Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak Season 2

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak Season 2
Suami terbaik, suami impian.


__ADS_3

Mendengar ucapan suaminya, Hayat secara perlahan menyentuh wajah Ahem, membiarkan kedua belah tangannya meraih wajah tampan tersebut untuk beberapa waktu, menunggu suaminya mendongakkan kepalanya dan menatap dalam bola matanya.


Seperti yang dia harapkan, laki-laki tersebut mendongakkan kepalanya secara perlahan, menatap bola mata istrinya dengan tatapan berkaca-kaca.


"Aku yang seharusnya berterimakasih, Sunshine." Hayat bicara pelan, menelisik bola mata suaminya untuk beberapa waktu sembari dia menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"kamu memberikanku banyak cinta, mempersembahkan pada ku banyak hal dan selalu memperlakukanku dengan baik juga hangat, aku yang berterima kasih atas apa yang kamu berikan padaku karena sejauh ini mungkin aku masih bersih karena manja bahkan hanya mampu merepotkanmu dan membuatmu kesulitan dalam banyak hal." Lanjut perempuan tersebut kemudian.


Yah dia lah yang seharusnya berterima kasih kepada Ahem, dibalik banyak hal mungkin dia yang masih bersifat kekanak-kanakan bahkan terlihat begitu cengeng terkadang merasa tidak mampu melewati keadaan, tapi ya yang selalu menggenggam erat telapak tangannya dan selalu berkata semua akan berjalan baik-baik saja.


Laki-laki tersebut selalu memperlakukannya dengan hangat dan juga lembut, memberikannya banyak cinta bahkan tidak pernah sekalipun mengeluh dalam melayani dirinya. Ahem bahkan mengerjakan tugas yang harusnya dia kerjakan sebagai seorang istri, laki-laki itu tidak pernah mengizinkan dia untuk melakukan apapun, tidak mengizinkan dia untuk melakukan pekerjaan berat dan bahkan tidak sedikitpun ingin membuat Hayat kesulitan selama mereka bersama. Ahem merupakan definisi suami yang sangat meratu'kan istri nya. Lalu siapa yang seharusnya berterima kasih?.


Bukankah dialah yang seharusnya berterimakasih pada laki-laki tersebut.

__ADS_1


Ahem mensejajarkan posisi mereka, laki-laki itu duduk tepat di samping hayat membiarkan mereka saling menghadap antara satu dengan yang lainnya di mana laki-laki tersebut secara perlahan membiarkan jemari-jemari tangan kanan yang menyentuh lembut wajah istrinya.


"Tentu saja itu kewajiban ku sebagai seorang suami, untuk memberikan hal yang terbaik untuk kamu bukan?." Ucap laki-laki tersebut cepat.


"Apa yang aku berikan belum seberapa atas apa yang akan kamu korbankan bersama ku dimulai dari pertama kali kita bersama Hayat, kamu akan terus berada disisi ku, jelas tidak lagi memiliki banyak waktu untuk mengabdikan diri pada orang tua kamu, melayani diriku, menemani ku baik di dalam keadaan suka maupun duka, berjuang bersama diriku dalam banyak hal, meninggalkan semua yang seharusnya kamu dapatkan dari orang tuamu, mencetak generasi penerus kita bahkan harus mengurusku dan anak-anak kita kelak nantinya, mungkin tidak ada lagi waktu untuk bersantai bersama teman-teman, bahkan mungkin tidak sempat lagi untuk sekedar menyenangkan diri, akan ada banyak waktu yang tersita di mana kamu insya'Allah akan menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku. Jika diberikan umur yang panjang, pengabdian seorang istri pada suami jelas jauh lebih lama daripada pengabdian mereka pada orang tua mereka, jadi apa yang aku berikan saat ini jelas tidak mungkin akan setimpal dengan apa yang akan kamu jalankan dan kamu korbankan dengan ku nanti nya." Ucap Ahem panjang lebar.


Hayat terlihat menatap dalam wajah suaminya, membiarkan bola matanya berkaca-kaca mendengar apa yang diucapkan suaminya.


Yah apa yang diucapkan suaminya jelas benar, pada akhirnya pengorbanan seorang istri nantinya jelas tidak akan setara dengan apa yang diberikan oleh pasangan mereka. Saat suami hanya tahu bagaimana cara menafkahi istri lahir dan batin tapi masih ada yang menggerutu dan berkata kurang apa mereka, nyata nya mereka lupa seberapa besar pengorbanan seorang istri kepada mereka.


Salah sedikit kadang di bentak, padahal di rumah orang tua mereka diperlakukan bagaikan seorang tuan Putri, diberikan apapun yang mereka mau bahkan jangan kan untuk dibentak, di mintai tolong pun menggunakan bahasa yang begitu lemah lembut.


Andaikan dihitung dalam logika berdasarkan usia hidup manusia, jika pernikahan berada di usia 23 tahun, kematian menjemput di usia 50 tahun, maka 27 tahun masa mengabdikan diri pada pasangan, 23 tahun bukan seorang putri yang mengabdikan diri pada orang tua mereka, tapi orang tua yang memperlakukan mereka seperti seorang ratu di rumah mereka, disekolahkan dengan baik, di cuci pakaian mereka, di cukupkan urusan perut mereka, di penuhi segala kebutuhan bahkan diberikan pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi. andaikan pun seorang anak sempat bekerja orang tua mungkin belum mencicipi hasil jerih payah putri mereka.

__ADS_1


Lalu katakan kapan waktu mengabdikan diri seorang anak pada orang tua mereka?!.


Ah entahlah, Hayat tidak mau melanjutkan pemikiran nya.


"Bukankah menikah itu bukan sekedar kata sah kemudian kewajiban suami sekedar memberi nafkah?." Ahem melanjutkan kata-katanya pada istrinya.


"Karena pada akhirnya pasangan kita kelak akan menjadi teman hidup selamanya. Maka, akan lebih mudah jika ego tersingkir dan niatkan untuk beribadah. Setiap orang bukankah menginginkan sebuah pernikahan yang sempurna. Pernikahan sempurna bukan hanya soal pesta yang mewah saja. Akan tetapi soal bagaimana cara membina keharmonisan rumah tangga yang bahagia. Menciptakan rumah tangga yang baik yang tidak mengedepankan ego masing-masing,"


"Untuk membangun keluarga harmonis, bukankah sangat dibutuhkan kerja sama yang baik antar pasangan?, Karena itu kita harus menghindari memiliki sifat yang merasa lebih unggul dari pasangan dan menghilangkan pula sifat egois yang ada pada diri kita dengan mengganti sifat tersebut pada sikap yang saling menghargai. Karena sikap pasangan yang saling menghargai ini akan lebih mudah menimbulkan sikap kerja sama di dalam rumah tangga hmmm."


"Jadi aku pikir memanjakan mu dan membantu kamu bukan satu beban atau satu ketidak harus'an dari seorang suami kepada istrinya." Kemudian laki-laki tersebut mengembangkan senyumannya menyentuh lembut wajah istrinya membiarkan tatapan mereka saling bertemu antara satu dengan yang lainnya.


Hayat terlihat diam untuk beberapa waktu menetap dalam bola mata suami sembari bersyukur meskipun rumah tangga mereka diuji tapi dia menemukan suami yang sangat memahami arti sebuah tanggung jawab dan cara untuk menyeimbangkan diri di dalam rumah tangga. tidak memikirkan ibu sendiri kata mementingkan keinginan diri sendiri tanpa tahu bagaimana perasaan istri.

__ADS_1


Tidak pernah dia bayangkan jika dia akan menikah dengan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, suami impian yang mungkin tidak akan dia dapatkan dari laki-laki lainnya.


Suami terbaik, suami impian nya.


__ADS_2