Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak Season 2

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak Season 2
All zigra yang meradang


__ADS_3

Mansion utama Ahem dan Hayat,


Kamar tidur utama.


Ahem membantu merapikan pakaian istrinya secara perlahan, sebelumnya masih sempat dia menyentuh lembut perut sang istri nya, merapatkan kepala dan wajahnya ke baby mereka.


Beberapa hari ini sebenarnya dia cukup gelisah, dia mengalami mimpi buruk yang cukup meresahkan. Seolah-olah dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan membuat nya terus menangis dan menyesali semuanya. Dia mencoba menepisnya, mungkin mimpi nya adalah karena dia terlalu khawatir soal kejadian yang menimpa istri dan anak Gao.


"Dia belum memberikan respon?." Tanya Ahem pelan, mencoba mendengarkan perut Hayat yang mulai membesar.


"Belum Sunshine, biasanya 6 bulan ke atas baru bayinya akan menendang atau merespon ucapan kita." Hayat terlihat menggulung senyumannya dia tersenyum melihat tingkah suaminya sembari mengelus lembut kepala laki-laki tersebut.


Ahem seringkali merasa tidak sabaran kapan bayi mereka bergerak, ingin tahu kapan dia bisa merasakan tendangan-tendangan manis dari putra mereka.


"Hmmm ternyata cukup lama juga yah?." Tanya nya pelan.


"Bukankah ada proses ini proses yang harus dilalui dan ini masih cukup panjang." Ucap Hayat pelan.


Ahem sama sekali tidak menjawab ucapan istrinya, dia memilih terus meminjamkan bola matanya dan merapatkan pipi nya ke perut istrinya tersebut.


"Hari sudah cukup siang Sunshine, kamu harus segera pergi ke perusahaan hmmm." Ucap Hayat pelan, masih membiarkan tangan kanannya mengelus lembut rambut suaminya tersebut.


"He em." Ahem pada akhirnya membuka bola matanya secara perlahan kemudian dia memilih untuk mensejajarkan posisi duduknya di samping istrinya di atas kasur mendominasi berwarna putih itu.

__ADS_1


"belakangan aku sedikit gelisah dan sering bermimpi buruk.". laki-laki tersebut mulai kembali membuka suaranya dan menatap istrinya untuk beberapa waktu.


"Pastikan seandainya pergi ke mana-mana selalu bersama sopir dan bodyguard yang aku berikan, sebelum pergi pastikan juga untuk mengirimiku pesan dan berkata di mana tujuan kamu." Laki-laki tersebut mulai mengeluarkan pesan-pesannya pada sang istri, tidak ingin sedikitpun melepaskan istrinya dari jangkauannya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya sedikit membuat Jessica mengernyitkan keningnya, dia menatap Ahem untuk beberapa waktu


"jangan khawatir soal apapun Sunshine." hayat pada akhirnya menjawab sembari mengembangkan senyumannya, netra mereka masih terus bertemu antara satu dengan yang lainnya.


"maaf jika aku berlebihan berpikir hanya saja sejak kejadian Gao dan Ayana membuatku cukup gelisah, sayang." kehilangan bayi sungguh sangat menyakitkan, dia ingat bagaimana Gao menangis di dalam diam berkali-kali karena kehilangan bayi mereka, bahkan dia tidak mampu menghibur adiknya tersebut karena keadaan.


mungkin terdengar bodoh tapi bagi seorang laki-laki, anak-anak seolah-olah penyemangat mereka untuk semakin bersemangat dalam segala hal termasuk menjalani hidup dan mencari uang, bagi mereka tidak ada perjuangan yang paling membuat mereka mati-matian untuk bisa menyetarakan diri dengan orang lain demi untuk membahagiakan anak-anak.


karena itu saat mengingat ini kehamilan pertama istrinya dan juga pelitnya hubungan mereka serta beberapa orang yang terkadang membuat dia gelisah tentang masa lalu mereka jelas membuat Ahem cukup khawatir dengan keadaan istrinya.


Ahem pada akhirnya hanya mengembangkan senyumannya kemudian dia menyentuh lembut pipi istrinya tersebut dan mengelusnya secara perlahan.


"aku akan pergi ke perusahaan." laki-laki itu berucap dia langsung mencium kening istrinya kemudian berdiri secara perlahan diikuti oleh Hayat.


mereka melangkah keluar dari kamar tersebut tanpa mengeluarkan suara mereka lagi, memiliki luar dan turun menuju ke arah lantai bawah secara perlahan.


******


The Hillatop group,

__ADS_1


Ruang kerja All zigra.


Bola mata daddy All zigra terlihat menatap kearah map yang ada dihadapan nya untuk beberapa waktu, dia terlihat mengeratkan rahangnya sembari mencengkeram erat isi map yang ada di hadapannya tersebut.


api kemarahan terlihat jelas di balik bola mata laki-laki paruh baya lebih itu, dan dia merasa darahnya saat ini akan mendidih dengan sempurna.


"Jadi dia yang mengambil proyek kerjasama yang terbaru?." laki-laki itu bertanya pada sang sekretarisnya dengan jutaan kemarahan, dia menatap ke arah Enrico yang sejak tadi berdiri di hadapannya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi tuan tapi proyek ini berpindah alih secara tiba-tiba dan tuan Ghazali membatalkan semua kerjasama kita kemudian lebih memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan Azzura." Enrico tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat atas proyek kerjasama yang tiba-tiba berputar arah tersebut.


Dia takut seseorang telah memanipulasi keadaan hingga membuat tuan Ghazali memutuskan untuk membatalkan proyek kerjasama mereka dan tidak menandatangani kesepakatan perjanjian kerjasama proyek tersebut kepada perusahaan Azzura. baginya ini terlalu kebetulan karena semuanya tiba-tiba saja berubah pada pagi hari ini, dia tahu tuan nya pasti marah besar tapi dia masih ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


"Sepertinya mereka memang benar-benar ingin mencari masalah dengan ku." tuan All zigra jelas semakin marah.


Mereka telah menghabiskan banyak dana untuk membuat proyek tersebut dan dia yakin tuan Ghazali sudah sepakat untuk menandatangani kerjasama pembangunan yang telah mereka rancang sebelumnya namun bagaimana bisa dia pikir laki-laki itu membatalkan kesepakatan yang telah mereka buat sejak berbulan-bulan yang lalu dan kini tiba-tiba berpindah arah dimana laki-laki itu memilih untuk membuat proyek yang sama bersama Azzura company.


itu jelas saja seolah-olah tuan Ghazali dan azura mencuri proyek mereka dan mencoba untuk menjebaknya dalam kerugian yang begitu besar di mana proyek itu pada akhirnya akan dijalankan oleh mereka berdua.


Dia yang mulai meredam amarahnya pada keluarga Azzura, jelas saja meradang kembali dan mulai membuka luka lama. Dia seolah-olah merasa kebaikannya untuk membuka hati dan juga memberikan jalan pada putri dari Azzura masuk ke dalam kehidupan keluarga Hillatop benar-benar hal yang salah dan dia merasa dia sangat bodoh saat ini.


"Aku tidak peduli apapun yang terjadi, tarik pihak lain untuk dapat terus merealisasi proyek pembangunan kita dan buktikan pada mereka jika kita tidak akan hancur dan jatuh hanya karena tuan Ghazali dan juga Azzura." laki-laki tersebut bicara sembari dia mencengkeram ujung meja kiri dan kanannya di mana dia berdiri saat ini.


Enrico ingin berkata pasti ada satu kesalahan dalam segala hal yang ada, tapi dia tidak memiliki bukti untuk bisa dia berkata seperti itu saat ini.

__ADS_1


__ADS_2