Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 38


__ADS_3

"Ustad, tumben ustad Sampek kebangunnya siangan?" tanya Wahid sambil melipat bajunya yang baru saja ia angkat dari jemuran.


"Oh itu_" ustad Farid tampak bingung harus menjawab apa, ia tidak mungkin mengatakan pada Wahid kalau ia kebanyakan mainan hp. Bisa-bisanya jadi bahan ledekan oleh Wahid.


"Nggak pa pa, cuma nggak bisa tidur aja semalam!" jawab ustad Farid yang tengah memeriksa daftar belanjaan hari ini.


"Nggak bisa tidur atau sibuk mainan hp?" tanya Wahid lagi dengan sedikit meledek.


"Jangan sok tahu!"


"Iya, iya maaf! Tapi kayaknya Wahid semalam lihat orang lagi mainan hp Sampek malem banget sih ustad, aku kira itu ustad!" Wahid masih berusaha meledek ustad Farid.


Jadi semalam dia cuma pura-pura tidur ...., batin ustad Farid. Ia pun segera menutup belum kecilnya.


"Sudah selesai belum, kamu cepetan ke kedai!" ucap ustad Farid dan segera berdiri, ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Trus ustad mau ke mana?"


"Aku ke madrasah dulu, dapat jatah ngajar di sana. Cuma satu jam, ntar aku nyusul ke kedai, soalnya hari ini mau belanja juga!" jawab ustad Farid menjelaskan panjang lebar. Ia tampak sibuk merapikan bajunya, memastikan baju yang ia kenakan pantas untuk pergi ke madrasah.


"Nggak pakek seragam ustad?"


"Belum dapat seragam, kan masih baru masuk hari ini!"


"Ohhh!"

__ADS_1


Akhrinya Setalah selesai bersiap-siap, ustad Farid pun pergi ke madrasah dengan motor barunya, bukan tanpa alasan ia membeli motor baru. Ia sengaja membelinya karena ia tidak tahu a berapa lama ia akan tinggal di Tulungagung, dan melihat bagaimana ustad Zaki dan kyai Syam memberinya tanggung jawab yang cukup besar, kemungkinan ia akan tinggal di Tulungagung cukup lama dan mungkin juga akan beberapa tahu karena kyai Syam bahkan membantunya mengurus kepindahan berkas-berkas mengajarnya.


Ia masih begitu ingat bagaimana nasehat kyai Syam,


Mungkin membesarkan sebuah pesantren dengan banyak pengajar agama yang hebat itu mudah tapi meskipun sulit, menjadi ustad biasa di tempat kecil yang ilmunya begitu dibutuhkan itu jauh lebih mulia.


Akhrinya setelah perjalanan selama sepuluh menit, ia sampai juga di madrasah. Ternyata setelah tahu lokasinya, perjalana jadi jauh lebih cepat.


Saat sampai, ternyata seolah sudah mulai pelajaran. Kedatanganya langsung di sambut Bu Nisa sebagai guru kurikulum,


"Mari ustad, saya anter ke kelas depalan B, hari ini ada pelajaran agama!"


"Biar saya sendiri saja, Bu!" ucap Ustad Farid.


"Nggak pa p ustad, kebetulan saya tidak sibuk, mari ustad!"


akhirnya ustad Farid pun menerima tawaran Bu Nisa. Mereka berjalan menyusuri lorong sekolah, sekolah ini cukup besar hingg mampu menampung sekitar hampir empat ratusan siswa mulai dari kelas tujuh hingga kelas sembilan dan rencananya akan dibangu juga untuk madrasah aliyahnya.


Bu Nisa menjelaskan banyak hal tentang madrasah ini pada ustad Farid hingga akhirnya mereka sampai juga di depan kelas delapan B,


"Alhamdulillah sampai ustad!"


"Terimakasih ya Bu sudah mau mengantar saya, dan juga terimakasih sudah menjelaskan banyak hal tentang madrasah ini!"


"Ustad tidak perlu sungkan, kalau nanti ustad butuh apa-apa, ustad bisa minta bantuan saya, insyaallah saya datang setiap hari!"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu!" ucap ustad Farid yang merasa sungkan harus meninggalkan Bu Nisa sendiri.


"Ah iya ustad, silahkan!" Bu Nisa oujnmengegser tubuhnya agar ustad Farid bisa masuk ke dalam kelas.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Akhrinya ustad Farid pun masuk ke dalam kelas sedangkan Bu Nisa kembali ke ruangannya.


Kedatangan ustad Farid langsung di sambut oleh pada siswa dengan sorak kembira, seperti kebanyakan siswa jika mendapatkan guru baru yang masih muda dan tampan lagi.


"Ya Allah ustad, pengen tak kantongi bawa pulang!" celetup seorang siswi saat ustad Farid memperkenalkan diri, membuat seisi kelas bersorak padanya.


Ustad farid pun tidak kalah memperhatikan siswi itu, wajah siswi itu mengingatkannya pada seseorang,


Kayak nggak asing ...., batin ustad Farid tapi Dnegan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Sudah-sudah, sekarang kita mulai pelajarannya ya. Karena saya belum sempat bertemu dengan guru fikih kalian yang lama, jadi sekiranya saya minta contekan sampai di mana materinya?!" tanya ustad Farid pada anak-anak.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani4259


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2