
Hayat cukup takut melihat pandangan dari daddy mertuanya, perempuan itu hanya berusaha untuk mendekatkan diri mencoba untuk menyabarkan diri karena dia tahu segala sesuatu butuh proses dengan baik dan benar.
Sejenak dia berusaha untuk menahan nafasnya ketika dia melihat sang daddy mertuanya langsung menghentikan gerakannya dan menatap tajam ke arah dirinya.
"Aku menawarkan membuat minuman dan menyediakan makanan hehehe." sungguh berat rasanya saat dia bicara begitu sembari mencoba melebarkan sawahnya yang sebenarnya sangat dipaksakan tapi apa boleh buat dia harus melakukannya dan membuang seluruh urat malunya demi untuk mendapatkan restu dari laki-laki tua di hadapannya tersebut.
sejenak mereka berdua saling berdiam diri antara satu dengan yang lainnya hingga pada akhirnya All zigra berkata.
"buatkan aku kopi tapi tidak terlalu manis." Dan bayangkan bagaimana perasaan Hayat ketika dia mendengar laki-laki tersebut berkata seperti itu, memintanya untuk membuatnya kopi untuk laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Tentu saja daddy." iya jelas aja langsung menjawab dengan penuh semangat langsung meletakkan tangan kanannya ke atas kepalanya seperti seorang kopral yang berkata siap kepada sang jenderal nya.
Hayat langsung membalikkan tubuhnya dengan penuh semangat, mengabaikan apapun saking senangnya, dada nya kembung kempes karena bahagia daddy mertuanya mau bicara dengan nya dan memintanya untuk membuatkan kopi untuk mereka.
Setidaknya setelah berbulan-bulan ada sedikit perkembangan signifikan yang cukup luar biasa, dia pikir dia tidak akan mendaftarkan sedikit cela untuk pertemuan hari ini, tapi semua kadang diluar ekspektasi.
Dengan semangat membara dia mencari kopi dan gula, berharap tidak ada halangan nya, bola mata dan tangan nya dengan lincah mencari gula dan kopi di bagian tiap rak kitchen set, bisa dia lihat mesin pembuat kopi, dia mengintip dan memastikan bahan-bahan mungkin tidak berada jauh dari sana.
Perempuan tersebut langsung menyeduh kopi hangat sesuai request ayah mertuanya tanpa banyak bicara.
__ADS_1
All zigra sendiri memilih duduk di meja makan, menatap lurus kearah punggung Hayat untuk beberapa waktu. Ingatannya soal apa yang diucapkan istrinya kembali menghantam dirinya.
"Kamu tahu All?, salah satu upaya orang tua yang sangat mulia adalah memilihkan pasangan yang baik untuk anaknya yang hendak menikah. Ini tentu sangat baik sebagai bentuk kehati-hatian orang tua agar anaknya memiliki masa depan yang indah dan cerah, sebagaimana tujuan-tujuan nikah, yaitu untuk meraih sakinah (ketenangan) mawaddah (kasih sayang) dan rahmah. Kendati demikian terkadang upaya mulia kita sebagai orang tua tersebut acap kali berujung pada pemaksaan kepada anaknya. Dengan dalih ‘yang terbaik’ dan ‘demi masa depan’, tidak jarang ditemukan orang tua yang memaksa anaknya untuk menikah dengan seseorang pilihannya, di mana sang anak tidak memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga dengannya."
"Alhasil, tidak jarang rumah tangga yang dibangun atas dasar pernikahan paksa tersebut menjadi rumah tangga yang tidak harmonis. Kedua pasangan suami dan istri tidak memiliki sikap peduli. Dan, yang lebih parah adalah tidak jarang seorang anak melarikan diri dan memilih untuk meninggalkan orang tua karena paksaan pernikahannya."
"Pernikahan itu jodoh yang telah ditakdirkan Allah bukan?, dan pernikahan itu adalah pilihan masing-masing juga. kita berdua di masa lalu tidak menginginkan perjodohan lalu bagaimana kita dengan egois yang memaksa anak-anak untuk menerima sebuah perjodohan!."
"bahkan untuk urusan dendam yang terjadi pada orang tua, kenapa kita harus pusing memikirkan nya?, kenapa kita harus terlibat pada skandal di masa lalu yang belum kita ketahui sebenarnya apa dan bagaimana, kita tidak ikut andil di masa lalu tentang hubungan semua, apa kita harus menutup telinga atas berita simpang siur yang terus terjadi?."
__ADS_1
"mereka berkata semua bukan sepenuhnya kesalahan dari keluarga Azzura, tapi ada kontroversi di kedua belah pihak yang terus saling menyalahkan juga membenarkan diri, alih-alih kita mengambil salah satu untuk dijadikan pacuan, bukankah ada baiknya kita berdiri di tengah-tengah seperti kisah Ibra dan Shaikha?, mereka yang menjalankan rumah tangga All, bukan kita, bukan Zuu atau Bii, bukan Keluarga besar Azzura atau keluarga besar Hillatop."
Laki-laki tersebut terlihat menghela pelan nafasnya untuk beberapa waktu, dia memejamkan bola matanya sejenak dan memijat-mijat pelipisnya dengan jemari-jemari tua yang masih kokoh nya.