
Anin mendengus kesal saat ustad Farid memilih pergi dengan Bu guru cantik itu. Mau cemburu, mau marah,
Memang siapa aku?
Hehhhhh ....
"Dasar Parid, sok ganteng banget!" gerutunya sambil menendangkan kakinya ke udara.
"Awas aja kalau ketemu lagi, aku bakal ajak dia nikah lagi! Gak peduli berapa kali ia nolak, mau. seratus kali, mau seribu kali, pokoknya Anin ini lantang menyerah!" terlihat anin benar-benar menunjukkan sisi semangat empat limanya.
Anin kembali mengambil tasnya dengan kasar dan menentengnya di bahu. Dengan masih kesal ia pun berjalan keluar sekolah,
"Sudah selesai dek, urusannya?" tanya pak satpam,
"Dak dek dak dek, emang aku adek kamu!" ucap Anin nyolot membuat pak satpam tampak bengong dengan tanggapan Anin,
"Nih anak kenapa?" gumam pak satpam lirih, tapi karena jaraknya dengan Anin cukup dekat membuat Anin mendengarnya, tapi Anin tidak berniat untuk membalasnya lagi.
Ia memilih melanjutkan perjalannya menghampiri motor yang ia parkiran di samping pos satpam.
Tatapannya tertuju pada motor yang terparkir berjejer dengan motornya,
"Nih ini, ini pasti motor ustad Parid. Nih jaketnya!" ucap Anin dengan begitu yakin.
"Ahhhh, aku punya ide!" Anin pun mengambil sebuah pulpen dan selembar kertas dari dalam tasnya, ia menuliskan sesuatu di atas kertas kosong itu dan segera melipatnya, ia memasukkan ha ke dalam saku jaket yang mengandung di stang stir motor yang ada di samping motornya itu,
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga kali ini berhasil!"
Setelah selesai, ia pun kembali memasukkan pulpennya ke dalam tas. Anin mengambil helmnya hendak di pakai, tapi tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya saat manik matanya menangkap sosok yang familiar tengah berjalan ke arahnya.
Mereka ngapain di sini? batinnya hingga dua pria itu sampai di depannya.
"Kalian kenapa di sini?" tanya Anin yang tidak mau lagi banyak basa-basi.
"Pak David menunggui anda di mobil!"
David ...? sepertinya memang Anin yang lupa jika kemarin David sempat mengatakan ingin kembali bertemu dengannya.
"Ngapain?"
"Silahkan itu langsung di tanyakan sama pak David, mari ikut kami!" ucap salah satu pria itu sambil mempersilahkan Anin untuk berjalan.
"Nggak mau, kalau nggak jelas alasannya. Aku nggak mau pergi!"
"Pak David ingin mengajak anda ke pusat perbelanjaan!"
"Kalau aku nggak mau gimana?"
"Kami akan memaksa!"
"Astaghfirullah hal azim, bisa nggak sih bos kamu itu nggak egois. Kayak anak kecil saja!"
"Mari, silahkan ikut kami. Kamu harap anda tidak mempersulit pekerjaan kamu!"
Bodo amet ..., Anin masih dengan sikap keras kepalanya.
"Maaf_!" tiba-tiba dua pria itu hendak memegangi kedua lengan Anin, tapi dengan reflek Anin memundurkan tubuhnya,
"Enggak, enggak !" tolak Anin dengan keras.
"Enggak, aku bawa motor sendiri!" tambah Anin lagi, ia mencari cara aman. Ia akan ikut asal tidak berada dalam satu mobil dengan David.
"Tapi_!"
"Sampaikan saja sama bos mu!" dengan cepat Anin memotong ucapan anak buah David.
"Baik tunggu sebentar!" akhirnya anak buah David menyerah juga, salah satu dari mereka pun kembali menghampiri David untuk berdiskusi dan mengatakan keinginan Anin.
Setelah beberapa saat, akhrinya pria itu kembali,
"Baiklah pak David mengijinkan anda membawa motor sendiri!"
Emang siapa yang butuh ijin dia, diijinin atau enggak, tetap saja aku akan pakek motor, jangan harap bisa satu mobil denganku ....
"Mari anda silahkan di depan!" ucap salah satu dari mereka lagi.
"Katakan dulu mau ke pusat perbelanjaan yang mana!?" Anin tidak mau pergi tanpa arah tujuan, ia sebenarnya tengah berjaga-jaga saja, takut jika sampai di bawa ke tempat yang ia tidak kenal dan mereka akan berbuat yang tidak-tidak.
"Saya juga bawa motor, silahkan ikuti saya!" ucap salah satu dari mereka, dan benar saja memang ada motor besar yang mengiringi mobil itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Pria pemilik mobil itu akhirnya keluar dari dalam mobilnya,
"Ayo!" ucapnya sambil hampir menggenggam.lengan Anin tapi dengan cepat Anin menghindar,
"Ayo, ayo, boleh tapi nggak usah pakek pegang-pegang, aku bisa jalan sendiri!"
"Galak banget sih!"
"Biarin,"
"Ya sudah ayo, kamu jalan di depan!"
"Kemana?" tanya Anin lagi, meskipun berada di sebuah pusat perbelanjaan tapi ia tidak tahu akan masuk ke toko yang mana.
"Bisa kan nggak usah banyak tanya!?"
"Nggak bisa!"
Srekkkk
Pria itu segera menarik tangan Anin tanpa menghiraukan Anin yang meronta minta di lepaskan.
"Bisa lepasin nggak, aku bisa jalan sendiri!"
"Nggak!"
David tetap menggengam tangan Anin, tidak peduli setara keras Anin berusaha melepaskan diri.
Akhirnya mereka sampai juga di toko sepatu,
"Pilih yang kamu suka!" perintah David tapi karena Anin sudah terlanjur kesal ia Tidka berniat bahkan untuk melihatnya saja.
"Nggak ada!" jawab Anin ketus sambil memegangi pergelangan tangannya yang kebas.
Srekkk
David segera mendudukkan Anin dengan paksa dengan menekan kedua bahu Anin, ia pun memanggil karyawan toko.
"Carikan yang pas untuknya!" perintahnya,meskipun karyawan.toki tampak bingung, tapi mereka tetap mencarikannya.
"Baik!"
Setelah mendapatnya, David pun mengajak Anin berpindah ke toko sebelah, sebuah toko baju.
"Mau pilih sendiri atau biarkan mereka yang bekerja!"
"Saya punya hak untuk menolak!"
Mendapat jawaban dari Anin membuat David kesal, ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Anin membuat Anin terhenyak dibuatnya.
"Tidak!" ucap David dengan suara yang begitu ditekankan.
"Kamu bukan siapa-siapa saya!" Anin masih berusaha mendebat meskipun ia tidak nyaman dengan posisinya saat ini.
"Tapi akan menjadi orang yang terpenting dalam hidup kamu!"
"Maksa ya!"
Tapi David tidak peduli dengan segala penolakan yang di lakukan oleh Anin,
David pun meminta karyawan untuk memilihkan dress panjang yang paling cocok untuk Anin.
"Sudah kan, bisa lepaskan saya sekarang?" tanya Anin setelah mendapatkan dres yang cocok dengan sepatu yang tadi sudah di beli dan pas di tubuh Anin.
"Nggak!" David masih enggan melepaskan Anin. Ia khawatir Anin akan kabur.
"Aku mau sholat, nggak denger azan tuh!" ucap Anin sambil menunjuk ke arah atas seolah-olah ia bisa melihat suara itu di atas.
Walaupun mendengus kesal akhirnya David pun melepaskannya, tapi tidak berarti meninggalkannya.
"Ngapain di sini?" tanya Anin saat David mengikuti ya hingga depan mushola.
"Nunguin kamu!" jawabnya dengan enteng sambil sibuk dengan ponselnya.
"Solat kek, masak nunguin orang sholat!"
"Sudah selesai kan sholatnya?" tanya David seolah-olah tidak mendengarkan Omelan dari Anin.
"Bisa kan biarkan aku pergi saja? Semua sudah selesai kan? Ayolah ini sudah jam dua siang, laper, capek, mau bobok siang di rumah, kerja, apa lagi ya_!" Anin sampai bingung harus menjalankan bagaimana lagi dengan pria di depannya itu.
"Sudah selesai ngomelnya?" tanya David dengan santai.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal azim!?" keluh Anin yang sudah sangat merasa kesal dengan kelakuajn David.
Srekkk
Bukannya membiarkan Anin pergi, tapi sekali lagi David malah menarik tangan Anin setelah Anin selesai memakai sepatunya.
****
Blitar
"Mas, itu apa?" tanya Zahra saat melihat suaminya datang-datang membawa beberapa map di tangannya.
"Assalamualaikum, dek!" sapa ustad Zaki membuat Zahra tersenyum.
"Waalaikum salam, mas!" dengan cepat Zahra menyambut tangan suaminya dengan tangannya yang masih tersambung dengan slang infus.
Meskipun ia merasa sudah sehat tapi dokter masih belum memperbolehkannya pulang karena ia masih harus benar-benar bed rest dan mendapatkan perawatan intensif dari dokter.
"Bagaimana, apa dokter sudah memberikan obat?" tanya ustad Zaki dengan lembut sambil mengusap kepala sang istri.
"Sudah, baru saja. Di masukin lewat sini!" ucap Zahra dengan manja sambil menunjuk jarum infusnya, "Ini sakit banget loh mas, kapan kata dokter infusnya boleh di lepas?"
"Kalau keadaan dek Zahra sudah stabil, besok pagi juga sudah bisa di lepas dek. Bagaimana ada yang sakit? Atau dek Zahra ingin sesuatu?"
Zahra pun menggelengkan kepalanya,
"Mas harap dek Zahra tidak perlu sungkan saat menginginkan sesuatu, insyaallah kalau mas bisa, mas pasti Carikan!"
"Memang kapan Zahra pernah sungkan!"
Ucapan Zahra berhasil membuat ustad Zaki tertawa, ia pun segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tidak kelepasan.
"Oh iya,mas hampir lupa!" ustad Zaki pun meletakkan map-map itu di atas pangkuan zahra dan membukanya satu per satu,
"Ini ada formulir beberapa universitas!"
Zahra mengerutkan keningnya, "Buat apa mas?"
"Buat dek Zahra! Ini formulir semua universitas yang ada di Blitar, malang, Surabaya, Tulungagung. Dek Zahra tinggal pilih atau isi semua saja nanti biar bisa milih mana yang dek Zahra benar-benar srek untuk daftar!"
Zahra pun segera menggenggam tangan suaminya dan mengusap punggung tangannya,
"Enggak mas, Zahra sudah yakin dengan keputusan Zahra!"
"Tapi dek_!"
"Enggak mas, Zahra ingin fokus dengan baby! Walaupun Zahra masih belum berpengalaman sama sekali, tapi Zahra pengen nanti anak Zahra bisa merasakan kasih sayang Zahra sepenuhnya!"
"Makasih ya dek, sudah menjadi istri mas. Mas nggak tahu harus membalasnya dengan apa lagi!"
"Dengan tetap sayangi Zahra seperti ini, sudah cukup mas!"
Srekkkk
Ustad Zaki puji segera berhambur memeluk Zahra, walaupun begitu ia tidak berani terlalu keras memeluknya.
"Mas kangen!" bisik ustad Zaki,
srekkk
Dengan cepat Zahra mendorong tubuh ustad Zaki, "Mas, awas ya!" ancam Zahra.
"Gimana lagi, masalahnya ini sudah_!" ucap ustad Zaki sambil melirik ke arah bawah, "Dia sudah terlalu lama puasa!"
"Dasar mesum!"
"Nggak pa pa deh, cepet sembuh ya istri kecilku. Nanti pas di rumah_!"
"Tetep nggak boleh!" potong Zahra dengan cepat.
"Ya udah deh, peluk aja begini terus, Sampek puas!" ucap ustad Zaki sambil kembali memeluk tubuh istrinya, tapi nyatanya bibirnya tidak bisa di kondisikan, bibir ustad Zaki terus menjelajahi leher jenjang Zahra yang tidak tertutup hijab.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1