
Sepanjang perjalanan pulang ustad Farid terus mengingat perkataan Wahid.
Hingga setibanya di depan rumah, ia mendapati sebuah mobil terparkir di sana, mobil itu tampak tidak asing.
Setelah memarkirkan motornya, ia baru menyadari sedari tadi mungkin pria itu sudah mengamatinya. Pria yang tengah duduk di teras rumahnya bersama sang istri.
Anin dengan cepat menghampirinya,
"Assalamualaikum, mas!" sapa Anin sambil meraih tangan ustad Farid dan mencium punggung tangannya dan dengan cepat ustad farid mengusap kepala Anin seperti biasanya.
"Waalaikum salam, ada tamu dek?" tanyanya dengan manik mata yang tengah memperhatikan tamu yang mendatangi istrinya.
"Iya mas, mas David katanya mau ngobrol tadi."
"Ohhh,"
Melihat raut wajah suaminya yang tidak biasa, Anin segera mengkonfirmasi,
"Tapi baru datang kok mas, Anin bahkan belum menawarkan air padanya."
Ustad Farid segera tersenyum dan berjalan mendekat ke arah David yang bahkan tidak beranjak dari tempatnya.
"Baru datang?" tanya David dan kembali ustad Farid tersenyum dengan gaya santainya meskipun hatinya sekarang tengah bergemuruh.
"Assalamualaikum," sapa ustad Farid.
"Hmmm," jawab David.
Ustad Farid pun duduk di tempat yang tadi sempat di duduki Anin,
"Ada hal yang begitu penting hingga anda repot-repot datang ke sini, bukankah anak buah anda betiu banyak?"
__ADS_1
"Begitukah caramu menyambut tamu?" David malah balik bertanya.
Ustad Farid tidak langsung menjawab, ia melihat jam yang melingkar di lengannya,
"Sudah jam 9 malam, saya rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menerima tamu. Jika pun ada, mungkin ada sesuatu yang sangat penting."
Anin masih terdiam dan berdiri di samping tempat duduk suaminya, ia khawatir akan terjadi hal yang tidak di inginkan nanti.
"Ahhhh iya, saya lupa. Tapi sepertinya ada yang lupa jika dia sudah menjadi seorang suami. Meninggalkan istrinya begitu lama sendiri di dalam rumah bahkan sampai jam 9 malam, bukankah itu juga tidak baik. Sebaiknya kamu jaga baik-baik istri kamu, kalau tidak ...," David sengaja menghentikan ucapannya dan kembali menatap ustad Farid sambil tersenyum.
"Kalau tidak, mungkin tidak hanya aku yang menginginkannya. Banyak pria yang juga menginginkannya, ustad kampung! Selamat malam." ucapnya lagi sambil berlalu begitu saja meninggalkan Anin dan ustad Farid.
Hingga sampai di samping mobilnya, saat hendak membuka pintu mobil ia kembali melihat ke arah ustad Farid,
"Setidaknya belikan Anin mobil yang seperti ini, kalau ingin bersaing denganku." ucapnya sambil tersenyum.
Ustad Farid yang sudah berdiri pun mendekati David dan mengusap kemajanya bagian bahu seperti tengah menghilangkan debu di sana,
Dengan raut kesal, David pun akhirnya membuka pintu mobilnya dan masuk begitu saja. Menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah ustad farid dengan kekesalan.
Ustad Farid pun segera berjalan masuk melewati Anin begitu saja membuat Anin merasa bersalah.
Anin pun segera menyusul suaminya setelah mengunci pintu.
Saat Anin masuk ke dalam kamar, ia sudah mendapati ustad Farid yang mengganti bajunya dengan kaos tipis dan celana pendek sebatas lutut.
"Mas, mas Farid marah ya karena mas David ke sini?"
Mendengar pertanyaan Anin, ustad Farid mebgehntikan kegiatannya yang tengah menggantung kemejanya. Ia pun memilih menghampiri Anin dan menakup kedua bahunya.
"Maaf, mas tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, mas merasa_," ustad farid menghentikan ucapanya.
__ADS_1
"Cemburu?" tanya Anin.
Bukannya menjawab, ustad Farid malah mengusap pipi Anin,
"Dek,"
"Iya?"
"Jika seandainya kita_, maksud mas kita sudah lama menikah tapi kita belum_," terlihat ustad Farid begitu ragu mengatakannya,
"Sudahlah, lupakan. Sebaiknya kita tidur!" ustad Farid hendak melepaskan tangannya dari wajah Anin tapi Anin malah menahannya agar tetap di pipi Anin.
"Anin siap mas,"
Mendengar ucapan Anin yang begitu pasti itu, membuat ustad farid tersenyum, rasanya seperti ada jutaan bunga yang tengah mekar di hatinya yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ia bahkan tidak mampu menahan bibirnya agar tidak tersenyum, meskipun susah payah ia menahannya tetap saja senyum itu muncul.
"Baiklah, kalau begitu kita ambil wudhu ya, kita sholat dulu." ucap ustad Farid kemudian.
"Tadi Anin sudah sholat isya'."
"Bukan sholat isya' dek, kita sholat Sunnah ya, biar insyaallah di jaga oleh Allah."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1