
"Belum ada kabar baiknya?." Mommy Bii bertanya pada salah satu pengawal tuan All zigra yang berjaga didepan, di perintahkan menjaga keluarga besar mereka.
Beberapa polisi terlihat menjaga di pagar depan dimana salah satu kakak Ayana memang bekerja sebagai anggota kesatuan kepolisian dan Indonesia. Kondisi saat ini benar-benar tidak bisa dibilang baik-baik saja, terlalu tegang dan mencekam.
Laki-laki yang ditanya terlihat menggelengkan kepalanya.
"Belum, nyonya." Jawab laki-laki tersebut pelan.
Nyonya Bii terlihat diam, dia menghela pelan nafasnya, berencana untuk bergerak kembali ke posisi nya namun suara handphonenya mengejutkan diri, membuat wanita tersebut buru-buru mengambil handphone yang ada di dalam tasnya secara perlahan dan melihat siapa yang menghubunginya.
Itu adalah Zuu, suaminya.
Wanita tersebut langsung mengangkat panggilannya dengan cepat.
"Halo, sayang?." Dia menjawab panggilan, mencoba untuk menepi dan bicara dengan suaminya.
"No, aku pikir ini sedikit buruk. Maafkan aku karena tidak bisa kembali besok Zuu." Dia terus bicara diseberang sana, mencoba memberikan pengertian pada suaminya di seberang sana.
Cukup lama dia bicara dengan suaminya dimana di ujung sana Hayat terlihat mencoba membuatkan teh untuk para wanita bersama pelayan di kediaman Abimanyu.
__ADS_1
Hayat terlalu gelisah, jadi merasa bersalah pada daddy All zigra, laki-laki tersebut memiliki terlalu banyak persoalan dan masalah, harus ditambah lagi dengan masalah mereka.
Dia pikir laki-laki paruh baya lebih tersebut pasti cukup stress memikirkan persoalan demi persoalan dan masalah demi masalah putra-putrinya.
Hayat terlihat diam, mencoba memfokuskan dirinya pada apa yang dikerjakan nya, menyelesaikan membuat minuman untuk semua orang termasuk untuk para penjaga didepan.
"Kami akan membawa nya, nona jangan mengangkat yang berat dan panas seperti ini, akan cukup berbahaya untuk nona." Bibi pelayan bicara dengan cepat, melarang perempuan tersebut membantu mengangkat minuman dan bekerja terlalu berat.
Mereka tahu Hayat tengah hamil muda, tidak mengizinkan perempuan tersebut bertindak berlebihan.
Hayat menganggukkan kepalanya perlahan, memilih mendengarkan ucapan orang tua dan bergerak menuju kearah depan tanpa banyak bicara. Dia kembali memilih untuk duduk didekat mommy mertuanya dan para saudara iparnya.
Mereka tetap menunggu didalam kegelisahan hingga pada akhirnya diluar sana para polisi dan anggota penjaga terlihat bicara dengan serius antara satu dengan yang lainnya, mendiskusikan sesuatu yang terlihat sangat berat sekali ini dimana handy talk saling sahut menyahut dan panggilan telepon saling berdering.
Dan hingga pada akhirnya tiba-tiba dari arah luar seorang berseragam polisi masuk kedalam dengan ekspresi wajah yang cukup sulit di ungkapkan, membuat para perempuan dan wanita menatap kearah sosok tersebut.
"Maafkan kami, nyonya Ayudia." Dia mencari wanita sang pemilik rumah.
Nyonya Ayudia, ibu Ayana bergegas berdiri dari posisi nya. Melihat hal tersebut nyonya Nadya ikut berdiri dan bergegas mengikuti langkah, dia ingin tahu apa yang terjadi dan apa yang akan disampaikan oleh laki-laki yang ada di depan pintu.
__ADS_1
"Dia ibu dari menantu laki-laki saya." Nyonya Ayudia menjelaskan pada sang polisi.
Laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian dia mencoba mulai merangkai kata yang paling tepat untuk semua orang.
"Nona Ayana-," Dan dia bicara dengan nada perlahan, berharap kedua orang tersebut tidak terlalu shok mendengar nya tapi.
Braakkkkkkk.
Seketika nyonya Ayudia pingsan dari tempat nya saat laki-laki tersebut berkata.
"Tim gabungan mendapat kan korban, nona Ayana berada di rumah sakit dan kondisi nya tidak baik-baik saja."
"Mom...."
"Nyonya."
"Ibu-,"
Seketika keadaan menjadi semakin mencekam.
__ADS_1