
Diluar sana Ahem terlihat cukup cemas, menunggu dengan perasaan gelisah apa yang dibicarakan didalam sana antara Hayat dan buyut tertua. Seharusnya dia ada didalam juga, ikut masuk dan mendengarkan, tapi laki-laki tua itu hanya ingin bicara 4 mata saja.
Tidak paham apa yang ingin di bicarakan oleh buyut tua, tapi yang jelas itu cukup membuan Ahem gelisah. Berbagai macam pemikiran menghantam dirinya dan yang dia paling takuti adalah bagaimana jika ada ucapan-ucapan yang tidak layak untuk didengar oleh istrinya dan membuat istrinya tersinggung karena hal tersebut. Meskipun Hayat seperti wonder woman, nyatanya istrinya tetaplah perempuan lemah yang terkadang bisa menangis ketika diperlakukan dengan tidak adil atau disakiti.
Laki-laki tersebut duduk di sebuah kursi kayu yang letaknya tidak jauh dari hadapan ruangan di mana Hayat dan kakek buyut berada, bibi buyut di keluarga tersebut masih menatap dirinya di kursi yang berbeda sambil melipat kedua belah tangannya.
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh para laki-laki seperti kalian? kenapa kalian selalu saja ingin menikahi perempuan dari keluarga musuh tanpa berpikir apakah itu akan baik atau buruk untuk keluarga." Kembali wanita tersebut mengoceh sembari menghadap ke arah Ahem, menatap tidak suka kearah putra All zigra tersebut.
"Seperti kekurangan perempuan saja di luar sana hingga tanpa berpikir panjang malah menikahi anak seorang musuh." wanita tersebut terus mengoceh, dia mendengus seolah-olah mengejek beberapa keturunan Hillatop yang suka cari masalah dengan menikahi keturunan orang lain yang membuat masalah di keluarga mereka.
"Sudah beberapa kasus terjadi dan kalian berdua yang paling gila." Lanjut perempuan itu lagi kemudian.
Sebenarnya Ahem tidak begitu suka dengan bibi buyut Hillatop, sejak dulu hingga sekarang dia tidak pernah menyukai wanita tersebut bahkan kesan pertama pertemuan mereka ketika dia masih kecil masih melekat di dalam hatinya, wanita itu memang tidak pernah ramah terhadap siapapun meskipun itu adalah keponakan atau cucunya, silsilah keluarga Hillatop jelas begitu besar, sekalinya berkumpul akan ramai seperti pasar malam. Bibi buyut tupikal wanita yang tidak ramah, tidak bersahabat dan sangat benci dengan anak-anak. Tidak heran image nya di masa muda sebagai ibu tiri yang kejam dan tidak ada satu laki-laki pun yang suka padanya.
Bayangkan bagaimana laki-laki menyukainya bahkan mendekatinya saja orang-orang akan berpikir berkali-kali, kenapa Iyan mendekatinya malah akan dikata yang tidak-tidak oleh wanita tersebut secara teratur dan tidak ingin berurusan dengan wanita itu dalam keadaan apapun.
Dia berharap saat ini wanita tersebut segera beranjak pergi meninggalkan dirinya, dia sedang berusaha menguping pembicaraan yang terjadi di dalam sana nyatanya dia tidak bisa melakukannya. Kehadiran bibi buyut benar-benar mengganggu konsentrasi nya.
__ADS_1
"Aku yakin perempuan itu menggoda mu dengan kelicikan dan tubuhnya hingga membuat mu bodoh karena cinta, benar-benar tidak berkelas menjebak laki-laki dengan cara yang picik." Dan saat wanita tersebut berkata kembali seperti itu, Ahem terlihat menarik kasar nafasnya.
Dia menatap kearah wanita yang ada dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu, mencoba menetralisir perasaan nya dan berusaha mengembangkan senyuman nya.
"istriku tidak pernah menggodaku saat kami masih dekat dulu, aku yang tergila-gila pada nya bi." Ucapan terakhir bibi buyut benar-benar menyinggung perasaan Ahem.
Dia pikir Hayat serendah itu?!. Yang benar saja.
"Mungkin terdengar konyol, tapi seorang laki-laki seperti aku, tidak tertarik hanya sekedar pada tubuh perempuan atau kekayaan nya, orang sekelas kami mencari ibu bakal untuk anak-anak mereka berdasarkan-,"
Ahem menunjukkan kepalanya, bibirnya dan terakhir jantungnya.
"Perempuan menunggu jodoh dan laki-laki menjemput jodoh nya, jika perempuan tidak kunjung dijemput jodoh nya maka dia harus bertanya pada dirinya sendiri ada apa dengan nya hingga tidak ada laki-laki yang tertarik padanya." Demi apapun Ahem benar-benar kelepasan bicara.
Dia tahu wanita di hadapannya itu perawan tua, tidak laku hingga usia menginjak paruh baya lebih. itu karena bibi buyut punya otak, mulut dan hati yang mengerikan, membuat laki-laki manapun enggan mendekati nya.
"Kau-," Bayangkan bagaimana wajah wanita tersebut saat ini ketika mendengar ucapan dari Ahem.
__ADS_1
"Aku kemari ingin meminta restu papa kakek buyut, restu bibi itu tidak terlalu penting, karena bibi tidak punya suami dan anak, itu artinya tidak ada tali silaturahim yang bisa tersambung dikemudian hari." Sungguh terkutuk mulut Ahem, dia pikir dia benar-benar ketularan tingkah laku Hayat saat ini ketika marah.
Bibi buyut terlihat menggenggam erat telapak tangan nya, dia ingin sekali memaki dan berteriak saat ini juga.
"Ahem putra All zigra." Dia mengeram dengan wajah yang merah padam.
Alih-alih peduli dengan ucapan wanita tersebut, Ahem langsung berdiri dari posisi nya begitu dia sadar istrinya sudah keluar dari ruangan dimana Hayat dari berada.
"Sunshine, ada apa?." Hayat bertanya saat ini melihat ekspresi aneh bibi buyut yang tampak sangat marah.
Nyata nya Ahem tidak menjawab, dia melihat kearah Kakek tua buyut yang kini bergerak keluar dibantu oleh pelayan untuk beranjak dari sana. laki-laki tersebut menundukkan kepalanya tanda memberikan hormat. Kemudian Ahem kembali berbalik dan menatap kearah bibi buyut.
"Karena kakek buyut sudah tua dan kesulitan menggunakan kaca mata lama nya, sebagai seorang putri seharusnya bibi mencari alternatif untuk mengganti nya tanpa membawa kakek keluar dari kediaman Kakek, sebab jika mulut saja yang bicara, anak manapun bisa melakukan nya. Tindakan nyata akan terlihat lebih baik dari pada hanya sekedar bahasa bibir."
Bayangkan bagaimana ekspresi bibi buyut saat ini?!, wanita tersebut seketika ternganga dan mencoba untuk mendengus kesal atas ucapan Ahem.
Dan Hayat terlihat menggerutkan keningnya, dia pikir apakah ada sesuatu yang membuat suami nya jadi kesal hingga berkata seperti itu?!.
__ADS_1
Kakek tua buyut terlihat menaikkan ujung bibirnya