Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 48


__ADS_3

Zahra menyambut kedatangan kedua mertuanya dengan begitu senang,


"Kalau besok nggak memungkinkan untuk datang, lebih baik Zaki juga nggak usah datang. Biar abi sama ummi saja yang mewakili!" ucap ummi sambil memijat kaki zahra.


"Nggak kok ummi, biar mas ustad ikut sama Abi sama ummi. Nggak enak sama ustad Farid!"


"Farid pasti ngerti. ya kan bi?" ummi meminta persetujuan suaminya.


"Iya Zah, kesehatan kamu lebih penting! Ustad farid pasti bisa mengerti!"


Zahra benar-benar tidak enak jika sampai suaminya tidak datang, ia tahu cerita mereka di masa kecil dari ummi, seberapa dekat mereka saat kecil.


Setelah larut barulah ummi dan Abi berpamitan, seperti biasa mereka akan menginap di rumah ustad zaki.


"Besok mungkin ummi tidak sempat mampir ke sini, nggak pa pa ya!"


"Nggak pa pa ummi, Zahra sudah seneng ummi mau mampir sekarang! Ummi pasti capek banget!"


"Alhamdulillah nggak pa pa!"


Mereka pun benar-benar berpamitan, ustad Zaki pun mengantar mereka ke depan karena ada Amir yang menunggunya di depan.


"Makasih ya Mir!" ucap ustad Zaki sambil mencondongkan tubuhnya ke mobil yang terbuka bagian jendela kacanya hingga bisa menggapai wajah Amir.


"Aman ustad, nggak masalah. Kami pergi dulu ya ustad, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki melambaikan tangannya mengantar kepergian mobil yang membawa kedua orang tuanya. Segera ia bergegas kembali masuk ke rumah perawatan Zahra setelah mobil tidak terlihat lagi.


"Assalamualaikum, dek!" sapanya sambil menghampiri sang istri dan mengecup keningnya seperti sudah lama sekali meninggalkan sang istri.


"Waalaikum salam, mas nggak nganter Sampek rumah?" tanya Zahra setelah sang suami duduk di depannya.


"Mas minta Amir buat jemput tadi!"


"Mas Amir ke sini?" tanya Zahra sambil mengeryitkan keningnya.


"Iya, apa ada masalah?"


"Nggak sih, tapi semalam mas Imron telpon nanyain mas Amir!"


"Nanyain apa?"


"Nggak tahu, tiba-tiba tanya gitu. Kayaknya ada yang penting. Ya sudahlah biar di urus sama mas Imron sendiri!" ucap Zahra menyerah.


"Oh iya mas tadi siang Nur ke sini loh!" Zahra mulai bercerita.


"Ada apa? Apa nur juga nanyain Amir?" tanya ustad Zaki sengaja membuat candaan pada sang istri.


"Apaan sih, enggak mas. Ngapain juga nur nanyain mas Amir!?"


"Ya siapa tahu suka sama Amir!"


"Astaghfirullah hal azim!"


Ustad Zaki terkejut saat Zahra tiba-tiba beristigfar,


"Ada apa?"


"Nur suka_!"


"Sama Amir?" tanya ustad Zaki dengan cepat bahkan sebelum Zahra melanjutkan ucapannya.


"Apaan sih, bukan!"


"Lalu?"


"Sama ustad Parid!"

__ADS_1


"Hahhhh?" ustad Zaki begitu terkejut, "Kapan mereka bertemu?" tanyanya lagi.


"Saat sama-sama jenguk aku di sini."


"Hehhhh, sayangnya kayaknya Farid bukan jodoh nur!"


"Ya begitulah!"


Mereka pun kembali saling diam, hingga tiba-tiba Zahra melakukan gerakan secara tiba-tiba dengan menepuk kedua paha Ustad Zaki,


"Mas aku pengen bakso!" ucapnya tiba-tiba.


"Hahhh, sekarang?" tanyanya saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjuk ke angka sebelas.


"Hmmm!" Zahra mengangukkan kepalanya beberapa kali.


"Tapi sudah malam dek, memang masih ada yang buka?"


"Ada!"


"Di mana?"


"Nggak tahu!" jawab Zahra bingung. Ia juga tidak tahu tapi ia seperti tiba-tiba mencium aroma bakso yang mengida membuat perutnya lapar. "Ya sudahlah, Zahra tahan Sampek besok pagi aja!" ucap Zahra kemudian mengganti posisinya menjadi tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Melihat wajah sedih Zahra, membuat ustad Zaki tidak tega.


"Ya udah mas cariin ya!"


Mendengar hal itu, Zahra kembali bangkit, ia tersenyum manis, "Serius mas mau nyariin?"


"Iya, tapi mas nggak janji bakal dapat ya!" ucap Ustad Zaki lagi dan Zahra hanya bisa menganguk.


"Mas, serius nggak pa pa?" tanya Zahra lagi merasa tidak tega karena malam-malam malah meminta suaminya keluar lagi.


"Hmmm, kamu istirahat ya! Tidur nanti pas mas kembali, mas bangunin lagi! Biar mas minta suster buat menenin!" ucap Ustad Zaki sambil membantu Zahra merebahkan tubuhnya dan kembali ia meninggalkan kecupan di kening Zahra.


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki hendak berbali tapi kembali Zahra menatap tangan ustad Zaki,


"Ada apa sayang?" tanya ustad Zaki dengan lembut.


"Boleh request nggak mas?"


"Boleh! Apa?"


"Baksonya yang rahasia ya!" ucap Zahra.


"Hahhh???"


"Nanti tukang baksonya tahu mas!"


"Beneran tahu?"


"Hmmm!" Zahra mengangukkan kepalanya dengan cepat.


Ustad Zaki pun akhrinya meninggalkan ruang perawatan Zahra, ia meminta suster untuk menemani Zahra selama ia pergi.


Beruntung motornya tetap di parkir di parkiran rumah sakit, hingga ia gampang jika ingin pergi ke mana-mana.


Hingga melewati beberapa kedai bakso nyatanya sudah tutup.


Setelah satu jam berkeliling, akhrinya ia menemukan warung tenda di dekat pasar yang masih buka,


"Alhamdulillah!"


Segera ia memarkirkan motornya di pinggir jalan dan turun dari motor. Ia segera menghampiri tenda bakso.


"Mas, pesan baksonya dua porsi di bungkus ya!"

__ADS_1


"Siap mas, silahkan duduk dulu!"


Ustad Zaki pun hampir duduk tapi segera ia teringat dnwgan pesan sang istri, ia pun kembali menghampiri penjual bakso,


"Oh iya mas, baksonya yang rahasia ya!"


"Siap bos!"


Mendengar jawaban mas tukang bakso, Ustad Zaki malah tampak bingung.


Masak cuma aku yang nggak tahu yang namanya bakso rahasia ..., batinnya sambil menatap mas tukang bakso.


"Silahkan duduk dulu bos!" ucap mas tukang bakso lagi menyadarkan ustad Zaki.


Bukannya duduk, ustad Zaki pun memilih mendekati tukang bakso,


"Mas mau tanya!"


"Iya, ada apa?"


"Memangnya bakso rahasia itu apa sih?"


Tukang bakso malah tertawa,


"Gimana sing mas,mas yang pesen mas juga yang nggak tahu!"


"Itu tadi pesenan istri!"


"Pantes!"


"Jadi?" tanya ustad Zaki lagi.


"Bakso rahasia itu maksudnya bakso yang nggak di kasih tahu mas, itu bahasa-bahasa gaul anak jaman now!"


Astaghfirullah hal azim ...., ustad Zaki hanya bisa mengelus dada mendengar jawab mas tukang bakso.


Setelah menunggu seperempat jam akhirnya bakso siap. Ustad Zaki segera melakukan pembayaran.


Dengan cepat ustad Zaki kembali ke rumah sakit, dan benar saja sesampainya di rumah sakit sang istri sudah tertidur pulas.


"Bangunin nggak ya!?" ustad Zaki terlihat gundah.


Akhrinya ia pun memutuskan untuk membangunkan sang istri,


"Dek, baksonya datang. Jadi makan sekarang atau besok saja?" tanyanya dengan lembut membuat Zahra mengerjakan matanya.


"Mas sudah datang?" tanyanya dengan masih sulit membuka matanya.


"Iya, sama bakso rahasianya!" ucap ustad Zaki merasa senang karena tahu maksud sang istri.


"Baiklah Zahra bangun!" ucap zahra dan ustad Zaki pun membantu Zahra bangun.


"Bentar ya, mas masukkan ke mangkuk dulu!" ustad Zaki tampak begitu repot menyiapkan peralatan makan untuk zahra, tidak sampai di situ, ustad Zaki juga menyuapkannya pada Zahra karena Zahra makan sambil tidur.


Tampak sekali matanya sulit untuk di buka tapi perutnya tengah lapar.


"Nggak pakek sambel ya mas?" tanya Zahra saat tidak merasakan pedas sama sekali juga tidak ada rasa saus di dalamnya.


"Nggak boleh dulu ya, kata dokter belum boleh makan pedas!" ucap ustadz Zaki sambil menyiapkan kembali bakso ke mulutnya, Zahra hanya manggut-manggut tanpa berniat membuka matanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2