
Sesampainya kembali di rumah sakit, ustad Farid langsung di hadang perawat yang memintanya ke ruang administrasi.
"Ibuk langsung ke kamar Anin saja ya, biar bapak yang gantian pulang."
"Yo wes, ibuk duluan ya."
Setelah memastikan ibu mertuanya ke ruang perawatan Anin, ustad Farid pun menuju ke ruang administrasi.
Sebuah kertas biaya penanganan Anin dan istrinya sudah berpindah ke tangannya. Jumlahnya lumayan banyak hampir sepuluh juta, dan saat ini tabungannya tidak genap satu juta. Ia harus memutar otak untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Meskipun mungkin Anin punya, tapi ia tidak bisa membebankan hal itu pada Anin.
Saat ini yang bisa ia jual, ya motor miliknya. Karena ia beli masih baru dan belum genap dua tahun ia menggunakannya, kalaupun harganya turun mungkin juga tidak begitu banyak.
***
Ini sudah dua hari di rumah sakit, keadaan Anin juga sudah bagus.
"Dek, kalau dek Anin di sini dulu barang satu Minggu gimana?" tanya ustad Farid sambil menyuapkan potongan buah apel ke mulut Anin.
"Kenapa mas? Tadi aku sudah tanya loh sama perawat, katanya kalau nanti dokter ke sini, mungkin sore juga sudah boleh pulang."
"Nggak pa pa dek, tapi kalau mas pikir. Dari pada kita bolak balik rumah sakit ke sini buat kasih asi buat Azzam dan Azzura."
"Jadi mereka belum boleh pulang?"
"Ya begitulah."
"Baiklah kalau gitu Anin di rumah sakit saja." ucap Anin menyerah, "Eh tapi mas, kalau semakin lama Anin di rumah sakit bukannya biaya rumah sakit juga akan meledak."
"Insyaallah nggak pa pa. Allah yang akan kasih jalan."
Ustad Farid sebenarnya sengaja menunda kepulangan Anin agar bisa melunasi biaya administrasi rumah sakit terutama biaya operasi Anin.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk menjual motor, hasil jualnya hanya cukup untuk biaya persalinan dan membeli peralatan bayi saja dan sisa sedikit untuk membeli susu, karena bayi kembarnya tidak akan mungkin cukup dengan asi ibunya saja
"Maaf ya, karena merepotkan kalian terus." ucap ya tidak enak pada karyawannya. Karena setiap kali ada pesanan baju, ustad Farid harus memakai motor karyawannya. Bahkan tidak jarang ia memakainya untuk pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Sebenarnya jika dia mau, ustad Zaki pun sudah menawarinya. Tapi ustad Farid tidak terbiasa merepotkan orang lain, ia lebih memilih menangani semua masalahnya sendiri. Ia hanya berpasrah pada Allah, ia percaya jika Allah akan melihat segala usahanya dan mendengarkan segala doanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering saat ia turun dari ojek online yang membawanya. Sebelum masuk ke dalam rumah sakit untuk menjemput kepulangan istri dan bayi kembarnya, ustad Farid memilih melipir ke tepi teras rumah sakit demi menjawab telpon masuk ke ponselnya.
Ternyata Wahid, sudah lama sekali ia tidak bertegur sapa dengan anak bimbingannya itu,
"Assalamualaikum, ustad." sapanya begitu bersemangat begitu ustad menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.
"Waalaikum salam, Hid. Lama nggak ada kabar, sibuk banget ya?"
"Alhamdulillah iya ustad."
"Wijhhhh gaya kamu tuhz Hid. Nggak berubah-ubah."
"Gimana lagi ustad, memang adanya kayak gini. Oh iya ustad, Wahid denger dari anak-anak, neng Anin lahiran ya?"
"Alhamdulillah iya Hid, kapan nih ke Tulungagung?"
"Maaf ustad, Wahid benar-benar masih sibuk banget, tapi insyaallah bulan depan Wahid berkunjung."
"Insyaallah enggak kok ustad. Oh iya ustad, maaf sebelumnya Wahid nggak ijin dulu sama ustad."
"Maksudnya?"
"Beberapa video ceramah ustad yang sudah lama, Wahid potong-potong trus Wahid masukkan ke aplikasi tok tok ternyata fyp semua, ustad."
"Maksudnya?"
"Ya jangan kaget nanti kalau apa di jalan tiba-tiba di mintai tanda tangan." canda Wahid.
"Berlebihan kamu, Hid. Ada-ada aja, memang ada orang ngefan sama ustad Sampek minta foto segala." sanggah ustad Farid tidak percaya.
"Nggak tahu aja ustad. Oh iya, untuk itu karena Wahid pakek video ustad, jadi sebagian hasilnya Wahid kasih ke ustad."
"Nggak usah, kamu masih butuh banyak biaya buat kuliah kamu. Jadi simpan saja."
__ADS_1
"Sudah terlanjur ustad." ucap Wahid pura-pura menyesal, kemudian tersenyum, "Nggak kok ustad, Alhamdulillah rezeki ini berkah dari ilmu yang ustad Farid berikan buat Wahid. Jadi di terima ya ustad, Wahid malah nggak enak kalau ustad nggak terima."
"Baiklah, saya terima ya. Kamu ikhlas kan?"
"Ya ikhlas yah, ustad."
Setelah mengakhiri obrolan panjangnya dengan Wahid, ustad Farid menjadi cukup penasaran. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah sakit, kebetulan di sebelah rumah sakit ada ATM. Ia mengeluarkan kartu tipisnya yang bahkan sudah tidak ada isinya. Hanya ada seratus ribu saja seingatnya sebagai jaminan agar tidak hangus.
Tapi bibirnya tidak henti-henti nya melantunkan sholawat begitu melihat saldo yang tertera di sana, ada sembilan digit.
Rp. 300.000.000, 00. Berkali-kali ustad Farid menghitungnya, dan hasilnya masih sama.
Karena terlalu bingung ustad Farid mengurungkan niatnya untuk mengambil uang itu, ia kembalj keluar dari ruang mesin ATM dan menelpon Wahid lagi.
"Assalamualaikum, ustad. Ada apa?"
"Waalaikum salam, Hid, kayaknya kamu salah kirim ke saya deh."
"Nggak kok ustad, itu nilai yang pantas untuk ustad dapatkan."
"Lalu buat kamu?"
"Ustad jangan khawatir, Wahid sudah punya. Insyaallah nanti kalau video ustad fyp lagi, Wahid akan transfer lagi, ustad."
Setelah memastikan jika Wahid tidak salah kirim, ustad Farid tidak hentinya mengucap syukur. Dan benar saja janji Allah itu nyata. Tidak hanya senilai uang yang ia keluarkan untuk kebaikan tapi Allah melipat gandakan menjadi dua kali lipat mungkin juga lebih.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1