
"Bagaimana ustad, hari ini jadi ke tempatnya Anin?" tanya Wahid yang juga tengah siap-siap pergi ke kedai.
"Masih mikir itu terus kamu Hid!"
"Ya kan ustad Farid udah janji kemarin!"
"Siapa yang janji!"
"Kemarin!"
"Aku bilangnya kan insyaallah!"
"Sama aja ustad!"
"Ngeyel ya kamu!"
Ustad Farid pun memutuskan untuk keluar lebih dulu meninggalkan Wahid.
Beberapa hari ini bekerja di kedai lalapan milik ustad Zaki cukup membuat mereka mendapatkan pengalaman baru terutama ustad Farid yang awalnya sangat tidak faham soal bisnis dan kini harus mulai membiasakan bertemu dengan klien, mencari bahan dan memastikan pelanggan puas dengan pelayanan kedai.
"Gimana Rid?" tanya ustad Zaki dalam sambungan telponnya.
"Alhamdulillah, untuk kedai yang masih buka beberapa Minggu lumayan ramai!"
"Alhamdulillah kalau gitu, tidak ada yang mengkhawatirkan kan?"
"Untuk sejauh ini masih aman, insyaallah!"
"Oh iya Rid, untuk tawaran pak Purwanto gimana? Kamu sudah setuju?"
"Alhamdulillah sudah, malah kemarin aku sudah ke madrasah!"
"Jadi lebih cepat?"
"Iya, katanya pak Purwanto ada acara selama dua Minggu di luar kota! Jadi aku suruh mengajar lebih cepat!"
__ADS_1
"Baguslah, nanti kalau sudah benar-benar betah. Kamu tinggal cabut SK di Bandung, pindah aja di Tulungagung!"
"Apaan sih kamu Zak, emang enak main pindah-pindah aja!"
"Ya siapa tahu dapat jodoh di sini, kan enak!"
"Enak apanya? Enak namaku jadi berubah Parid?"
"Emang siapa lagi yang panggil kamu Parid selain istri aku?"
"Ada itu si_!" ustad farid segera menghentikan ucapanya begitu sadar ia hampir keceplosan menyebut nama Anin.
Kenapa jadi bawa-bawa dia sih ...., batin ustad Farid.
"Siapa?" tanya ustad Zaki penasaran.
"Bukan, cuma ada deh. Sudah ya, aku mau ketemu klien dulu, nanti sambung lagi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah mendapat sahutan dalam dari seberang sana, ustad Farid pun segera mematikan sambungan telponnya.
***
"Ya Allah, kira-kira datang nggak ya tuh orang!" gumam Anin sambil membantu mengemas keripik.
Melihat Anin yang tengah melamun membuat mbok Jiyah salah satu karyawannya pun bertanya padanya,
"Kenapa nduk? Ada masalah?"
"Kalau menurut mbok Jiyah, kalau orang yang beragama, maksudnya tokoh agama, eh maksudnya orang yang mengerti agama, kalau berjanji di tepati nggak?"
"Yo iya!"
Tapi masalahnya, tadi malah mereka janji mau datang nggak ya ..., batin Anin.
__ADS_1
"Sekarang jam berapa mbok?" tanya Anin kemudian.
"Jam setengah sewelas (setengah sebelas)!"
"Hhhh, masih lama!" keluh Anin lagi.
"Nungui apa to nduk?"
"Bukan apa-apa, kalau gitu Anin pulang dulu ya mbok. Nanti kalau sudah selesai masukkan aja ke keranjang, biar nanti Anin aja yang masukkan ke ronjot!" ucap Anin sambil berdiri dari duduknya, melepas apron dan menggantungnya di dinding bambu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Anin pun akhirnya meninggalkan pabrik gubuk itu, jarak pabrik Dnegan rumahnya hanya sekitar setengah kilo, ia tidak perlu mengunakan motor untuk datang dan pergi dari pabrik ke rumah.
Rumah masih terlihat sepi, sepetinya bapak dan ibuknya masih sibuk di sawah. Anin pun memutuskan untuk langsung ke kamar, ia ingin merebahkan tubuhnya sebentar sebelum keliling menawarkan keripiknya.
Kring kring kring
Alarm ponselnya berbunyi membuat Anin yang tengah terlelap tergagap dan bangun dari tidurnya,
"Ya Allah, jam berapa nih?" tanya Anin bingun padahal sudah pasti jika alarmnya berbunyi itu tandanya jam setengah dua siang. Sengaja Anin menghidupkan alarm agar tidak kebablasan saat tidur siang, tapi nyatanya ia selalu kebablasan. Ia kerap mematikan kembali saat alarm bunyi untuk yang pertama dan kedua dan baru akan bangun saat bunyi yang ke tiga.
Seharusnya ia bangun jam setengah satu tapi selalu jadi bangun jam setengah dua, selain mempunyai tugas menjajakan keripiknya ke toko-toko terdekat ia juga punya tugas untuk menjemput Novi.
Anin pun dengan cepat bangun, karena ia juga belum sholat dhuhur. Untuk mempersingkat waktu, dari pada ke kamar mandi belakang ia memilih lari ke depan mengambil wudhu di kram air yang ada di depan rumah yang biasa ia gunakan untuk menyiram bunga dan mencuci motor,
"Astaghfirullah hal azim!" sentaknya terkejut sambil reflek menutup kepalanya yang tidak mengenakan hijab dan dengan rambutnya yang berantakan saat melintas di ruang tamu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...