Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 35


__ADS_3

"Mas ustad, tunggu!"


Teriak Anin yang berhasil menyusul ustad Farid dan Wahid, ia berhasil menghentikan langkah ustad farid dan Wahid, mereka pun kembali menoleh ke belakang.


"Ada apa?" tanya ustad Farid. "Apa masih ada yang ingin di bicarakan? Maaf tadi saya ke sini hanya untuk memenuhi undangan bapak kamu, khawatir beliau berpikir macam-macam karena telah memulangkan putrinya hingga selarut itu!" ustad Farid langsung menjelaskan panjang lebar sebelum Anin menanyainya.


"Boleh pinjem hp nya nggak, mas ustad?" tanya Anin sambil mengacungkan tangannya membuat ustad Farid mengerutkan keningnya,


"Buat apa?" tanya ustad Farid.


"Pinjem bentar aja, janji nggak macam-macam!" ucap Anin sambil mengacungkan kedua jarinya keatas.


"Jangan suka berjanji kalau nggak bisa menepati!" hardik ustad Farid.


Setelah mempertimbangkannya, akhirnya ustad Farid pun mengeluarkan ponselnya dja menyerahkannya pada Anin,


"Nggak di private kan ustad?"


"Memang perlu ya di private?" pertanyaan Anin malah kembali di sambut dengan pertanyaan.


"Ya siapa tahu kalau di private, kan aku juga nggak tahu!?" gerutu Anin sambil membuka ponsel ustad Farid, ternyata ia melakukan panggilan menggunakan ponsel ustad Farid. Tapi hanya sebuah panggilan kemudian segera ia matikan kembali dan mengetikkan sesuatu di sana,


"Terimakasih ya ustad!" ucapnya sambil mengembalikan ponsel milik ustad Farid.


Ustad Farid pun segera menyakukannya kembali ke saku celananya,


"Di situ tadi sudah ada nomor aku, ustad!" ucap Anin kemudian.


"Oh iya? Buat apa?" tanya ustad farid dengan sedikit terkejut.


Hemm ..., hemmmm, hemmm


Tapi Wahid malah menggodanya dengan dehemannya.


"Apaan sih Hid, aku beneran nggak ngerti buat apa? Atau aku harus menghubunginya dengan menyimpan nomornya di hp aku? Tapi buat apa?" pertanyaan itu sebenarnya lebih tepat tertuju pada Anin tapi ustad Farid menatap ke arah Wahid.


Nih ustad, polos banget sih ...., batin Anin kesal.


"Ya kalau nomor sih biasanya bisa buat kirim pesan atau telponan ustad!" ucap Wahid menambahi.


"Oh gitu, baiklah nanti kalau sempat aku kirim pesan ke kamu!" jawab ustad Farid dengan santainya, ia benar-benar tidak tahu maksud Anin memberinya nomor miliknya.


"Sudah, ustad boleh pergi. Aku juga sibuk mau kerja!" ucap Anin jutek, "Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Anin pun berlalu lebih dulu meninggalkan mereka berdua.


"Kok jadi dia yang jutek sih Hid, memang aku salah ngomong ya tadi?"

__ADS_1


"Nggak sih ustad, cuma salah sikap aja!" ucap Wahid ambil berlalu menghampiri motornya.


Ustad Farid yang masih bingung hanya menggelengkan kepalanya dan menyusul Wahid.


"Kita ke dealer motor ya Hid!" ucap ustad Farid saat mereka berada di perjalanan.


"Mau ngapain, ustad?"


"Aku nggak enak pinjem punya Aan terus."


"Jadi ustad mau beli motor baru?"


"Iya,"


"Yesssa, siap antar!"


"Kok jadi kamu yang seneng sih?"


"Ya kan kalau ada motor baru aku bisa pinjam-meminjam, ustad!"


"Awas aja kalau keluyuran!"


Mereka pun akhirnya sampai juga di salah satu dealer dan ustad Farid memilih motor yang sesuai untuk ya, terutama yang punya jok besar agar bisa membawa banya barang.


Setelah selesai denga urusannya, mereka pun memutuskan. untuk kembali ke kedai sedangkan motor akan diantarkan oleh karyawan dealer.


***


Sedangkan Wahid seperti biasa, ia memilih sibuk dengan ponselnya,


Segitunya lihat ponsel ...., batin ustad Farid.


Kemudian ustad Farid teringat dengan ucapan bapaknya Anin tadi siang.


"Hid," panggilnya pada Wahid.


"Hemmmm? Ada apa ustad? Apa butuh bantuan?"


"Bukan, sudah selesai!"


"Lalu? Apa ustad lapar, biar aku masakin!"


"Enggak! Denger dulu!"


"Siap!"


"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak Hid sama ucapan bapaknya Anin?"


Mendengar pertanyaan itu, Wahid pun segera meletakkan ponselnya dan fokus pada ustad Farid,

__ADS_1


"Aneh gimana, ustad?"


"Ya aneh aja, kayak lagi bicara sama orang yang_!"


"Yang mau ngelamar anaknya?" Sahid Wahid dengan cepat.


"Ya begitulah!"


"Dari ekspresi nya emang iya sih ustad! Apalagi bawa-bawa abahnya ustad Farid."


"Aku kok jadi bingung ya!"


"Ngga usah bingung ustad, diiyain aja!"


"Hehhh, kamu enak tinggal ngomong!"


Bapak sama anak kok sama aja sih pikirannya ....


Ustad Farid pun memilih. berdiri dari tempatnya dan hendak keluar.


"Mau kemana ustad?" tanya Wahid kemudian.


"Cari angin! Mau ikut?"


"Nggak deh ustad, aku ngantuk!"


Ustad Farid pun akhirnya benar-benar keluar, bukan pergi kemana-mana, ia hanya memilih duduk di teras sambil melihat lalu lalang beberapa motor yang masih melintas.


Kemudian ia teringat sesuatu, ia pun mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu di sana.


Ustad Farid langsung tersenyum begitu melihat sebuah kontak nomor seseorang di sana.


Anin♥️ustad Farid


"Kalau tulisan aja bisa eF, kenapa ngomong nggak bisa eF!?" gumamnya sambil tersenyum memandangi nomor itu tapi ia sama sekali tidak berniat untuk mengirim pesan atau menelpon si pemilik nomor.



rindu ustad Zaki ambil chaptionnya @aidra.rofiqq


...Mungkin kamu bertanya, kenapa sesombong itu? Kenapa sependiam itu? kenapa sesusah itu untuk membuka hati? karena mungkin kamu tidak tahu sebesar apa dia telah berusaha membangun benteng yang kokoh untuk dirinya sendiri agar tidak terluka lagi, atau mungkin sekeras apa dia telah membuat nyaman dengan perasaannya sekarang tanpa orang lain di sisinya....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2