Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 70


__ADS_3

Akhirnya semua barang masuk ke dalam rumah, Wahid juga ikut membantu menatap barang-barang yang di bawakan oleh pak suroso dan Bu Wiji ke dapur.


Setelah selesai, mereka pergi ke masjid karena kebetulan sudah masuk waktu ashar.


Sedangkan Anin, ia sholat ashar di rumah. Sambil menunggu ustad Farid dan Wahid kembali Anin pun mulai merapikan barang-barang pribadinya dan meletakkannya di dalam lemari.


Karena jarak masjid dengan rumah kontrakan mereka tidak begitu jauh, ustad Farid dan Wahid hanya berjalan kaki.


"Ustad, yang tadi namanya siapa?" tanya Wahid tiba-tiba saat pulang dari masjid membuat ustad Farid segera menoleh padanya.


Ustad Farid tengah berpikir keras, karena selama di masjid mereka memang di sapa banyak orang terutama kyai Hasan.


"Maksudnya, kyai Hasan?"


"Bukan."


"Lalu?" seingat ustad Farid yang lama ngobrol dengan mereka hanya kyai Hasan sedangkan yang lainnya hanya bersamaan dan menyapa tipis-tipis.


"Yang tadi, yang ada di rumah mertua ustad." ucap Wahid menjelaskan.


Ustad Farid kembali mengerutkan keningnya,


"Siapa, bu Wiji, pak Suroso?"


"Astaghfirullah hal azim, ustad. Kalau itu Wahid juga tahu." ucap Wahid mulai gemas, kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Yang pakek serangan biru putih! Yang teriak-teriak kayak Anin." Wahid berusaha menjelaskan.


Langsung ustad Farid faham dengan yang di tanyakan oleh Wahid.


"Kenapa? Jangan macam-macam ya, Novi masih kecil!" ucap ustad Farid memberi ultimatum sebelum Wahid melangkah lebih jauh.


"Oh namanya Novi?" tapi ternyata ultimatum dari ustad Farid sama sekali tidak berpengaruh padanya.


"Hid!!!!"


"Kan cuma nanya ,ustad! Ya siapa tahu bakal jadi calon juga!"


Ustad Farid melotot membuat Wahid segera meralat ucapannya sebelum ustad Farid mengeluarkan taringnya..


"Calon murid kan juga bisa ustad!"


"Jangan macam-macam pokoknya!" ucap ustad Farid tetap dengan pendiriannya dan ia pun tidak mau berlama-lama, ia segera berjalan meninggalkan Wahid.


"Ihhh posesif banget!" gumam Wahid kesal. Ternyata gumamannya di dengar oleh ustad Farid.


"Hid, aku dengar!"


Ha ha ha ...


Wahid malah tertawa sambil menutup mulutnya.


"Ada temennya tu Hid, tertawamu." ucap ustad Farid lagi.


Astaghfirullah hal azim, dengar aja sih ustad Farid , batin wahid.


"Sudah Wahid tutup, ustad. Mulut Wahid."


Sepanjang perjalanan pulang mereka terus saja berdebat. Dan mungkin hal itu yang akan sangat mereka rindukan setelah ini.


Akhirnya mereka sampai kembali di rumah kontrakan ustad Farid.


"Wahid langsung pulang aja ya ustadz,"


"Nggak masuk dulu?"


"Nggak deh ustad, Wahid belum berkemas soalnya. Salam saja buat Anin."


"Iya, nanti aku sampaikan. Kalau sudah sampai di Malang kasih kabar ya."


"Insyaallah ustad, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam!"


Ustad Farid mengantar kepergian Wahid hingga mobil pick up yang di tumpangi Wahid menghilang di ujung jalan.


Ustad Farid sengaja hari ini pada kyai Hasan meskipun hari ini jadwalnya mengajar mengaji agar bisa pindahan.


Setelah mobil pick up tidak terlihat lagi, ustad Farid pun masuk ke dalam rumah setelah memberi salam dan mendapat sahutan dalam.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"

__ADS_1


Sahutan itu terdengar dari arah dapur, membuat ustad Farid mengurungkan niatnya ke kamar, ia melepas peci hitamnya dan meletakkannya di atas nakas samping meja tv yang belum ada tv-nya.


Ustad Farid tersenyum saat melihat berbagai makanan yang tersaji di atas meja makan,


Dek Anin bisa masak? batin ustad Farid.


Anin menyadari jika suaminya itu tengah memperhatikannya makanan di atas meja kecil yang berada di atas tikar lipat.


"Makan mas." ucap Anin sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.


"Makasih ya dek!"


Ustad Farid puh duduk bersila dan mengamati makanan itu,


"Dek Anin masak?" tanya ustad Farid kemudian.


Mendapat pertanyaan itu Anin malah tersenyum,


"Ya nggak lah mas, mas Parid nih ada-ada aja." ucap Anin dan ustad Farid tidak lagi protes dengan cara Anin melafalkan namanya, sepertinya ia sudah mulai terbiasa.


"Itu tadi dari ibuk mas!" ucap Anin lagi membuat ustad Farid menggantung tangannya saat mulai meletakkan nasi di atas piringnya.


"Ibuk ke sini?" tanyanya penasaran.


"Enggak, Novi sama temennya yang ke sini ngantar pas mas ke masjid tadi."


"Dek Anin yang minta?" tanya ustad Farid curiga. Tapi dengan cepat Anin mengibaskan tangannya.


"Enggak mas, sungguh. Sum_."


"Hussttttt." dengan cepat ustad Farid menempelkan jari telunjuknya ke bibir Anin, "Sudah, mas percaya. Mas sudah pernah bilang kan, jangan pernah mengambil sumpah atas apapun terlebih lagi membawa-bawa nama Allah."


"Iya mas, maaf."


"Ya sudah, makan yuk!" ajak ustad Farid mencarikan suasana yang sudah mulai kaku. Ustad Farid mengambilkan nasi untuk Anin,


"Segini cukup?"


"Sudah mas, lauknya biar Anin yang ambil sendiri."


"Baiklah."


Akhrinya karena rasa lapar yang sudah teramat sangat, mereka pun memulai makan.


"Ke hp kamu?"


"Enggak mas, masak iya!" Anin menggelengkan kepalanya sendiri, "Ya, ke hp mas Parid lah."


"Ohhh!"


"Mas ustad nggak marah kan, Anin main angkat-angkat telpon dari hp mas?"


"Memang wajah mas terlihat marah?"


Anin pun menggelengkan kepalanya,


"Mas justru senang, mas nggak masalah sungguh. Kalau dek Anin mau lihat-lihat hp mas, boleh."


"Tapi bahaya loh mas kalau nggak di kasih scurity sistem. Takutnya ada yang ambil hp mas trus di buat macam-macam."


"Insyaallah, Allah yang akan menjaganya!"


Ihhhh, nyes banget ....


Ustad Farid kemudian teringat lagi dengan ucapan Anin yang pertama,


"Oh iya, ada apa tadi ustad Zaki telpon?"


"Nggak tahu mas, nggak bilang tadi. Katanya nanti mau telpon lagi aja, atau minta mas buat telpon balik!"


"Baiklah, nanti biar aku telpon!"


***


Di Blitar


Ustad Zaki tampak menatap wajah Zahra yang tengah sibuk membaca buku hamil, ia sudah mulai berpikir untuk melakukan hal-hal yang bisa di lakukan oleh ibu hamil.


"Seneng banget ya dek, bisa pulang?" pertanyaan dari ustad Zaki itu membuat Zahra mengehentikan kegiatannya membaca buku.


"Ya seneng lah mas ustad, akhirnya Zahra bisa menghirup udara bebas juga!"

__ADS_1


"Memang rumah sakit itu penjara." ucap ustad Zaki sambil menghela nafas.


"Ya bukan gitu." Zahra mulai memperhatikan wajah sang suami, tampak pria yang biasa berwajah tenang dan teduh itu tengah gelisah saat ini,


"Tapi kok mas malah mukanya kayak gitu sih, nggak seneng kalau Zahra pulang?"


"Seneng, dek!"


"Trus?"


"Mas cuma takut!"


"Takut apa?"


"Mas takut nggak bisa nahan." ucap ustad Zaki sambil memilin ujung kaos tipisnya.


"Nahan apa?" tanya Zahra bingung.


"Itu!" ucap ustad Zaki sambil menunjuk ke arah bawah.


Zahra semakin bingung sampai meletakkan bukunya,


"Kentut?"


"Bukan!"


"La terus?"


"Itu dek, masak nggak faham sih?" ustad Zaki mulai gemas karena Zahra tidak juga faham.


"Apasih mas, Zahra nggak faham?"


"Nggak bisa nahan buat jenguk yang di dalam situ." ucap ustad Zaki sambil mengusap perut Zahra yang masih rata.


."Apaan sih mas, ihhhh pikirannya!" Zahra langsung faham sekarang.


"Mau gimana lagi, ini sudah puasa lebih dari satu bulan, dek. Nggak kasihan!"


hehhhh


Zahra menghela nafas, ia juga mengerucutkan bibirnya.


"Aslinya Zahra juga gitu, mas!" ucap Zahra , "Tapi demi si dia, Zahra akan menjadi Spiderman!" ucapnya lagi dengan penuh semangat.


"Kok Spiderman, dek?"


"Ya dong, pahlawan melawan kejahatan!"


"Memang mas jahat?"


"Nggak sih, cuma agak, agak ngeri!" ucap Zahra sambil bergidik membayangkan senjata ustad Zaki.


"Mau nih mas lahap sekarang?"


"Ihhhh, mas gitu ya!"


"Gitu kenapa?"


"Nggak asik ih mas ustad! Tapi kayaknya ciuman aja boleh dek mas dari buku yang aku baca."


"Yang benar?" tanya ustad Zaki sambil mengambil alih buku yang di baca oleh Zahra,


"Halaman berapa dek?"


"Cari aja sendiri mas, nanti juga ketemu. Zahra juga lupa di halaman berapa."


Buku tebal itu, tapi demi tahu sesuatu ustad Zaki pun akhirnya membaca lembar demi lembar buku itu hingga hampir habis baru ketemu.


"Dek, ketemu!" ucapnya kegirangan tapi saat menatap sang istri rupanya zahra sudah tertidur pulas.


Hehhhh ....


"Dek Zahra kok malah tidur sih, padahal sudah ketemu."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2