
Mansion utama Ahem Hillatop dan Hayat
Ruang kerja Ahem.
"Semua berawal pada kisah Kakek buyut Zahir dan Sherkan." O'Neill bicara, menyulut api rokok yang ada dihadapan nya.
Seperti biasa nya laki-laki tersebut terlihat begitu tenang dan santai, menyulut api rokok secara perlahan dan membiarkan suara pematik memecah keheningan di dalam ruangan tersebut. setelah berhasil menyulut api rokok, laki-laki itu menutup pamatiknya dalam satu suara klik saja. Kemudian laki-laki tersebut secara perlahan menghisap rokok yang ada di tangannya dalam penuh kenikmatan dan juga dengan gaya paling santai nya.
"Aku pernah mendengar dua nama tersebut dari cerita para kakek terdahulu." Ahem menjawab ucapan dari sahabatnya tersebut, sembari dia ikut menyambar rokok yang ada di hadapannya dan ikut menyulut api kemudian menikmati rokok tersebut secara perlahan.
Kepulan asap mulai terlihat di antara mereka di dalam ruangan sebagai ruangan kerjanya tersebut.
Sebuah layar proyektor terlihat berada di sisi kiri O'Neill dan disisi kanan Ahem, seorang laki-laki memutar beberapa gambar yang ada.
"Kakek buyut Zahir." Laki-laki yang memutar gambar memperkenalkan nama dari tiap foto yang dia tampilkan.
__ADS_1
"Kakek buyut Sherkan dan nenek buyut Elvitania." Lanjut laki-laki tersebut lagi masih menampilkan dua foto lainnya.
Ahem melihat dia foto yang ada dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu, nama nenek buyut Elvitania membuat dia mengangguk perlahan, dia pikir cukup mirip dengan seseorang dan sedikit terdapat paduan dalam diri Hayat juga.
Gadis cantik yang menjadi rebutan?!.
"Cinta segitiga?." pada akhirnya Ahem bertanya.
"Lebih kurang seperti itu kenyataannya tapi ada sedikit manipulasi pada cinta segitiga tersebut." O'Neill menjawab dengan cepat, dia menyerahkan sebuah buku dengan warna yang mulai memudar dan usang di makan waktu.
"Yang ditulis oleh nenek buyut Elvitania." Jawab O'Neill.
"Aku masih sulit memahami bagaimana cara perempuan mencurahkan isi hati, diary menjadi buku andalan di masa lalu, mungkin tidak akan pernah di lakukan oleh perempuan modern di masa kini." O'Neill kembali menghisap rokoknya.
"Berkali-kali aku membacanya membuat kepalaku berdenyut-denyut dibuat nya, lebih gampang membujuk perempuan murahan yang dibayar dengan uang, mengajak mereka bercinta di atas kasur semalaman, lamban laut aku tahu apa yang mereka inginkan, hanya kepuasan hakiki hingga mereka mengeluarkan pelepasan ketimbang berpikir dengan keras soal isi hati perempuan yang ditulis di kertas usang."
__ADS_1
Brengsek memang, otak O'Neill yang terbiasa berpetualang dengan beberapa perempuan menganggap percintaan seperti itu biasa, dia suka memuaskan perempuan di atas ranjang meskipun hanya menggunakan jemari-jemari kokoh nya tanpa senjata nya yang sesungguhnya, tapi bagi Ahem laki-laki tersebut seperti tidak normal, menyukai sesi bercinta dengan cara yang agak salah. Kata nya hanya satu gadis yang mampu membuat dia turn on, dan itu masa lalu nya.
"Kau benar-benar sialan." Ahem melempar kotak rokok pada laki-laki tersebut.
O'Neill berdecih, dia menangkap kotak korek tersebut dengan cepat.
"Aku akan coba membaca nya." Ahem pada akhirnya bicara.
''Kau memang harus membacanya, dengan begitu kami akan tahu apa maksud nya, aku pikir dia ingin berkata seseorang memanipulasi cinta nya, dia melupakan cinta nya dan entahlah aku kesulitan mengartikan semuanya."O'Neill mematikan rokoknya, kini berganti menyesap minuman yang ada dihadapan nya tersebut.
"Berikan aku waktu 1*24 jam untuk memahami dan memecahkan isi diary nya."
"Mungkin istri kecil mu bisa membantu untuk memecahkan nya juga, setidaknya itu buyut tua nya, aku pikir mereka agak mirip bukan?,. wajah nenek buyut dan istri mu itu."
Dan saat O'Neill berkata seperti itu Ahem berusaha untuk memperhatikan foto usang berwarna hitam putih yang ada di hadapannya, menatap dengan seksama wajah wanita cantik yang tersenyum bahagia bersama seorang laki-laki yang cukup mirip dengan seseorang lainnya di keluarga Azzura.
__ADS_1
"Hmmm aku melihat persamaan nya." Ucap Ahem kemudian.