
Saat menjelang pagi, saat ustad Farid tengah menyelesaikan sholat tahajud, Anin terbangun, ia hendak pergi ke kamar mandi. Tapi baru saja sampai di ambang pintu kamar mandi, Anin menghentikan langkanya.
"Aduhhhh," keluh Anin sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Keluh Anin yang lirih ternyata mampu di dengar oleh sang suami, dengan sigap ustad Farid berdiri dari tempatnya setelah mengakhiri sholatnya.
"Dek, ada apa?" tanyanya sambil memapah Anin.
"Mas, Anin balik ke tempat tidur aja." keluh Anin sambil memegang erat lengan suaminya, "Kayaknya Anin tadi terlalu cepat berdirinya jadi nyeri."
"Baiklah, hati-hati ya." ustad Farid pun memapah Anin kembali duduk di tempat tidur.
"Mas ambilkan air hangat ya."
Anin mengangukkan kepalanya karena bukannya reda, rasa nyeri itu semakin terasa dan jaraknya juga semakin sering.
"Masssss," ucap Anin dengan penuh penekanan saat rasa nyeri itu semakin menjadi membuat ustad farid mengurungkan niatnya untuk ke dapur.
Budhe yang mendengar teriakan dari Anin pun juga keluar dari kamar dan menghampiri kamar Anin.
Tampak tubuh Anin sudah basah dengan peluh, tangannya juga terus mencengkeram apa saja yang dekat dengannya.
"Mas perut Anin sakit sekali, rasanya kayak di remas-remas." ucap Anin yang sudah berada di gendongan sang suami.
"Budhe, panggil siapa saja yang punya mobil, kita bawa dek Anin ke rumah sakit." perintah ustad Farid pada budhe yang juga tengah panik.
"Baik, sebentar." dengan cepat wanita paruh baya itu mengambil ponselnya, tangannya juga tampak gemetar memegangi ponselnya.
"Hallo Giman."
"...."
"Seh, mana suami mu?"
"..."
"Suruh cepet ke sini bawa mobil."
"...."
"Bukan, ke rumah Farid, Anin kayak e mau babaran (melahirkan)."
"..."
"Jo suwi-suwi!"
Budhe mengakhiri panggilannya, ia kembali menghampiri Anin dan ustad Farid yang berada di ruang tamu.
Akhirnya yang di tunggu datang juga, ustad Farid dengan sigap membawa Anin ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan sedangkan budhe kembali ke rumah pak Suroso untuk memberitahukan mereka.
__ADS_1
"Kita harus segera melakukan operasi Cesar, jadi kamu butuh persetujuan dari suaminya." ucap seorang dokter yang barusaja.keluar dari ruang pemeriksaan Anin.
"Lakukan saja yang terbaik, dok." ucap ustad farid dengan begitu yakin.
"Baiklah, silahkan tanda tangan dulu."
Seharusnya hpl nya masih dua Minggu lagi, tapi dokter sudah mengatakan jika bayi Anin harus di keluarkan dengan cara operasi.
Akhrinya ustad Farid pun menandatangani persetujuan operasi.
Apa boleh buat semua itu ia lakukan demi kebaikan anak dan istrinya.
***
Selain mencemaskan istrinya yang ada di ruang operasi, kini ustad Farid tengah memikirkan bagaimana cara membayar biaya rumah sakit sedangkan tabungannya tidak genap satu juta.
Ia menakup wajahnya cemas, hingga sebuah suara berhasil menyadarkannya.
"Nak Farid, bagaimana keadaan Anin?" suara berat itu berhasil membuatnya mengangkat kepalanya.
"Pak, Ani harus operasi sekarang. Kata dokter bayinya harus segera di keluarkan."
"Insyaallah semua lancar,"
"Amiin."
"Ibu nggak ikut pak?"
"Ibumu sama budhe sedang menyiapkan untuk brokohan anak kamu nanti."
Akhirnya setelah dua jam menunggu, seorang perawat keluar dengan membawa inkubator bayi lengkap dengan bayinya. Ustad Farid dan pak Suroso pun segara menghampiri,
"Itu putra saya?" tanya ustad Farid dengan wajah penuh haru saat sebuah lengusan khas bayi keluar dari mulut bayi mungil itu.
"Iya pak, Alhamdulillah yang ini laki-laki dan semuanya sehat."
"Semuanya?" tanya ustad Farid bingung dan belum sampai terjawab pertanyaannya satu inkubator lagi keluar dengan membawa bayi lagi.
"Yang itu perempuan, pak."
"Alhamdulillah," tangis haru pecah dari pak Suroso dan ustad Farid. Mereka saling berpelukan sejenak dan kembali fokus pada bayi-bayi itu.
"Bagaimana saya bisa mengazani mereka sus?" tanya ustad farid lagi sembari mengusap sisa air matanya.
"Silahkan ikut kami ke ruang perawatan bayi ya pak."
"Baik."
__ADS_1
Ustad Farid pun mengikuti langkah suster menuju ke ruang bayi. Tapi segera ia menghentikan langkahnya begitu teringat sesuatu.
"Sus, bagaimana dengan istri saya?"
"Nyonya anin juga Alhamdulillah sehat."
"Alhamdulillah." seketika perasaan lega itu benar-benar lengkap. Sebenarnya ustad Farid maupun Anin sudah tahu kalau mereka tengah di karuniai bayi kembar. Mereka juga sudah mengantisipasi jika Anin akan lahiran dengan cara operasi Cesar.
Setelah mengazani dua buah hatinya, ustad Farid kembali menemui pak Suroso karena memang tidak boleh terlalu lama berada di ruang bayi.
Rupanya Anin sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Begitu masuk ke ruangan Anin, hal pertama yang ia lakukan adalah menciumi wajah sang istri dengan penuh cinta,
"Terimakasih ya dek, karena dek Anin sudah menghadirkan malaikat kecil yang begitu menggemaskan."
Anin hanya mengangukkan kepalanya dengan senyum haru, akhirnya rasa sakitnya terobati dengan wajah lucu malaikat-malaikat kecilnya.
"Istirahatlah. Kata dokter sampai dek Anin keluar angin baru boleh minum. Tidak pa pa kan?"
"Iya mas, Anin mengerti."
Setelah memastikan Anin kembali tidur, pak Suroso pun menyerahkan ari-ari dan baju kotor Anin pada ustad Farid.
"Kamu pulang dulu ya, dan sekalian nanti kalau ke sini ajak ibuk kamu juga."
"Baik pak."
***
"Bagaimana nak, Anin sudah lahir kan? Bagaimana bayinya?" tanya istri pak Suroso bertubi-tubi.
"Alhamdulillah sudah buk, laki-laki dan perempuan. Sehat buk."
"Alhamdulillah."
Benar saja, rupanya di rumah susah ada mas dan mbak ipar Anin, selain Novi dan budhe tentunya. Mereka tengah menyiapkan genduri brokohan untuk kelahiran anak kembar Anin dan ustad Farid.
Setelah menguburkan Batur (ari-ari) bayi, ustad Farid pun lanjut mencuci baju kotor Anin bekas lahiran. Beruntung mas nya Anin bersedia untuk mengundang tetangga genduri jadi ustad Farid bisa menyiapkan barang-barang yang harus di bawa ke rumah sakit.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1