saudara kembar nya dan Sherkan laki-laki yang merenggut seluruh kehidupan dan masa depan nya.
Setelah dia tertawa didalam rasa sakit nya hingga akhirnya suara itu berubah menjadi tangisan yang begitu menyayat hati.
Dia meraung di antara deru suara musik dibawah sana yang seolah-olah menertawakan kehidupan nya.
Sejenak Elvitania menatap gelas yang ada di atas nakas, dia secara perlahan meraih gelas tersebut kemudian mulai memutar-mutar isi nya untuk beberapa waktu.
Sepersekian detik kemudian elvitania melempar gelas tersebut hingga kepingan demi kepingan pecahan nya berhamburan kemana-mana.
Perempuan itu secara perlahan bergeser, meraih satu keping pecahan nya.
Dia menatap pecahan gelas tersebut dalam beberapa waktu, kemudian secara perlahan elvitania menaikkan kepingan pecahan gelas tersebut tepat ke atas lengan nya.
Bukankah terlalu adil dan baik bagi laki-laki itu setelah menghancurkan masa depan nya kini laki-laki itu bisa seenaknya ingin menikahi dirinya.
Secara perlahan elvitania mulai menggores kan pecahan kaca itu di tangan kirinya, mencintai memutus urat nadinya secara perlahan.
Seketika darah segar mengalir di sana, sedikit demi sedikit membasahi lantai yang mendominasi berwarna putih tersebut.
Elvitania memejamkan bola matanya secara perlahan, Samar-samar masih bisa dia dengar suara arak-arakan musik dan tabuhan gendang yang terus bergema di lantai bawah.
Lama, sangat lama sekali dan suara itu baru berhenti setelah seolah-olah rasa kantuk datang menghantam diri diiringi rasa sakit dan darah di lengannya yang Terus mengalir menggenangi lantai.
******
Hayat menutup diary tersebut secara perlahan.
"Aku tidak sanggup membacanya." Ucap perempuan tersebut pelan, dia menatap suaminya dengan tatapan berkaca-kaca.
Katakan hati siapa yang tidak hancur ditinggal kekasih, di rusak masa depan nya lalu sang penghancur masa depan akan menikahi nya.
"Kakek buyut Azzura-,"Dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Karena itu keluarga Hillatop begitu membenci kakek buyut mereka?, wajar saja.
__ADS_1