
Setelah acara ijab Qabul selesai, penghulu pun segera berpamitan untuk pergi karena ada acara nikahan di tempat lain,
Sedangkan yang lainnya saling berbincang dulu, terutama pak Suroso dan Abah Dadang. Meraka dua sahabat yang sudah bertahun-tahun terpisah, akhhehya pernikahan kedua anaknya mempersatukan mereka lagi.
Setelah cukup lama bercengkrama, pihak perempuan segera kembali pulang untuk menyambut kedatangan pihak laki-laki.
Pihak perias Anin sudah menunggu untuk mengantin kembali bajunya Dangan pakaian adat Jawa. Dengan cepat mereka bekerja sambil menunggu pengantin pria datang.
"Memang mau ganti berapa kali mbak?" tanya Anin saat menatap baju penganti yang berjejer.
"Tiga kali mbak, yang duancuma buat foto saja!"
"Nggak kurang banyak!?" gumam Anin.
Sepeti pada adat Jawa umumnya, meskipun tidak besar tetap ada kembar Mayang yang akan mengirimi temu pengantin.
Akhrinya pihak laki-laki datang dengan rombongannya dengan membawa seserahan.
Sebelum sampai di rumah mempelai, terlebih dulu pengantin laki-laki di stop untuk di ganti bajunya menjadi baju pengantin yah di bawa perias pengantin. Meskipun hanya perias kampung, tapi teralatannua cukup lengkap.
Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang sama dengan yang di pakai Anin, ustad farid pun kembali bergabung dengan rombongan.
Kedatangan mereka langsung di sambut dengan sholawat atas nabi.
Acara pun di mulai dengan penyerahan sanggan. Sanggan diberikan pihak mempelai pria kepada kedua orangtua mempelai wanita sebagai bentuk tebusan putri mereka.
Satu per satu snaggan di berikan, sesuai arahan Aan kemarin.
Ya Allah, dia cantik sekali .... batin ustad farid saat melirik wanita yang duduk sendirian di atas pelaminan itu.
Ya Allah jantungku ..., ternyata jantung Anin pun tidak kalah berdisko saat menatap ustad farid yang begitu tampan dengan baju pengantin adat Jawa yang di kenakannya.
Kemudian ustad Farid pun segera diapit oleh sesepuh pria atau pria yang di sepuhkan di kampung Anin dan dilakukan upacara penyerahan Sanggan.
Ustad Farid di bawa mendekat pada Anin yang juga sudah berjalan di tuntun oleh perias pengantin untuk mengikuti tahapan upacara berikutnya yaitu upacara balangan gantal. Balangan artinya melempar, sedangkan gantal artinya daun sirih yang diisi dengan bunga pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau yang diikat dengan menggunakan benang lawe.
Upacara ini dilakukan dari arah berlawanan, berjarak sekitar dua meter. Mempelai pria melemparkan gantal ke dahi, dada dan lutut mempelai wanita. Lalu dibalas oleh mempelai wanita yang melempar gantal ke dada dan lutut mempelai pria. Ritual ini bertujuan untuk saling melempar kasih sayang.
Acara pun berlanjut, kedua mempelai di giring ke pelaminan. Saat sampai di pelaminan, prosesi dilanjutkan dengan upacara selimut slindur. Bu Wiji tampak menyelimuti kedua lengan pengantin dengan kain sindur. Setelah itu Anin dan ustad Farid berjalan pelan-pelan menuju tempat duduk pengantin, diikuti oleh kedua orangtua.
Setelah sampai di pelaminan, ustad Farid dan Anin diminta untuk tetap berdiri berdampingan dengan posisi menghadap tamu undangan.
__ADS_1
Tampak beberapa tamu mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya.
Dengan disaksikan ibu Wiji, pak Suroso mendudukan kedua mempelai ke kursi pengantin sambil memegang dan menepuk-nepuk bahu keduanya. Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua mempelai telah "ditanam" agar menjadi pasangan yang mandiri.
Kemudian acara di lanjut Dnegan Kacar kucur, ustad Farid diminta menuangkan isi keba ke pangkuan Anin dan diterima dengan kain sindur. Diatur sedemikian rupa agar isi keba tidak habis sama sekali dan tidak ada barang satupun yang tercecer.
Ini adalah lambang suami yang bertugas sebagai mencari nafkah untuk keluarga dan sebagai simbolik dari menyerahkan hasil kerja kerasnya kepada istri.
Kemudian upacara di lanjut dengan upacara dulangan. Dalam upacara ini kedua pengantin baru saling menyuapi nasi satu sama lain kemudian memberi minum satu sama lain.
Prosesi berikutnya adalah mapag besan atau upacara besan martuwi atau upacara besan tilik pitik. Prosesi ini dilakukan karena orang tua mempelai pria tidak diperkenankan hadir selama prosesi panggih.
Beruntung kedua orang tua ustad Farid bisa mengerti, mereka memilih menunggu di masjid hingga acara temu manten selesai.
Prosesi yang terakhir dalam panggih adalah sungkeman. Setelah kedua orang tua ustad Farid ikut bergabung, barulah di adakan acara sungkeman.
Sungkeman dilakukan sebagai wujud bahwa kedua mempelai akan patuh dan berbakti pada orangtua mereka. Pada prosesi ini, kedua mempelai bersembah sujud kepada kedua orangtua untuk memohon doa restu serta memohon maaf atas segala khilaf dan kesalahan. Kedua mempelai memohon doa dan restu kepada orangtua agar menjadi keluarga yang bahagia.
Karena rangkaian acara yang cukup panjang ini, membuat acara temu manten selesai tepat waktu dhuhur.
Akhirnya rombongan penganti laki-laki pun berpamitan untuk pulang. Ustad Farid dan Anin pun menyalami mereka.
"Ini ya ustad baju gantinya!" ucap Wahid sambil menyerahkan membuat tas ransel pada ustad Farid yang berisi barang-barang pribadi dan beberapa baju milik ustad Farid.
"Sama-sama, ustad. Semangat buat nanti malam!" ucapnya sambil tersenyum pada keduanya membuat Anin memalingkan wajahnya yang sudah oersenu merah agar tidak di sadar oleh ustad Farid dan tamu lainnya.
Apaan, memang kita mau ngapain, batin Anin sambil menyembunyikan rasa malunya.
Akhrinya semua rombongan mempelai pria sudah pergi, kini tinggal beberapa tamu orang tua Anin saja yang datang. Bu Wiji pun mendekati Anin dan ustad Farid yang masih berdiri di depan menyambut tamu.
"Kalian istirahat dulu saja, sekalian sholat dhuhur. Biar bapak sama ibuk yang nyambut tamu!"
"Baik buk!"
Anin pun menatap ustad Farid, bingung bagaimana harus bicaranya.
"Aku udah tahu!" ucap ustad Farid sambil berjalan lebih dulu melewati Anin.
"Baguslah!" ucap Anin sambil mengedikkan kedua bahunya.
Anin pun lalu mengikuti ustad farid yang sudah lebih dulu berjalan masuk dengan membawa tas ranselnya.
__ADS_1
Ini yang mana kamarnya? batinnya ustad Farid bingung saat melihat ada dua pintu di depannya.
"Kesini kali ya!" gumamnya sambil tangannya hampir menarik handle pintu.
"Ngapain ke situ mas?" pertanyaan itu membuat ustad farid mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, ia kembali menoleh ke belakang.
"Kamar Anin yang ini!" ucap Anin sambil mengetuk pintu kamarnya dengan jari.
"Ohhhh!"
Ceklek
Baru saja ingin berbalik, tiba-tiba pintu di hadapannya terbuka dari dalam,
"Ustad!"
Ustad Farid begitu terkejut saat melihat salah satu muridnya berada di rumah itu, sepertinya ia lupa jika sudah pernah bertemu Novi sebelum ya di rumah ini.
",Novi, kamu di sini juga?"
"Kayaknya ustad terlalu gugup karena mau malam pertama Sampek lupa kalau Novi ini adik ya mbak Anin!"
Mendengar celotehan Novi, seketika mata Anin melotot tidak percaya,
"Nopiiiii, ngomong apa sih. Sana pergi!"
"Ye, yang mau malam pertama ngusir-ngusir. Masih siang ini!" ledek Novi lagi, dan sebelum sandal hak tinggi Anin melayang di kepalanya Novi sudah lebih dulu kabur.
"Mas ustad, jangan dengerin ya omongan Nopi, dia suka gaco kalau ngomong! Ngawur pokoknya!"
"Heeee!" ustad Farid malah meringis, "Tapi aku suka!" ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar melewati Anin begitu saja.
Anin masih terpaku tidak percaya dengan yang baru di lihat dari ustad Farid.
"Apa maksudnya heeee?" ucapnya sambil menirukan senyum ustad Farid.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...