Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 21


__ADS_3

Jawaban singkat dari ustad Farid berhasil menggetarkan hati Anin, ia benar-benar tidak percaya dengan secepat ini mempertemukan dengan orang yang mungkin akan menjadi jodohnya.


"Ustad, nikahi aku!"


Seketika ustad Farid tercekat dengan pernyataan Anin, gadis yang baru dua atau tiga hari lalu ia temui tanpa sengaja tiba-tiba mengajaknya menikah.


Bukan hanya Anin yang bergetar hatinya, tapi ustad Farid jauh lebih terguncang. Ia sampai menepuk-nepuk pipinya tidak percaya.


Sakit ...., gumamnya dalam hati. Untuk lebih membuktikannya ia pun mencubit lengannya sendiri dan hasilnya sama.


Aku mimpi ya ...., batinnya masih tidak percaya, demi menguji pendengarannya ustad Farid pun memilih untuk menoleh pada gadis yang dengan santainya mengajak menikah.


Anin menganggukkan kepalanya dengan cepat berkali-kali dengan wajah polos hingga membuat ujung jilbab segitiga bagian depannya yang terterpa angin menyapu wajahnya.


Ustad Farid mengerutkan keningnya hingga membuat kedua alis tebalnya terangkat ke atas.


"Iya ustad. Nikahi aku!" ucap Anin lagi dengan masih menggunakan nada yakinnya, tanpa ada keraguan sedikitpun disetiap kata yang keluar dari bibirnya.


"Kamu gila ya?" tanya ustad Farid, tapi ia segara menyadari jika kata-katanya itu salah, "Astaghfirullah hal azim!"


"Kok gitu sih tanyanya?" protes Anin dengan wajah cemberut. Ia harus bisa meyakinkan pria di hadapannya bahwa apa yang ia katakan benar adanya. Ia pikir ustad Farid adalah pria yang terbaik untuk menjadi imam dalam hidupnya.


"Maaf, tadi kelepasan!" ucap ustad Farid menyesal karena perkata annya, "Sudah pokoknya ini nggak bener, lebih baik sekarang aku antar kamu Sampek dapat bensin!" ucapnya lagi sambil berdiri dari duduknya, ia segera meletakkan gelas kosongnya di gerobak es Pleret yang memang sengaja mangkal di bawah pohon itu.


Anin pun segera melakukan hal yang sama, tapi saat ustad Farid hendak mengeluarkan dompetnya, Anin segera mencegahnya,


"Biar Anin aja ustad yang bayar!"


"Serius?"


"Iya ustad, itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena semua nasehat yang baru ustad berikan sama Anin!"


Ya sudah lah ...., ustad Farid pun kembali mengantongi dompetnya.


"Berapa pak?" tanya Anin pada penjual es Pleret. Meskipun ia sudah tahu berapa harganya, ia memilih untuk tetap bertanya takut jika ternyata harganya naik.


"Sepuluh ribu pak!"


Anin pun segera mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan.


"Terimakasih ya pak!"


"Sama-sama, mbak!"


Ustad Farid memilih berjalan dulu meninggalkan Anin yang masih sibuk dengan penjual es pleret sambil mendorong motor Anin yang belum terisi bensin.


Nasib-nasib, kayaknya setiap kali ketemu dia selalu suruh dorong motor, eh bukan hanya dia tapi juga, Zahra. Emang dasar nih gadis Jawa ...., gerutu ustad Farid dalam hati.


Ia tidak tahu akan sampai di mana ia mendorong motornya karena mereka sudah cukup jauh berjalan tapi belum juga menemukan penjual bensin, kalaupun ada ternyata stok masih kosong dan terpaksa mereka harus berjalan lagi.


Bagaimana bisa, sejauh ini tidak ada penjual bensin ..., batin ustad Farid.


Yang jelas, yang tengah ia pikirkan saat ini, ia harus terhindar dari pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal dari Anin.

__ADS_1


Ustad Parid sama sekali nggak ngeluh meskipun dorong motor sejauh ini ...., batin Anin.


"Ustad, biar Anin aja yang dorong ya!" tawar Anin. Ia cukup merasa kasihan saat melihat kemeja yang dikanakan ustad Farid tampak basah karena keringat. Tapi entah kenapa melihat Sepertinya itu malah membuat Anin merasa semakin tertarik pada ustad Farid.


"Tidak perlu, jalan aja agak jauhan."


"Kenapa agak jauhan?"


"Takut ada tetangga atau orang yang kenal kamu!"


"Kalaupun ada yang lihat, memang kenapa ustad?"


"Ya takut timbul fitnah!"


Segitunya ...., Anin mendengus kesal. Ia pun akhirnya sedikit menjaga jarak.


Meskipun begitu Anin masih mengekorinya, mau bagaimana lagi memang motornya dibawa oleh ustad Farid.


Akhirnya karena sudah jauh berjalan, ustad Farid memilih untuk berhenti sejenak mengatur nafas yang sudah ngos-ngosan.


"Istirahat bentar ya!" ucap ustad Farid, "Kita duduk di sana!" ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah bangku sosong tempat penjual buah yang kebetulan kosong.


"Nggak pa pa ustad?"


"Apanya?"


"Nggak takut timbul fitnah?" Anin sengaja membalikkan pertanyaan ustad Farid.


"Baiklah, nggak jadi!" ustad Farid pun memilih kembali menutup jagang samping yang sempat buka.


Hehhhh ....


Anin pun sedikit berlari menyusul Uttar Farid yang sudah berada agak jauh di depan.


"Tunggu!" ucapnya setelah begitu dekat.


"Jangan dekat-dekat!"


Anin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya ampun, ribet banget sih!" keluh Anin yang notabene nya masih awam soal agama.


Anin pun segera kembali menjaga jarak, mereka kembali saling diam sambil terus berjalan.


"Ustad, bagaimana?" tanya Anin setelah cukup lama saling diam.


"Apanya?" tanya ustad Farid tanpa berniat menoleh ke arah Anin.


"Yang tadi!" ucap Anin dengan gemas. Tapi ustad Farid segera faham dengan apa yang di maksud Anin.


"Anggap saja aku nggak dengar dan urusan kita selesai!"


Hehhhh ....


Sekali lagi Anin menghela nafas kecela mendengar jawaban ustad Farid.

__ADS_1


Anin tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali pasrah. Jika memang ustad Farid tidak mau menikah dengannya, mungkin memang jodohnya David.


Hingga akhirnya setelah perjalana panjang itu, mereka sampai juga di penjual bensin yang masih memiliki stok bensin.


"Itu kayaknya ada bensinnya!" tunjuk ustad Farid pada sebuah toko yang di depannya berjejer botol-botol yang masih terisi bensin.


Kenapa secepat ini sih ..., bukannya senang. Anin malah merasa tidak begitu suka dengan hal itu, ia merasa waktu yang telah mereka habiskan berdua masih kurang.


Melihat hal itu tapi Anin malah terdiam membuat ustad Farid keheranan.


"Kenapa?" pertanyaan ustad Farid kembali membuat Anin tersadar, ia pun segara tersenyum tipis.


"Ahhh tidak pa pa!" ucapnya.


"Cepetan beli bensin!" perintah ustad Farid.


Hah beli ...., seketika ia teringat sesuatu.


"Beli ya?"


"Kalau boleh minta, minta aja!" ucap ustad Farid yang sudah terlanjur kesal.


"Sebenarnya aku lupa juga bawa dompet, kebetulan yang tadi buat beli es Pleret, nyempil di jok motor! Kali ini ustad ya yang bayarin!"


Astaghfirullah hal azim ....,


Ustad Farid hanya bisa pasrah. Ia tidak tahu apa kesalahannya hingga selalu saja mengalami hal yang sama seperti ingin berulang kali.


"Baiklah!"


Setelah mengisi bensin, Anin tidak langsung mengemudikan motornya. Ia terlebih dulu menoleh pada ustad Farid.


"Apa lagi?" tanya ustad Farid.


"Bagaimana yang tadi ustad?" ternyata Anin masih menanyakan hal yang sama.


"Sudah sore, keburu ashar. Cepet pulang, assalamualaikum!" dengan cepat ustad Farid berlalu dari hadapan Anin.


"Baiklah, kalau kita ketemu satu kali lagi, Anin anggap kita berjodoh ustad!" ucap Anin dengan sedikit berteriak karena ustad Farid sudah berlalu dari hadapannya.


Walaupun mendengar ustad Farid tidak berniat membalik badannya.


"Waalaikum salam!" teriak Anin lagi.


Walaupun belum mendapatkan solusinya, setidaknya Anin sekarang sudah jauh lebih tenang di bandingkan tadi sebelum pergi. Segala nasihat yang di berikan unstad Farid cukup membuatnya yakin jika Allah pasti akan memberinya jalan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2