Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 66


__ADS_3

"Jadi hari ini sama dokter sudah boleh pulang?"


"Iya ummi,"


"Alhamdulillah kalau begitu, maaf ya ummi nggak bisa datang."


"Nggak pa pa ummi, doakan saja yang terbaik buat Zahra, dedek bayi sama mas Zaki!"


"Aamiiin!"


"Sudah dulu ya ummi, ummi sama Abi sehat-sehat di sana!"


"Aamiiin, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Zahra mematikan sambungan telponnya tepat saat ustad Zaki masuk. Ia baru saja kembali dari ruang administrasi.


"Assalamualaikum dek!"


"Waalaikum salam, mas!"


Ustad Zaki berjalan mendekati sang istri yang tengah senyum sumringah itu,


"Ada apa dek, seneng banget?"


"Nggak pa pa, Zahra seneng aja sebentar lagi pulang."


Sekali lagi ustad Zaki mengerutkan keningnya.


"Menurut dek Zahra apa yang paling menyenangkan saat di rumah?" sebuah pertanyaan yang seketika membuat otak kecil Zahra bekerja ekstra untuk memikirkannya.


"Emmm, apa ya." Zahra tampa berpikir keras.


Ustad Zaki tersenyum dan mengusap kepalanya, "Ya sudah nanti saja kasih jawabannya kalau sudah ketemu, sekarang kita pulang ya. Amir sudah menunggu di luar!"


"Bukan mas Imron?" tanya zahra, karena terakhir kali yang berencana menjemputnya sang kakak laki-laki yang baru pulang dari kota.


"Ternyata temen mas Imron ada yang mau datang, jadi mas Imron minta Amir buat jemput kita."


"Ihhh masak lebih mentingin temen sih dari pada adek sendiri." gerutu Zahra kesal. Semejak sang kakak bekerja di kota, mereka memang jarang ketemu.


"Sudah nggak pa pa, kan ada mas. Nanti mas Imron juga datang ke rumah, kalian bisa ngobrol sepuasnya." ucap suara Zaki menenangkannya, "Ya udah, mas ambil kursi roda dulu ya!"


"Buat apa?" tanya Zahra sambil menahan tangan sang suami.


"Buat dek Zahra, apa dek Zahra mau mas gendong saja Sampek depan?"


Dengan cepat Zahra mengibaskan tangannya,


"Nggak, nggak."


Ustad Zaki tersenyum dan berlalu dari hadapan Zahra, kursi roda sebenarnya sudah berada di depan pintu dan ustad Zaki tinggal mengambilnya.


"Padahal kan jalan sendiri juga bisa." gerutu Zahra, berada di rumah sakit dua Minggu ini sudah berhasil membuat dirinya bosan, ia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa selain rebahan.


Di saat teman-temannya sibuk mencari kampus, Zahra malah asik rebahan. Bahkan kini Nur pun sudah mendapatkan kampus impiannya, ia meliluh IAIN Tulungagung sebagai tujuannya kuliah.


Bukan karena di Blitar tidak ada yang bagus, rapi sengaja ia mencari kampus yang agak jauh dari rumah agar bisa hidup mandiri.


"Hai Zahra!" sapa Imron saat mereka sudah berada di depan rumah sakit, Amir sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Bukan hai mas," udah Zahra membuat Amir mengerutkan keningnya, "Assalamualaikum!"


Sejak kapan nih anak tahu adab ..., batin Amir.


"Malah diam, nggak jawab salam." protes Zahra lagi.


"Ahhh iya maaf, waalaikum salam!"


Setelah ustad Zaki dan Zahra benar-benar masuk ke dalam mobil, Amir pun segera menutup pintu mobil dan berlari mengitari mobil, masuk melalui pintu yang lainnya dan duduk di kursi kemudi.


"Maaf ya Mir, sudah merepotkan kamu." ucap ustad Zaki merasa sungkan.


"Ya Allah ustad, Amir justru senang di repotkan sama ustad." ucap Amir sambil melirik ke arah Zahra yang juga tengah menatap ke arahnya melalui cermin kecil yang menggantung di depan.


Biasanya grutu aja kalau yang minta bantuan Zahra, sok manis nih mas Amir , batin Zahra.


"Alhamdulillah." ucap ustad Zaki sambil mengusap mata Zahra dari atas ke bawah menggunakan telapak tangannya dengan lembut.


"Ihhh mas ustad." protesnya sambil tersenyum.


Benar-benar ustad nih, bikin iri aja, batin Amir sambil mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Mas ustad, kapan kita ke Tulungagung?" pertanyaan Zahra yang tiba-tiba berhasil membuat ustad Zaki menoleh padanya.


"Buat apa dek?"


"Zahra penasaran sama istrinya ustad Farid."


"Nanti ya dek. Insyaallah kalau dek Zahra sudah benar-benar sehat. Untuk saat ini, dek Zahra cukup pikirkan kesehatan dek Zahra."


"Issstttt." meskipun protes tapi Zahra tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


***


Setelah selesai mengajar, ustad Farid tidak sabar ingin menemui Wahid. Ia pun bergegas ke kedai lalapan. Selain menemui Wahid ia juga harus bekerja di sana, mengabaikan tanggung jawabnya terlalu lama membuatnya merasa tidak enak meskipun. ustad Zaki sudah memberinya ijin.


Sesampai di kedai, seperti biasa ia akan memeriksa pembukuan beberapa hari, memeriksa stok bahan dan juga menanyakan masalah yang mungkin terjadi pada beberapa karyawan.


Meskipun baru, tapi di sini ustad Farid harus memimpin sekitar lima belas karyawan termasuk satpam dan tukang bersih-bersih. Memastikan tidak ada kendala apapun, mewakili ustad Zaki.

__ADS_1


"An, Wahid nggak di kedai?" tanyanya saat sudah berkeliling kedai tapi tidak menemukan pria itu.


"Oh iya ustad, Aan hampir lupa. Tadi mas Wahid pesan, kalau ustad cariin, suruh nunggu sebentar. Mas Wahidnya lagi ngurus administrasi kampus katanya!"


"Oh baiklah!"


Akhrinya ustad Farid harus bersabar lagi, ia memilih membantu yang lainnya melayani pelanggan yang datang.


Tepat ba'dha duhur barulah Wahid datang.


"Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga!"


"Udah nggak sabar banget ustad nungguinnya." goda Wahid.


"Kamu yang kelamaan! Kita berangkat sekarang?" tanya ustad Farid.


"Siap!"


Akhrinya mereka pun menuju ke rumah yang akan di kontrakan, rumah itu sengaja di kontrakan karena pemiliknya memilih bekerja di Surabaya.


"Jadi kapan mulai ngampusnya?" tanya ustad Farid saat mereka berada di atas motor menuju ke lokasi.


"Insyaallah dua atau tiga hari lagi, ustad."


"Tapi masih tetap bisa kan ikut bantu-bantu di kedai?"


"Insyaallah ustad, tapi maaf kalau nggak bisa kayak sekarang."


"Nggak pa pa, insyaallah ustad Zaki juga bisa ngerti."


Mereka kembali saling diam, hingga motor harus kembali terhenti saat berada di lampu merah,


"Oh iya ustad, tadi Ustad Zaki telpon katanya istrinya ustad Zaki sudah keluar dari rumah sakit."


"Alhamdulillah, insyaallah kalau begitu besok saya mau ke Blitar dulu buat jenguk. Kalau kamu bisa, kamu mobil ikut. Sama Anin juga."


"Wahid titip salam aja ya ustad, soalnya besok Wahid harus ke malang mengurus administrasi."


"Insyaallah nanti saya Salami."


Akhirny mereka sampai juga di tempat tujuan, rumah itu berada di tidak jauh dari jalan raya, dekat rumah orang tua Anin juga, berada dalam satu kampung hanya beda RT saja.


Meskipun baru di bangun tapi rumah itu tidak ada yang menempati.


"Bagaimana ustad, cocok nggak?" tanya Wahid setelah mereka nego harga dengan pemilik rumah.


"Iya, saya setuju! Saya akan bayar satu tahun di muka!"


"Alhamdulillah!"


Setelah deal dengan pemilik rumah dan melakukan pembayaran, ustad Farid tidak sabar untuk segera memberitahu hal ini pada Anin.


"Lohhh, lohhh kenapa berhenti ustad, ada yang ketinggalan?" tanya Wahid saat ustad Farid menghentikan motornya tepat di pertigaan jalan raya.


"Maksudnya ustad Farid mau langsung pulang jalan kaki?" tanya Wahid.


"Enggak." jawab ustad Farid dengan begitu enteng.


"Maksudnya?" Wahid masih tidak faham.


"Ya saya naik motor ini." ucap ustad Farid lagi.


"Trus saya naik apa ustad?"


"Naik motor!"


."Motor ustad? Motornya kan cuma satu."


"Ojek nggak pa pa ya!?" ucap ustad Farid membuat Wahid mengerutkan keningnya.


"Kok gitu sih!" protesnya.


Kebetulan sekali seorang ojek melintas di dekat mereka dan ustad Farid segera melambaikan tangannya.


"Mas, ojek temen saya ya! Tolong jagain jangan Sampek ilang!"


"Iya ustad!" ternyata ustad farid semakin di kenal sebagai seorang ustad di daerah Anin.


"Ustad serius?" tanya Wahid lagi memastikan.


"Jangan khawatir Hid, mas tukang ojeknya nggak suka makan orang!"


Bisa aja nih ustad Farid, bilang aja kalau sudah kangen sama istri, batin Wahid.


Akhirnya wahid pun hanya bisa pasrah.


Gini nih kalau urusannya sama orang yang lagi kasmaran, temen jadi tumbal, gerutu Wahid.


Ia pun naik ojek untuk sampai di mes lagi,


"Makasih ya mas!" ucap Wahid saat turun dari motor.


Melihat tukang ojek yang tidak kunjung pergi membuat Wahid heran,


"Ada apa ya mas, apa masih ada yang ketinggalan?"


"Itu mas, anu_!"


"Anu apa?"


"Bayar ojeknya!" terlihat tukang ojek sungkan meminta upah pasalnya pria di depannya adalah teman ustad Farid.

__ADS_1


"Ustad Farid tadi nggak ngasih ya?" tanya Wahid memastikan.


"Enggak mas!"


"Bener-bener ya ustad Farid nih!" gerutu Wahid sambil mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.


"Ini ams, makasih ya. Nggak mampir dulu?"


"Nggak usah mas, makasih."


Wahid hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap kepergian ojek itu. Ini bukan pertama kalinya ustad Farid melakukan hal itu. Ia sudah mengenal ustad Farid bahkan sejak kecil, hal yang di maklumi karena mereka cukup akrab.


Klunting


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada notif pesan masuk. Itu dari ustad Farid.


//Maaf ya Hid, tadi lupa nggak bayarin ojeknya. Udah aku transfer sekalian komisi sudah bantuin cari rumah kontrakan tadi, tapi jangan boros-boros ya. Buat sekolah uangnya, wassalamu'alaikum//


Wahid tersenyum, kebiasaan unik ustad Farid memang seperti itu. Wahid pun langsung mengecek M-banking miliknya dan ternyata sebuah transferan masuk ke rekeningnya satu juta rupiah.


"Kalau gini, sering-sering aja Wahid di tinggal." senyum Wahid sambil berjingkrak masuk ke dalam rumah.


***


Sesampai di rumah ustad Farid segara menemui bapak mertuanya yang tengah memberi makan kambing di belakang rumah karena kebetulan Anin belum pulang.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam! Sudah pulang nak Farid? Makan dulu, ibukmu masak sayur ontong!" (ontong ; biasa di sebut jantung pisang, dalam bahasa Jawa sebutannya ontong)


"Iya pak, kebetulan sudah makan tadi di kedai!" ustad Farid pun ikut .embaru pak Suroso memberi makan kambing, meskipun tidak pernah tapi dengan melihat bagaimana pak Suroso melakukannya, ustad Farid langsung bisa mengerti.


"Banyak pak kambingnya?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah, lumayan ada dua belas, yang enam masih anak-anak. Bisa buat tabungan!" ucap pak Suroso sambil mencuci tangannya karena sudah selesai.


"Alhamdulillah pak, bapak sendiri yang cari rumputnya?" tanya ustad Farid dan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pak Suroso.


Ustad Farid pun menyusul pak Suroso yang sudah duduk di licak (tempat duduknya yang terbuat dari bambu).


"Iya! Ya kadang-kadang masnya Anin juga kalau dia lagi longgar!"


Mereka kembali terdiam menatap ke arah kambing-kambing yang tengah sibuk makan.


"Pak," ucap ustad Farid kemudian.


Pak Suroso pun segera menoleh, "Iya?" tanyanya kemudian.


"Sebenarnya Farid mau minta ijin sama bapak!" ucapan ustad Farid berhasil membuat pak Suroso menoleh padanya, ia tampak mengerutkan keningnya membuat keningnya yang sudah mulai berkerut bertambah kerutannya.


"Kok kayaknya serius ini?"


"Insyaallah." ucap ustad Farid, pak Suroso tidak berniat menyahut ucapan membuat ustad Farid kembali melanjutkannya,


"Farid mau mengajak Anin pindah kalau bapak mengijinkan!"


Kali ini pak Suroso tampak begitu terkejut,


"Ke Bandung?" tanyanya dengan cepat, meskipun ia menginginkan anaknya menikah tapi jika secepat ini pergi jauh membuatnya berat.


"Bukan pak,"


Pak Suroso sedikit bernafas lega,


"Lalu?"


"Kebetulan Farid dapat rumah kontrakan tidak jauh dari sini. Harganya juga lumayan tidak memberatkan."


" Sebenarnya dari pada ngontrak, nak Farid dan Anin bisa bangun rumah di tanah kosong milik ibuknya Anin, deket sama pabrik kripik Anin, dari pada uangnya buat ngontrak mending di tabung saja nak."


"Insyaallah kalau ada rejeki lebih, Farid nabung untuk itu pak, dan untuk sementara ini Farid mau ajak Anin ngontrak dulu sambil nunggu tabungannya cukup." ucap ustad Farid, memberi jera kemudian melanjutkannya lagi, "Bukanya Farid mau menolak tawaran bapak, tapi sekarang Anin sudah menjadi tanggung jawab Farid, semoga bapak tidak tersingung."


Pak Suroso tersenyum, "Tidak sama sekali, justru bapak seneng. Tapi kalian kan masih beberapa hari menikah, apa tidak sebaiknya tinggal di sini lebih lama? Apa di sini kurang nyaman buat nak Farid?"


"Nggak pak, bukan seperti itu alasan. Hanya saja Farid dan Anin sudah menikah, akan lebih baik jika kita mulai mandiri dan tidak tergantung sama bapak dan ibuk!"


"Jika memang seperti itu maunya nak Farid, bapak hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian!"


"Terimakasih pak!"


Akhrinya ustad Farid merasa lega karena sudah mendapatkan ijin dari bapak mertuanya, kini tinggal bicara pada Anin.


"Anin belum pulang pak?" tanya ustad Farid lagi menyadari jika rumah masih sepi.


"Anin memang seperti itu, dia itu suka lupa waktu kalah sudah keliling, jadi nanti nak Farid harus banyak-banyak sabar ya menghadapi Anin."


"Insyaallah pak, ya sudah kalau begitu Farid mandi dulu ya pak, siap-siap ke masjid."


"Iya, nanti gantian sama bapak."


Bersambung


Maaf ya sudah membuat lama nunggu, insyaallah mulai tanggal 1 ini, saya kembali aktif nulis.


Meskipun terlambat, saya sekeluarga mengucapkan minal aidzin walfaiizin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏🙏


Semoga kita semua kembali dalam keadaan Fitri, aamiin 🤲


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2