Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak Season 2

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak Season 2
Sejuta kerinduan


__ADS_3

Mansion utama Hayat dan Ahem,


kamar tidur utama.


Hayat terlihat mencoba bicara dengan seseorang dari balik handphonenya, percakapan serius kerja di saat ini di mana perempuan itu beberapa kali menganggukkan kepalanya atau menggelengkan kepalanya untuk beberapa waktu.


"Apa daddy Zuu baik-baik saja, mom?," rupanya dia bicara dengan mommy nya di seberang sana


"Syukurlah kalau begitu, artinya kesehatannya daddy cukup mengalami peningkatan pesat saat ini," ucap Hayat dengan tatapan penuh rasa syukur di mana hatinya jelas merasa sangat luar biasa.

__ADS_1


Secara jujur dia sangat merindukan laki-laki tersebut sejauh ini, tapi mengingat daddy nya sama sekali tidak mau bertemu lagi dengannya karena merasa kesal dan kecewa atas pernikahannya dan Ahem maka dia mencoba untuk menahan sejuta kerinduan di dalam hatinya.


Ingin sekali rasanya mencoba sesekali pulang dan berkunjung, melepaskan jutaan kerinduan antara anak dan ayah, tapi lagi-lagi Hayat harus menahan segalanya dan memendam kerinduan seorang diri. Terlalu bohong jika dia tidak pernah menangis di dalam diam menahan kerinduan, mencoba menjadi kuat dan terus berkata ini semua baik-baik saja dan akan ada masa di mana semua ini akan berakhir dan mereka akan bersama lagi setelah perjuangan panjang satu hari nanti.


Hayat yakin dan percaya, dia hanya perlu berjuang sedikit lagi untuk mendapatkan restu di kedua belah pihak hingga masa-masa seperti ini akan menjadi masa yang akan dia rindukan didalam kenangan nya pada masa lalu nanti.


"Aku juga merindukan mommy di sini." Lanjut Hayat lagi kemudian.


"Jaga kesehatan kalian berdua, ingat jaga pola makan dan jangan terlalu lelah, katakan pada daddy, jangan terlalu memposir tenaga dan beristirahatlah jika mulai lelah." setelah berkata seperti itu Hayat mencoba untuk menarik nafas yang secara perlahan, kemudian dia mengucapkan salam lantas menutup panggilannya.

__ADS_1


Hayat membeku untuk beberapa waktu setelah dia mematikan panggilannya, membiarkan bola matanya menatap lurus ke arah depan di mana pandangan yang menembus ke arah kaca jendela yang langsung tertuju pada bagian langit yang mulai terik. Perempuan itu diam sambil membiarkan pandangannya terus menatap lurus ke arah depan, kemudian dia mencoba untuk mendongakkan kepalanya untuk beberapa waktu dan berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya atas rasa rindu yang menghantam dirinya.


"Semua akan berakhir bahagia Hayat, percayalah," dan dia bergumam pelan, mencoba untuk menahan bulir-bulir air mata yang mungkin akan jatuh sebentar lagi dari kedua belah pelupuk matanya.


Cukup lama dia mendongak kan bola matanya hingga pada akhirnya Hayat berusaha untuk menarik nafasnya begitu panjang, setelah itu dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.


Ditengah perasaan nya yang bercampur aduk menjadi satu, handphone nya terdengar berdering dengan halus, Hayat membuka bola matanya dan mencoba melihat siapa yang menghubunginya. sejenak dia diam dan menatap ke arah handphonenya untuk beberapa waktu membiarkan bola matanya menatap dari senam yang ada di hadapannya tersebut hingga pada akhirnya seolah senyuman kecil menghiasi wajah cantik yang sedikit murung dan bersedih tadi. Hayat buru-buru langsung mengangkat panggilan nya kemudian berkata.


"Halo?,"

__ADS_1


__ADS_2