
Disisi lain
Masih di mansion utama All zigra Hillatop.
"Pastikan tidak ada yang salah, yang ini diletakkan ke sana dan ini ke situ." Tuan All zigra bicara dengan seseorang didalam sana dengan cara yang begitu serius.
"Baik sir."
"Ah jangan lupa yang aku minta tadi." Kembali tuan All zigra mengingatkan.
"Baik sir."
Sesekali berkata begitu All zigra beranjak dari posisi nya, dia menarik nafasnya untuk beberapa waktu, hari ini cukup lelah mondar-mandir kesana-kemari.
__ADS_1
Tapi di tengah posisi nya saat ini, tiba-tiba saja tuan All zigra langsung berdiri mematung menatap Ahem yang terlihat bicara dengan Gao di ujung ruangan menuju kearah dapur, dia diam untuk beberapa waktu membiarkan dirinya tenggelam dalam pemikirannya, sejenak dia menarik kesadarannya secara perlahan di mana pada akhirnya laki-laki itu berusaha untuk membuang pandangannya kemudian dia mencoba untuk meneliti seluruh ruangan dan menebar akhirnya tidak mungkin datang sendirian ke rumah mereka.
seperti apa yang dipikirkan oleh laki-laki tersebut putranya memang tidak datang sendirian di mana di salah satu kursi sofa di kediaman mereka terlihat istri dari putranya tengah duduk di atas kursi sofa di mana pandangan matanya mengarah ke sisi kiri dan di detik berikutnya pandangan bola mata tersebut beralih menuju ke arah dirinya.
sejenak laki-laki paruh baya lebih itu terlihat membeku dan di detik berikutnya tiba-tiba saja hayat bergerak melangkah dengan cepat mendekati dirinya sembari menundukkan kepalanya dengan cepat dan memberikan sebuah sapaan hangat seperti tanpa beban.
"Daddy." Seulas senyuman mengambang dibalik wajah cantik tersebut.
Wajah lugu dan polos tanpa dosa terlihat membuat gelisah diri nya. Tuan All zigra pikir kenapa jiwa gadis tersebut seperti banteng?, tebal, kuat dan tanpa malu.
All zigra tidak menjawab, hanya bisa menghela nafasnya dengan berat sembari dia mencoba untuk berdeham, didetik berikutnya laki-laki tersebut mencoba untuk mengabaikankan perempuan yang sebenarnya telah menjadi menantu sahnya tersebut. Dia mencoba melangkah tidak memperdulikan sama sekali soal perempuan itu, memilih bergerak di sisi kanannya dan mencari istrinya untuk beberapa waktu.
Nyatanya ya meskipun dia mencoba untuk mencari wanita tersebut dia tidak menemukan Nadya sama sekali.
__ADS_1
"Dimana dia?." Tuan All zigra mengernyitkan dahinya.
Dia butuh secangkir kopi, beberapa hari ini tidurnya tidak lengkap karena kesibukan menyambut berbagai macam pihak keluarga yang akan menghadiri perayaan 7 bulanan menantu lainnya.
Dia mencari pelayan juga tidak ada, mencari istrinya juga tidak ada, ingin minta bantuan pada Nadine gadis tersebut terlihat begitu sibuk membawa ini dan itu naik turun sejak pagi tadi, dia tidak ingin merepotkan Freya karena dia pikir putri bungsu nya sepertinya begitu kelelahan, perjalanan panjang uni emirat arab jelas melelahkan.
"Daddy membutuhkan sesuatu?, aku akan membantu." Hayat terlihat gercap, mampu membaca situasi dengan cepat, dia seolah-olah tahu apa yang diinginkan All zigra.
Alih-alih menjawab All zigra memilih untuk pergi ke dapur, dia bergerak cepat kesana untuk membuat secangkir kopi. Tapi Hayat dengan cepat mengejar langkah kakinya dalam gerakan cekatan dan ikut melangkah kearah dapur.
"Daddy ingin makan atau aku buatkan minuman?." Seolah-olah bisa membaca apa yang dipikirkannya perempuan tersebut bertanya dengan cepat.
Hal tersebut langsung membuat All zigra mengehentikan gerakan tangannya, laki-laki tersebut langsung menoleh kearah Hayat.
__ADS_1
Dan percayalah Hayat langsung tercekat dibuat nya.
"Dad?."