
Bukannya membiarkan Anin pergi, tapi sekali lagi David malah menarik tangan Anin setelah Anin selesai memakai sepatunya.
Kali ini David membawa Anin ke sebuah salon, kedua anak buah David sudah berada di sana dengan membawa beberapa paper bag keluaran toko yang sudah mereka singgahi tadi.
"Kenapa ke sini?" tanya Anin sambil meronta minta di lepaskan.
"Makan!"
"Memang di dalam ada makanan?" tanya Anin dengan wajah polosnya.
"Banyak!"
"Hahhh????"
Tidak peduli dengan rasa penasaran Anin, David masih menarik tangannya dan masuk ke dalam salon,
"Apa sudah siap semua?" tanyanya pada salah satu anak buahnya.
"Sudah pak!"
Anin hanya dibuat terpesona dengan cara berkomunikasi antara David dan anak buahnya hingga ia tidak sadar jika kini sudah berada di depan cermin besar dan lengkap dengan segala peralatan rias di atas meja,
Srekkkk
Dengan cepat David menarik tubuh Anin hingga terduduk di kursi.
"Ya Allah, kasar banget jadi orang!" keluh Anin tapi seperti biasa, David dnahn wajah tanpa bersalahnya berlalu begitu saja.
"Buat dia cantik!" samar-samar masih bisa Anin dengan David memberi perintah pada salah satu karyawan salon sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
"Baik pak!"
Karyawan salon pun mulai bertugas sesuatu bagiannya masing-masing, mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku.
"Mbak, mbak!" panggil Anin di sela-sela perawatannya.
"Iya?"
"Sek suwi to mbak (masih lama ya mbak)?" tanya Anin.
"Bentar lagi mbak, ada apa?"
"Sekarang jam berapa?" tanya Anin lagi.
Tampak salah satu dari mereka melihat jam tangannya, "Jam 3 mbak!"
"Oh, satu jam lagi!" Anin pun kembali memejamkan mata, membiarkan para petugas salon itu merias wajahnya.
"Silahkan ganti baju, mbak!" ucap salah satu petugas salon membuat Anin membuka matanya, sepertinya ia baru saja tertidur,
"Jam berapa?" tanyanya dengan sedikit gelagapan.
"Jam setengah empat!"
__ADS_1
"Hehhhh aman!" ucapnya sambil mengusap dadanya.
"Ini bajunya mbak!' ucap salah satu karyawan salon, dengan cepat Anin turun dari tempatnya dan mengambil baju itu,
"Di mana ruang gantinya?" tanyanya.
"Sana mbak, mari saya antar!"
"Nggak perlu!"
Anin pun segera berlalu menuju ke ruang ganti, tapi segera langkahnya terhenti saat salah satu pegawai salon mengikutinya.
"Trus ngapain mbaknya ikut?"
"Saya yang akan bantu mbak!"
"Nggak, aku bisa sendiri!" tolak Anin sambil berlalu dengan cepat masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya agar tidak ada yang mengikutinya.
"Katanya ada makanan, bukanya di ajak makan malah di dandanin kayak gini, nama belum sarapan lagi tadi, nih sudah sore lagi. Gimana kalau bapak Sampek nyariin dikira anak gadisnya ilang! Emang dasar Dapit kurang kerjaan!" gerutu Anin sambil mengganti bajunya dan memasukkan baju lamanya ke dalam paper bag.
Setelah memastikan semuanya masuk, ia pun keluar dari ruang ganti.
Ternyata David sudah menunggunya di sofa, David segera berdiri menyambut Anin dengan penampilan yang berbeda.
"Bagaimana pak?" tanya petugas salon meminta pendapat David.
"Bagus!" jawab David yang tampak terpukau dengan penampilan baru Anin.
David hendak menggandeng tangan Anin lagi tapi dengan cepat Anin menghindar,
"Baiklah, berjalanlah di depan!" ucap David dan mempersilahkan Anin berjalan di depannya,
Jadi benar nggak jadi makan ..., batin Anin sambil berjalan keluar dari salon dan menuju ke mobil.
Srekkk
Tapi tanpa permisi tiba-tiba tangan David menggandeng tangan Anin membuat Anin dengan cepat mengibaskan tangannya begitu terkejut.
"Sudah ku bilang jangan pegang-pegang!" ucap Anin dengan sedikit membentak.
"Kenapa sih? Bukan muhrim?"
"Nah itu tahu jawabannya!" ucap Anin dengan kesal, "Sudah di bilang aku punya wudhu masih pegang-pegang!" gerutunya kemudian.
"Aku mau naik motor!"
"Nggak, motornya sudah di bawa Reno!" tolak David dengan tegas.
"Emang siapa Reno?" tanpa menjawab pertanyaan Anin, David pun menunjuk kepada salah satu anak buahnya yang tengah berada di atas motornya.
"Bisa kan nggak usah banyak tanya lagi, jadi masuklah!" perintah David dan Anin tidak ada pilihan lain sekarang. Ia pun terpaksa ikut masuk ke dalam mobil.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Anin saat sudah setengah perjalanan.
__ADS_1
"Makan malam!"
Ahhhh, akhirnya makan juga ..., keluhnya dalam hati. Ehhh tapi di mana? Kenapa rapi sekali?
"Di mana?" tanya Anin dengan cepat.
"Kalau aku kasih tahu kamu, apa aku tidak perlu memaksa sekarang?" ucap David sambil kembali fokus dengan benda pipih di tangannya, ia sedikit pengertian dengan tidak mendekat ke arah Anin meskipun mereka duduk bersebelahan karena saat ini Anin memilih duduk berhimpitan dengan sisi samping mobil dan memberi ruang yang cukup luas di antara mereka.
"istttt!" keluh Anin sambil kembali fokus ke jalanan, ia sebenarnya tengah menghafalkan jalan agar nanti jika David dan kawan-kawannya macam-macam, ia bisa kabur.
***
Deringan ponsel memenuhi ruangan yang berukuran lima kali lima meter itu, membuat dua orang yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing menoleh pada ponsel yang tengah tersambung dengan carger itu,
"Itu ponsel ustad!" ucap Wahid yang menyadarinya lebih cepat.
Ustad Farid yang tengah memeriksa beberapa nota belanja pun dengan cepat berdiri dan menghampirinya sebelum deringan ponsel itu berhenti.
"Assalamualaikum," sapa ustad Farid, terlihat nomor baru di sana.
"Waalaikum salam, ustad! saya yang tadi di kedai." ucap di seberang sana membuat pikiran ustad Farid kembali ke tadi siang.
"Iya ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi begitu mengingat kemungkinan orang yang ada di sambungan telponnya.
"Begini ustad, kebetulan menantu saya hanya bisa hari ini ketemunya ustad. Apa ustad tidak keberatan jika kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi siang, malam ini?"
"Insyaallah tidak keberatan pak." ucap ustad farid karena memang ia tidak tengah sibuk, keberadaannya di Tulungagung sedikit mengurangi kesibukannya.
"Alhamdulillah kalau begitu, nanti saya kirim lokasinya biar ustad mudah mencarinya!"
"Baik pak!"
Setelah menutup sambungan telponnya, sebuah notif pesan muncul dan ternyata dari nomor yang sama, pria itu mengirim sebuah lokasi yang akan di jadikan tempat pertemuan nanti malam.
"Aku ikut ya ustad!" ucap Wahid, rupanya sedari tadi Wahid mencuri dengan pembicaraan ustad Farid.
"Nguping ya?"
"Nggak sengaja dengar ustad!" ucap Wahid sambil tersenyum.
"Baiklah, sekalian kalau gitu. Tolong ambilkan celanaku di tempat laundry ya, aku mau selesaikan ini dulu!"
"Siap ustad!"
Dengan cepat Wahid berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...