
Hayat bisa mendengar bisikan dari laki-laki yang kini naik ke atas kasur di mana dia berada, perempuan itu terlihat mengeratkan rahangnya sembari menggenggam erat telapak tangan nya, Hayat langsung merasa jijik mendengar apa yang diucapkan oleh Alberto.
Sejak dulu hingga kini dia tidak pernah menyukai laki-laki tersebut dan selalu merasa jijik melihat Alberto, dia pikir mimpi apa dia hingga harus bertemu lagi dengan laki-laki tersebut, sama seperti Sam, laki-laki itu benar-benar tidak berkualitas dan sangat meresahkan untuk dirinya.
Dia pikir apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tersebut berikutnya, di mana dia merasa sepertinya laki-laki itu bergerak mencoba untuk menempelkan sesuatu di lengannya.
Perempuan tersebut jelas saja mengerut kan keningnya dan dia berpikir dengan keras apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tersebut karena tadi dia tidak sempat mengintip apa yang dibawa Alberto hingga naik ke atas kasur dimana dia berada.
Dia mencoba untuk bersiap dalam segala macam kemungkinan, tapi tiba-tiba saja terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang hingga membuat laki-laki di samping Hayat mengurungkan niatnya untuk menyuntikkan sesuatu ke tangan perempuan tersebut. Alberto buru-buru langsung meletakkan jarum suntik yang ada di tangannya ke samping tempat tidur, kemudian dia beranjak untuk turun secara perlahan dari kasur tersebut dan memilih mendekati arah pintu masuk kamar untuk melihat siapa yang datang, dia menebak mungkin itu adalah Kalina.
Tapi begitu pintu terbuka laki-laki itu mengerutkan keningnya ternyata itu bukan Kalina melainkan bawahan nya.
"Ada apa?," Alberto langsung bertanya dengan ekspresi wajah masam, menatap ke arah anak buahnya dengan perasaan kesal karena merasa terganggu oleh kedatangan laki-laki di hadapannya tersebut.
"Tuan besar menghubungi anda, sir." laki-laki di hadapannya bicara sembari memberikan handphone ke arah Alberto.
Mendengar kata tuan, membuat laki-laki tersebut mengerutkankan keningnya.
"Apa?," laki-laki itu bertanya sembari menatap sejenak kearah laki-laki di hadapannya itu, lalu dia menerima handphone tersebut secara perlahan kemudian dia mencoba mendengarkan suara di seberang sana.
"Halo?," Alberto menunggu apa yang akan diucapkan oleh laki-laki tua di seberang sana.
__ADS_1
Alberto memilih untuk diam dan tidak membuka suaranya selama dia mendengar apa yang diucapkan di seberang sana, hingga pada akhirnya ekspresi wajah laki-laki tersebut berubah dan laki-laki itu langsung berkata.
"Aku akan kembali besok pagi, ada hal yang harus aku kerjakan saat ini." ucap Alberto cepat.
"Tentu saja tidak, bagaimana bisa aku bisa melakukan hal buruk seperti itu? aku sudah lama tidak bertemu dengan nya, yes aku tahu itu." setelah berkata seperti itu Alberto langsung menutup panggilannya dengan cepat.
"Apa kau tidak mendengar perintah ku tadi sebelumnya jika aku tidak bisa diganggu?" dan Alberto terlihat mengeram bicara pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Laki-laki dihadapan nya terlihat menelan salivanya, seketika merasa begitu bodoh karena mengangkat panggilan dari pohon besar nya dan berkata tuan muda ada disana.
"Maafkan aku ," dia hanya bisa menemukan kepalanya dan meminta maaf, mungkin berpikir bisa jadi dia akan ditampar atau dipukul tapi nyata nya sepertinya keberuntungan masih berpihak padanya karena Tuhan mudanya sama sekali tidak melakukan hal seperti itu saat ini.
"Matikan handphone mu dan jangan membuat kekacauan lagi dengan kembali ke sini dan berkata seseorang menghubungiku meskipun itu adalah ayah ku sendiri." Alberto terlihat sangat kesal dan dia memberikan handphone tersebut dengan cara yang kasar, meletakkan ke dadanya dengan cara sedikit di lempar.
laki-laki di hadapan Alberto menerima handphone nya dengan cepat kemudian dia langsung menganggukan kepalanya dan menundukkan kepalanya secara perlahan, mengiyakan ucapan laki-laki di hadapannya tersebut kemudian secara perlahan dia berbalik dan meninggalkan Alberto.
Alberto secepat kilat langsung menutup pintu kamarnya dengan gerakan kasar dan penuh kekesalan, dia berbalik kemudian kembali bergerak menuju ke arah kasur dengan cepat untuk segera naik kembali ke atas kasur dan mencoba untuk mendekati Hayat kembali.
Laki-laki tersebut menatap ke arah wajah Hayat untuk beberapa waktu, mencoba kembali menelisik wajah tersebut untuk beberapa waktu, menikmati wajah cantik tersebut untuk beberapa waktu.
Hingga pada akhirnya laki-laki itu melepaskan pandangannya dan dia mencoba untuk mencari jarum suntik yang akan dia suntikkan pada Hayat. tapi Alberto sejenak mengurutkan keningnya karena dia tidak menemukan jarum suntik yang dia letakkan tadi.
__ADS_1
"Dimana?," laki-laki itu bertanya di dalam hatinya hingga pada akhirnya di detik berikutnya tiba-tiba saja laki-laki tersebut sepertinya menyadari akan sesuatu hingga membuat laki-laki tersebut membulatkan bola matanya dan di detik berikutnya juga dia buru-buru langsung menoleh ke arah Hayat, karena dia pikir perempuan itu pasti sudah bangun sejak tadi dan pura-pura tertidur tanpa dia sadari.
Dan baru saja dia ingin menetap ke arah perempuan itu seketika Alberto terkejut karena hanya membuka bola matanya dan tiba-tiba perempuan itu terbangun bergerak dengan cepat langsung menghantam wajahnya dengan lengannya kemudian perempuan tersebut langsung menjatuhkan dirinya ke kasur dan di detik berikutnya.
crasshhhh.
"Hah?," Alberto terkejut saat dia menyadari jika Hayat menancapkan sesuatu ke bagian sisi kiri lehernya.
Perempuan itu menyuntikkan cairan obat yang seharusnya disuntikkan oleh Alberto kepada Hayat.
"Kau...." Alberto bicara sambil memegang lehernya yang kesakitan karena disuntik oleh perempuan tersebut secara mendadak.
Laki-laki tersebut benar-benar menegang, dia pikir habis sudah dirinya saat ini saat Hayat menyuntikkan cairan kepada dirinya, dia pikir perempuan itu memang benar-benar tidak sebodoh yang dia bayangkan, Hayat tetaplah Hayat, perempuan pintar yang selalu memiliki berbagai macam ide di kepalanya dan bahkan selalu bebas melakukan apapun sesuai kemauan.
"Halo Alberto, lama tidak berjumpa huh." Hayat menyapa laki-laki tersebut dengan sopan sembari menaikan ujung bibirnya untuk beberapa waktu.
Alberto tidak sanggup menjawab ucapan dari perempuan tersebut sama sekali di mana dia merasa lehernya benar-benar sakit saat ini dan tiba-tiba saja di titik berikutnya ayam langsung menghantam wajahnya dengan cepat dan membuat laki-laki itu cukup sempoyongan, dan dalam hitungan detik Alberto merasa kesadarannya mulai menghilang secara perlahan.
"Oh shi-t." laki-laki tersebut mengumpat orang kemudian dia perlahan mulai memejamkan bola matanya.
Hayat secepat kilat turun dari kasur tersebut dan dia bergerak menuju ke arah meja makan di mana dia melihat handphone yang tergeletak tadi dan meraih nya dengan cepat, perempuan itu pikir dia harus menghubungi seseorang dengan cepat dan dia harus melakukannya agar bisa segera keluar dari sana bagaimanapun caranya.
__ADS_1