
"Dia putri Bii, ayah." Wanita yang sejak tadi bersama Ahem dan Hayat menyahut cepat, sangat tidak setuju dengan mata payah ayahnya.
"Bagaimana bisa ayah salah mengenali orang, Bii tidak akan semuda ini di umur ayah yang setua ini, seharusnya ayah mengganti kaca mata ayah yang baru." Lanjut wanita itu lagi panjang lebar.
"Ayah tidak lihat perbedaan signifikan di antara mereka? mata ayah benar-benar parah, bahkan ingatan juga mulai melemah."
Hayat yang mendengar ucapan wanita dihadapan mereka terlihat mengernyitkan keningnya, dia pikir bagaimana bisa di keluarga Hillatop ada anak yang memiliki mulut sepedas bon cabe level 50? membuat kepala mendidih dan tenggorokan terbakar mendengar ocehan nya. Perempuan itu merasa agak meradang, ingin sekali menghajar mulut bibi didepan nya, dalam hati berpikir yang rumit pasti bukan kakek tua, tapi wanita tua dihadapan nya itu.
"Bukan Bii?," Laki-laki tua tersebut bicara, tangan dan jemari tua itu sudah terlihat bergetar saat menggenggam sesuatu, terlihat dari bagaimana caranya kakek itu memegang kacamata nya sendiri, Hayat memperhatikan dengan seksama pergerakan kakek tua, membiarkan laki-laki tua itu terus menatap nya dibalik kaca mata yang mulai usang.
Sekelas orang kaya seperti itu, memang aneh masih menggunakan kaca mata se'usang dan setua itu.
"Senang bertemu dengan kakek, aku putri Bii kakek, beliau adalah ibu ku." Hayat buru-buru memperkenalkan dirinya, kembali menundukkan sedikit tubuhnya kehadapan laki-laki tua rentah tersebut.
Kakek tua itu menganggukkan kepalanya, dia mengernyitkan dahinya kemudian berkata.
__ADS_1
"Dimana ibu mu? dia terlalu lama tidak berkunjung kemari." Dia bertanya ingin tahu.
"Kakek yang mengusir nya dulu karena dia menikah dengan laki-laki keturunan Azzura, tidakkah ayah ingat? oh ya tuhan, bagaimana bisa ayah lupa soal itu?." Kembali wanita tersebut bicara, menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas kursi sofa yang ada di bagian sisi kanan Hayat.
Bagi Hayat wanita itu benar-benar tidak memiliki etika yang baik di usia tua nya, tidak semua keluarga Hillatop punya etika dan akhlak yang baik, mungkin ada sedikit kesalahan dalam cara mendisiplinkan anak-anak dan didikan. Tidak sepenuhnya salah orang tua, terkadang pergaulan dan cara hidup hedon mampu mengubah karakter seseorang hingga menjadi kurang baik dan meresahkan. Hayat menyentuh lembut perutnya.
"Amit-amit cabang bayi." Itu yang ada didalam hati nya.
Semoga anak pertama mereka dijaga akhlak nya, meskipun nantinya mungkin memiliki sifat kalem dan tenang seperti Ahem, dia berharap anaknya selalu tahu budaya bagaimana cara menghargai orang yang lebih tua terutama orang tua nya sendiri.
"Dia keturunan Azzura, putri Bii dan Zuu, anak cucu dari Azzur." Ucap wanita tersebut lagi mencoba mengingatkan ayahnya.
"Azzurra -," Laki-laki tersebut menggantung kalimatnya, terlihat dia mengernyitkan keningnya untuk beberapa waktu.
"Jadi kamu keturunan Azzura?." Tanya laki-laki tua itu lagi.
__ADS_1
"Yeah ayah, dia cucu dan cicit dari laki-laki yang membunuh salah satu keturunan Hillatop,buyut Zahir putra Adnan."
Astaghfirullahul'adzim, apakah Hayat boleh sedikit saja *******-***** mulut wanita disamping nya itu?, jantung hatinya terasa ingin meledak saat ini juga, konsepnya bukan seperti itu, dia ingin bicara 4 mata dengan buyut tua Hillatop tanpa gangguan siapa-siapa.
Laki-laki tua itu masih diam, memilih mengernyitkan dahinya untuk waktu yang cukup lama.
"Lupa? benar-benar-,"
"Maaf bibi." Wanita tersebut baru ingin melanjutkan ucapannya dengan kata 'Payah' tapi Hayat seperti nya mulai kehilangan akal warasnya.
"Aku tahu bibi putri nya, tapi bisakah bicara lebih sopan pada orang tua? cara bibi bicara mencerminkan bagaimana watak bibi yang sebenarnya." Rasanya hati Hayat siap meledak atas kekesalan nya pada wanita culas disisi kanan nya.
"Apa?." Wanita tersebut langsung terbelalak kaget, dia bicara sambil agak menganga mendengar ucapan Hayat kepada dirinya.
Dan Ahem seketika memijat-mijat kepalanya, dia pikir mulai lagi istrinya kembali ke sifat normalnya.
__ADS_1