
"Apa itu?," Ahem bertanya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, ingin tahu apa syarat yang diberikan oleh kakek buyut kepada istrinya.
Alih-alih menjawab, Hayat malah mengulumkan senyuman nya.
"Jika ini berhasil, maka kita akan dapat banyak restu dari sisi kiri dan kanan keluarga Hillatop juga Azzura." Ucap Hayat lagi kemudian.
Dan demi apapun ucapan dari istrinya semakin membuat laki-laki tersebut penasaran dan ingin tahu.
"jadi katakan padaku apa misinya dan apa yang harus kita lakukan?." Dia kembali bertanya dengan tidak sabaran sembari menatap dalam bola mata istrinya, nyaris dia abaikan jalanan di depan hingga pada akhirnya sang istri berkata dan sedikit berteriak.
"Sunshine ada mobil didepan."
Seolah-olah sadar dia nyaris saja menabrak mobil orang lain karena mengabaikan jalanan, seketika laki-laki tersebut memencet dengan cara yang sedikit spontan dan untungnya tidak ada mobil di belakang."
Ciiittttt.
"Oh god Sunshine kamu hampir menabrak nya." Keluh sang istri dengan cepat.
"Aku sedikit menegang." Ucap Ahem dengan cepat kemudian dia menoleh kearah istrinya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?, ada yang terluka?, apakah terbentur saat aku mengerem?, bagaimana baby kita?." Demi apapun rentetan pertanyaan Ahem membuat Hayat agak bingung harus menjawab pertanyaan suaminya yang mana lebih dulu.
Ahem mencoba untuk memperhatikan tubuh Hayat dengan seksama. Kening, tangan bahkan hingga ke perut istrinya.
"Sunshine aku tidak apa-apa." Hayat menjawab cepat, agak bingung melihat ekspresi berlebihan suaminya.
"Aku sama sekali tidak terbentur apapun saat kamu mengerem bahkan baby didalam perut ku juga baik-baik saja." Lanjut perempuan itu lagi kemudian, dia bicara sambil berusaha menyakinkan suaminya jika dia benar-benar baik-baik saja.
Mendengar jawaban dari istrinya seketika membuat laki-laki tersebut mampu bernafas dengan lega, dia pikir syukurlah kalau begitu karena artinya sedikit kecerobohannya tidak mencelakai istri dan anak mereka.
"Oh god, ini membuat ku agak panik dan takut." Ucapnya sambil berusaha menarik lega nafasnya.
Pada akhirnya Ahem kembali melanjutkan mengendarai mobil nya, kali ini mencoba untuk sedikit jauh lebih hati-hati.
"Sayang sepertinya aku terkena virus somplak belakangan." bisa-bisanya laki-laki tersebut berkata seperti itu ke arah istrinya, dimana fokus matanya tidak ingin dia lepaskan lagi dari jalanan.
Demi apapun, sejak menikahi Hayat dia pikir karakternya jadi sedikit agak melenceng daripada karakter aslinya, sang istri entahlah memberikan seperti apa pada dirinya yang jelas terkadang dia merasa sedikit alay berlebihan dan juga setengah tidak waras.
Mendengar ucapan suaminya, Hayat langsung terkekeh geli sembari dia mencoba untuk menahan tawanya yang mungkin akan meledak di tengah jalan, dia baru tahu jika suaminya belakangan memang sedikit memiliki sifat aneh menyerupai dirinya.
__ADS_1
"Mungkin ini pengaruh hormon baby." Ucap Hayat sedikit menghibur tapi dia berusaha untuk menahan tawa.
"Itu sangat tidak mungkin, sayang." ucap Ahem kemudian.
"Kenapa tidak?."
"Ckckckck jika terus ketularan denganmu itu akan cukup berbahaya." Ahem terus melanjutkan mobilnya secara perlahan ke arah depan, menuju ke arah jalan pulang kerumah mereka.
"Aku pikir anak kita akan ikut somplak seperti mu." Terus terang sekali dia bicara.
Hayat langsung memunyungkan bibirnya.
"Ishhhhh, itu terdengar buruk." Ucap Hayat sambil melirik kearah suaminya.
"Tapi baby kita tidak akan bertingkah kocak seperti ku, aku yakin dia bakal lebih mirip kedua kakek nya." Hayat kembali bicara, menyentuh lembut perutnya secara perlahan.
"Aku punya harapan baby pertama lebih dominan pada sifat kalian bertiga, karena dia yang akan memimpin para saudara-saudara nya kelak InsyaAllah." Lanjut perempuan tersebut lagi kemudian.
Dan saat mendengar ucapan istrinya, Ahem terlihat diam tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1