
Siapa yang tidak panik saat mendengar istri Gao menghilang secara tiba-tiba, dan sebuah kenyataan lain menampar mereka.
"Ahem?." Hayat menggenggam erat pergelangan tangan suaminya.
"Pergilah untuk menyusui daddy, keadaan tidak baik-baik saja." Lanjut Hayat lagi.
Semua terlalu kacau saat ini untuk seluruh anggota keluarga Hillatop dan Abimanyu. Hayat tidak punya kemampuan untuk membantu, dia hanya bisa bicara dan menghibur orang-orang agar tidak terlalu histeris dan panik.
Mommy Nadya bahkan sempat pingsan bersamaan dengan ibu Ayudia.
"Jangan terlalu banyak bergerak Hayat, usia kandungan mu masih terlalu dini." Mommy Bii berulang kali mengingatkan Hayat soal kehamilan nya.
"He em." Meksipun begitu tetap saja Hayat tidak bisa mengabaikan semua orang bukan?!.
******
Disisi lain.
Brakkkkk
Berapa lama All zigra tidak menjadi sosok seseorang yang brutal?, sudah sangat lama sekali, sejak anak-anak mulai dewasa, setelah kejadian di Thailand dan sejak Nadya menangis meminta diri nya berhenti untuk bermain mafia-mafia'an setelah mengorbankan 1 putra mereka dimasa lalu.
Kini pada akhirnya sifat alami nya yang dulu muncul lagi, masuk dengan paksa ke kediaman sang jendral, membuat kericuhan tanpa peduli keselamatan. Mengerahkan semua anak buah yang tersebar untuk melumpuhkan para bawahan jendral.
"Mati adalah takdir, tapi saya jelas bisa mengubah takdir anda dan anak anda malam ini juga," jelas terlihat kilatan amarah Dimata All zigra, dia dengan kasar menekan tubuh laki-laki itu yang tubuhnya cukup kekar, besar dan tinggi itu ke dinding belakang, jelas dia tidak takut Bahkan dimasa mudanya, berurusan dengan mafia cartel narkoba paling mengerikan di Meksiko, orang-orang kejam yang acapkali membunuh anak-anak dan para perempuan, memperkosa bahkan menyiksa jelas bukan hal yang baru untuk dirinya.
"Tuan All." Sang istri Jendral menjerit ketakutan, mencari para penjaga yang menghilang entah kemana berganti dengan orang-orang bertubuh kekar dnegan setelan jas rapi dan kaca mata hitam.
"Istri mu yang meminta kami untuk tidak meneruskan kasus kemarin, menangis mengemis di bawah kaki Ayana kami, berkata akan menjaga sandi dari jangkauan nya" Ucap All zigra dengan penuh amarah
"Kau bilang putra mu tidak punya penyakit gangguan mental, mengirim nya ke USA dengan rasa percaya diri," All zigra jelas mendengus
"Tapi malam ini, dia dengan kurang ajar nya menyusun rencana dengan melibatkan perempuan lain untuk mendapatkan Ayana. Jika dalam 1x24 jam kau tidak bisa mendapatkan sandi sesuai kemauan kami, maka jangan salahkan saya yang akan memulai peperangan,"
"Bahkan saya tidak enggan melenyapkan nyawa kalian sekeluarga."
*******
Catatan \=
Yang ingin lengkap kisah Ayana dan Gao silahkan kemari Mak, ingat untuk mereka harus kudu sabar, siapin tisu banyak dan tenang hati tenang jiwa membacanya.
...GADIS PILIHAN TUAN PENGUASA S.2...
"Kenapa kau ada disini?." Ayana bicara sambil menatap nanar wajah sandi, dia mundur beberapa langkah untuk kabur dan berteriak tapi gagal, sebuah tubuh besar menghadang nya dan membuat nya tidak sadarkan diri.
Ayana jelas marah, Dyah telah berbohong padanya, Dyah berkata jika dia melewati jalan pintas belakang rumah,cukup malu untuk masuk karena takut bertemu Abang Hanif atas kesalahannya yang kemarin.
"Aku dibelakang, aku mohon sekali ini saja untuk terakhir kalinya kita bertemu, karena aku akan menyusul sandi di USA." jelas saja, karena memandang Dyah sebagai seorang teman terbaik dimasa lalu Ayana langsung melesat ke arah belakang, jalan pintas yang tidak terlihat dan lupa dijaga dibawah pengawasan siapa pun. tanpa rasa curiga berjalan kebelakang membuka pintu gerbang itu langsung mendekati mobil Dyah, bermaksud meminta dia masuk atau memutar jalan, dan berkata.
"Percaya lah semua keluarga selalu saling memaafkan kesalahan." Ayana ingin mereka melupakan semua persoalan dimasa lalu, berharap bisa memperbaiki Persoalan mereka di masa depan dan lupa menjadi istri yang patuh untuk meminta izin langsung pada sang suami ketika melangkah keluar rumah.
Dia hanya butuh memperbaiki keadaan mereka, mendapatkan sejumput maaf atas kebencian Dyah pada nya di masa kemarin, hanya itu dan tidak lebih.
Tapi rupanya yang dia terima adalah sebuah kebohongan, disaat lambaian tangan Dyah masih terasa hangat, ketika pintu mobil terbuka sebuah wajah jelas mengagetkan Dirinya, dan seseorang dibelakang nya dengan sigap menghilangkan kesadaran nya.
Dan ketika kesadaran mengumpul dia sudah berada di atas mobil yang dikendarai sandi yang entah kemana dia akan dibawa.
"Sandi" Ayana jelas kehilangan kata-kata, tidak ada orang lain, tidak ada Dyah, hanya ada dia dan sandi.
"Kamu sejak awal adalah milik ku, bahkan sampai mati pun tetap akan jadi milikku, Ayana"
Sandi menyeringai, bicara menatap Ayana.
jelas saja Ayana menggeser tubuhnya, ingin sekali melompat keluar jika lupa keadaan nya.
"Tapi aku sudah menikah san, bukan kah Dyah begitu tulus mencintai mu?"
tanya nya pelan, berusaha bicara selembut mungkin pada sandi, dia tahu jika sandi benar-benar sudah masuk ke dalam kondisi psikologis terburuk nya, dia tidak mesti menyela atau bertengkar dengan sandi, harus bersikap setenang mungkin menghadapi laki-laki ini agar tidak mencelakai dirinya dan sang buah hati.
"Aku jelas mencintai mu, bukan Dyah"
__ADS_1
"Tapi Dyah membutuhkan kamu"
"Kenapa kau selalu memikirkan perasaan orang lain hah?"
sandi jelas berteriak kasar
Ayana berusaha menetralisir perasaan nya, tidak terbawa pengaruh menjadi panik.
"Kita mungkin sama-sama butuh waktu untuk berfikir kan?"
Ayana berusaha bicara selembut mungkin, menatap dalam wajah sandi dari arah samping.
"Cinta bukan hanya menyangkut satu perasaan san, kadang kala untuk mencintai seseorang kita tidak mesti memiliki nya bukan?"
Sandi terkekeh, menatap tajam bola mata Ayana
"Aku memberi toleransi yang cukup lama untuk Gao memiliki mu, sekarang waktunya dia untuk melepas mu"
sejenak Ayana memejamkan matanya, dia fikir dia harus mencari cara untuk keluar atau bahkan memberikan kode SOS pada seseorang.
Ayana harus menghubungi seseorang, keberuntungan nya keluar membawa handphone, dengan mode silent yang sengaja di setting oleh Ayana secara tiba-tiba saat melihat Dyah menghubungi nya terus menerus tadinya,kini Ayana menunggu kesempatan manis ketika laki-laki itu lengah, jelas saja ketika sandi membawanya menuju ke arah jalan tol, membayar tiket dengan cara slow motion entah karena apa hingga membuat sandi bergerak lamban, Ayana meraih handphone nya dan menekan sembarang tombol di panggilan akhirnya.
Lana Lan
jika keberuntungan memihak maka dia yakin Lana Lan akan tahu dengan kondisi nya.
'Kita mau kemana?"
jelas Ayana bertanya cepat, pura-pura tenang terus menatap sandi dengan kelembutan.
"Kita akan memulai kehidupan baru kita"
"Kemana kau akan membawa ku?"
jelas saja kalimat tanya itu untuk memastikan kemana Lana lan akan melacak lokasi.
"Kita akan kembali ke Lampung"
"Lampung?"
"Kita akan memulai kehidupan baru disana, bersama bertiga, kau, aku dan bayi didalam perut mu"
Ayana dengan gerakan cepat Menyentuh perutnya, mencoba menetralisir perasaan nya ketika sandi terus melajukan mobil itu sesuai kemauan sandi.
"Bisakah kita mendapatkan istirahat dulu? berhenti lah dimana pun kamu mau, aku benar-benar merasa lelah setelah acara 7 bulanan dan, tidur di mobil akan membahayakan janin ku"
Ayana berusaha untuk membujuk sandi
"Beberapa waktu san, setelah itu kita pergi kemanapun kamu mau"
sandi menatap wajah Ayana beberapa waktu, dia diam tidak bersuara, kemudian terus fokus pada kegiatan menyetir nya.
Ayana tahu tidak lama lagi sandi akan menyadari kehadiran handphone nya, Sandi jelas akan merampas nya kemudian membuang nya, tapi minimal dalam perkiraan Ayana sandi baru menyadari nya dan melakukan nya setelah mereka tiba di tempat peristirahatan sesuai yang Ayana inginkan.
Berharap Lana Lan mengerti kode SOS yang dia kirimkan tadi secepat nya.
******
Begitu mendengar telepon dari Paman Jerry yang berkata seorang laki-laki psikopat membawa Ayana, jelas Lana Lan tercekat. Mereka baru tadi melakukan panggilan terakhir sesaat sebelum Lana Lan masuk ke rumah keluarga besar Abimayu.
Lana Lan fikir harus keluar sejenak ke apotek 24 jam setelah usai mengikuti acara 7 bulanan di rumah besar keluarga Abimayu, meninggalkan Tristan yang tengah berbincang-bincang dengan Gaohan untuk membeli obat mual, kepala dan perut nya sejak pagi terasa tidak enak, namun ketika mendapati minyak mobil begitu sekarat dia fikir ke pom adalah pilihan terbaik,namun setelah menerima panggilan dari paman Jerry jelas menyusut niat Lana Lan untuk memutar kembali ke apotik setelah mengisi minyak mobilnya, dia fikir dia harus melesat pulang sekarang.
Tapi bola matanya jelas tertuju pada sebuah mobil yang baru saja melesat didepan nya, jelas sekali matanya menangkap sosok sang kakak angkat Ayana disana, sebelum pintu kaca sebelah sopir ditutup secara sempurna.
Lana Lan jelas langsung tancap gas menyusul mobil itu secara berlahan, apalagi ketika handphone nya berdering dan dia melihat nama kak Ayana calling jelas dengan gerakan cepat dia mengangkat nya.
Terdengar jelas suara seorang laki-laki di balik panggilan nya, terdengar suara ketukan yang menandakan peringatan SOS di sana.
"Kita akan memulai kehidupan baru kita"
"Kemana kau akan membawa ku?"
"Kita akan kembali ke Lampung"
__ADS_1
Dan Lana Lan jelas yakin ketika mereka melewati jalan tol itu artinya mereka benar-benar akan menuju ke luar kota.
Gila
Fikir Lana Lan, dia dengan cepat mencari handphone miliknya 1 lagi, berusaha menghubungi Tristan dengan terburu-buru.
"Bisakah kita mendapatkan istirahat dulu? berhenti lah dimana pun kamu mau, aku benar-benar merasa lelah setelah acara 7 bulanan dan, tidur di mobil akan membahayakan janin ku"
Dan kata-kata terakhir Ayana jelas menunjukkan jika sang kakak angkat sedang berusaha mengulurkan waktu, menunggu Lana Lan mencari bantuan dan menyusul mereka saat ini.
"Ikuti jejak GPS ku, aku berada di belakang mobil mereka"
"Mereka menuju ke arah jalan tol, sayang "
"Aku mesti memasang jarak, panggilan ku baru saja terputus saat ini dengan kak Ayana"
*******
Kemana laki-laki itu membawa Ayana?
itu yang ada di kepala Lana Lan, ketika mobil di depan nya berbelok ke arah sebuah tempat yang lebih mirip sebuah gudang melewati jalan tol tepat disisi kiri mereka.
Jelas Lana Lan menepi, sedikit saja! tidak ikut masuk takut meninggalkan kecurigaan, ketika mobil itu berhenti tepat di sebuah gudang tua bertingkat, Lana Lan fikir disini kah laki-laki itu akan membawa sang kakak ipar beristirahat?
Benar-benar gaya seorang psikopat.
Gudang tua yang terkesan sangat suram.
Lana Lan berjalan terseok-seok memasuki tempat itu, panggilan nya jelas masih terhubung dengan Tristan, hanya bicara melalui headset bluetooth nya.
"Disisi kiri masih di kawasan jalan tol, gudang tua bertingkat"
ucap lana Lan pelan
"Mobil ku terparkir di ruas jalan tol, jika beruntung sebentar lagi akan ada mobil patroli yang datang, aku sudah menulis pesan SOS di kaca depan mobil, ku selipkan di wiper mobilnya Tristan"
Lana Lan terus berjalan masuk, tidak peduli kemarahan Tristan yang melarangnya masuk ke dalam, mencoba mengintip mencari celah.
Laki-laki itu tampak mengikat tangan Ayana dengan sebuah tali, kemudian mengikatkan nya ke satu tiang di sisi tangga tua, kemudian laki-laki itu berjalan ke arah atas entah ingin melakukan apa.
Lana Lan jelas berjalan cepat masuk ke dalam, membuka pintu tua secara berlahan, menarik nafasnya Begitu berat, takut jangan sampai meninggalkan jejak suara yang bisa didengar oleh laki-laki itu.
Dia sejak kejadian di Thailand kemudian tinggal bersama keluarga Tan jelas acapkali mendapatkan situasi seperti ini, menggunakan pisau, belati atau bahkan pistol adalah hal biasa yang Lana Lan lewati, selamat atau mati jelas acapkali menjadi pilihan nya. Tapi nekat ingin menyelamatkan seorang ibu hamil jelas baru kali ini dia merasakan nya.
Tiap kali dalam pelarian sangat terang terjadi, memilih antara hidup dan mati, dan kali ini dia tahu dia yang dia hadapi, laki-laki psikopat yang tidak normal, menginginkan yang jelas adalah milik orang lain, begitu mencintai dengan penuh obsesi tanpa tahu arti dan m tujuan cinta yang sebenarnya apa.
Ayana membelalakkan matanya ketika mendapati Lana Lan mengendap masuk ke belakang, dia fikir bagaimana bisa Lana Lan datang secepat ini?
Lana Lan hanya bisa meletakkan jari telunjuknya di depan bibinya sesaat setelah terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, dia dengan cepat melindungi diri disamping lemari tua yang ada di arah jam 9, merapatkan diri nya ke sisi lemari, menahan tarikan nafasnya agar berjalan dengan sangat teratur.
Sisi gelap dan Suran sudut lemari itu cukup dapat melindungi dirinya untuk sementara waktu.
"Kita hanya beristirahat tidak lebih dari 3 jam, setelah ini kembali bergerak menuju ke pelabuhan merak"
Sandi bicara cepat ke arah Ayana, memberikan Ayana sebutir obat yang entah apa, memaksa Ayana meminum nya begitu saja.
"Apa yang kau berikan padaku san?"
"Sesuatu yang bisa kau rasakan dalam jangka waktu 1 jam kedepan"
"Sebuah kenikmatan"
bisiknya pelan
kemudian tawa sandi terdengar pecah di seluruh gudang tua itu.
Pupil mata Ayana jelas mengecil, menatap nanar wajah sandi, Lana Lan jelas berfikiran jauh, tebakan nya sudah mengarah ke arah yang berbeda, dia tahu apa yang akan di lakukan laki-laki itu nanti nya. Mata Lana Lan jelas melihat sebuah besi panjang disisi kiri nya berdiri, Tangan nya jelas telah bersiap dalam sejuta kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
Dia tahu laki-laki itu lamban laut akan menyadari kehadiran nya, meskipun Lana Lan pandai berkelahi, bisa taekwondo, tapi jelas dia belum tahu bagaimana keadaan lawan psikopat yang ada di hadapan Ayana itu.
Sayang kau dengar itu, kalian hanya butuh waktu tidak lebih dari 1 jam untuk tiba di sini, jika tidak salah satu dari kami akan berada didalam 2 pilihan
Hidup atau mati.
__ADS_1