Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 60


__ADS_3

Setelah seharian berkeliling bersama Anin, mengunjungi tempat produksi kripik milik Ani juga, ustad Farid masih tetap pergi ke masjid untuk sholat berjamaah dengan pak Suroso.


"Bagaimana tadi?" tanya pak Suroso saat mereka sudah perjalanan pulang dari masjid ba'dha isya'.


"Alhamdulillah lancar pak!"


"Kalian tidak ribut kan?" tanya pak Suroso lagi yang tidak mampu menutupi rasa penasarannya.


"Alhamdulillah tidak ada keributan pak, mas David bisa menerima dengan baik!"


"Alhamdulillah kalau begitu!"


Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Terlihat Anin tengah sibuk di ruang tamu dengan buku besar di tangannya, ia tengah merinci pengeluaran dan pemasukan bulan ini di pabrik keripiknya.


"Assalamualaikum!" sapa ustad Farid dan Anin pun menghentikan sejenak kegiatannya,


"Waalaikum salam!" jawabnya sambil mendongakkan kepalanya menatap ke datangan ustad Farid dan pak Suroso.


"Yo wes, bapak masuk dulu. Nanti kalau adik kamu pulang jangan lupa di kunci pintunya!" ucap pak Suroso.


"Nggeh pak!" jawab Anin dan ustad Farid pun memilih menghampirinya dari pada pergi ke kamar.


Ia pun duduk di samping Anin, melirik sedikit ke arah buku Anin.


"Masih lama?" tanyanya kemudian.


"Bentar lagi mas!" Anin pun mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Karena ia duduk di lantai,


"Mas, lapar nggak?"


"Emmm, enggak! Ada apa?"


"Kalau lapar, Anin buatkan mie instan aja ya!"


"Nggak kok, nanti kalau mas lapar, mas buat sendiri!"


"Baiklah!"


Anin pun kembali fokus pada bukunya,


"Oh iya dek," ucapan ustad Farid berhasil membuat Anin menoleh kembali pada suaminya.


"Iya?"

__ADS_1


"Kenapa dek Anin menolak pemberian mas tadi pas di rumah pak Bejo?" walaupun mungkin yang ia pikirkan sama dengan yang dipikirkan oleh Anin, tapi tetap saja ia ingin mengetahui alasannya langsung dari sang istri.


Anin pun tersenyum dan meletakkan pulpennya,


"Jadi, Anin sengaja memulai usaha ini sendiri. Anin ingin usaha ini atas nama Anin sendiri hingga Tidka bercampur yang yang mas Parid berikan,"


Hehhhhh .....


Anin menghela nafas dalam kemudian melanjutkan lagi ucapannya, "Mungkin terdengar angkuh, tapi ini impian Anin. Jika pun mas ingin memberikan nafkah pada Anin nanti, insyaallah uang itu tidak akan bercampur dengan uang yang Anin dapat dari usaha kripik ini. Walaupun hasilnya tidak seberapa banyak dan kadang masih banyak minusnya tapi Anin suka, kepuasan itu yang selalu ingin Anin dapat. Anin hanya takut, jika Anin terbiasa menerima pemberian mas Parid untuk usaha ini, Anin jadi kurang menghargai hasilnya!" Anin benar-benar menjelaskan secara rinci membuat ustad Farid tersenyum.


"Jadi mas Parid tidak marah sama Anin?"


Ustad Farid pun menggelengkan kepalanya, "Justru aku bangga sama kamu! Doakan mas bisa senekat itu nanti!"


"Hahhh? Maksudnya?"


"Ada deh!" jawab ustad Farid sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, ia merogoh ponselnya dan mulai berselancar dengan benda kecil itu, memeriksa laporan-laporan yang di kirim oleh Wahid dan Aan.


"Mas, maksudnya apa tadi?" tanya Anin yang masih penasaran.


"Sudah lanjutkan aja, keburu malam!"


"Istttt!" walaupun kesal, Anin pun tidak lagi bertanya.


"Mas, bisa bantu Anin hitungin ini nggak, dari tadi Anin hitung kok selisih terus sih!" keluh Anin sambil menyandarkan punggung ke dudukkan sofa hingga membuat tubuhnya condong ke belakang. Ustad Farid pun mengalihkan perhatiannya dari ponsel miliknya kepada Anin.


"Hmmm, coba mas lihat!"


Ustad Farid pun menggeser duduknya agar lebih dekat, dan mencondongkan tubuhnya mendekati buku Anin hingga wajah ustad Farid tepat berada di depan Anin membuat Anin terpaksa menahan nafas.


"Ohhh ini, kayaknya kamu salah di kolom yang ini, yang ini harusnya di isikan di sini, kalau di sini jumlahnya jadi beda. Kayaknya kamu juga kelewatan satu kolom di sini, angkanya sudah pas ini, hanya kolomnya aja yang beda!" ustad farid menerangkan dengan gamblang tapi Anin malah fokus ke hal lain.


Glek


Tenggorokan Anin tiba-tiba terasa kering sampai ia kesulitan menelan Salivanya sendiri.


"Faham kan?"


Karena tidak ada tanggapan dari Anin, membuat ustad Farid menoleh pada wanita itu membuat wajah mereka jaraknya begitu dekat hingga Anin bisa merasakan hembusan nafas dari ustad Farid begitupun dengan ustad Farid.


Ustad Farid pun juga merasakan hal yang sama, ia sampai tertegun melihat wajah Anin. Tanpa terasa mereka saling mendekatkan bibirnya.


"Cie ..., cie ...., cie ...., yang pengantin baru!" Novi muncul dari luar, dia baru pulang les dan terkejut dengan yang ia lihat di ruang tamu.

__ADS_1


Suara iri berhasil membuat ustad Farid dengan reflek menjauhkan wajahnya dan berdiri,


Hgrmmmm Hgrmmmm


Ustad Farid segera berdehem untuk menormalkan suaranya.


"Novi, sudah pulang?" tanya ustad Farid segera.


"Udah dong ustad!"


"Kalau masuk rumah tuh salam, bukan kayak gitu. Nggak sopan tahu!" hardik Anin, dan memilih kembali pada bukunya tapi tetap saja nyatanya tidak akan bisa fokus lagi.


"Ya udah mas ke kamar dulu ya!" ucap ustad Farid dan memilih mengambil ponselnya dan meninggalkan adik kakak itu.


Novi pun tidak peduli dengan kekesalan kakaknya, ia memilih duduk di tempat yang di duduki ustad Farid.


"Mbak,"


"Apaan sih Nop?" tanya Anin dengan judes, ia sudah terlanjur kesal dengan adiknya itu, padahal baru saja mau romantis romantis-an dengan suaminya tapi adik perempuannya itu malah datang dan merusak semuanya.


"Sudah malam pertama belum mbak?" tanya Anin dengan sedikit berbisik.


Blukk


"Aughhh, sakit mbak!" keluh Novi saat Anin menggunakan buku besarnya untuk memukul kepala Novi.


"Salah siapa ngomong sembarangan. Masih kecil sudah mikir yang gitu-gitu, tidur sana!" perintah Anin dan Novi pun menegaskan kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari sang kakak perempuan.


"Isstttt, pelit!" ucap novi kesal, ia menyambar tasnya yang sempat ia letakkan di samping tempat duduk dan meninggalkan Anin begitu saja masuk ke dalam kamar.


Anin hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan sang adik,


"Anak jaman sekarang, emang susah ya di atur. Nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua!" gerutunya sambil mengemasi barang-barangnya yang masih berserakan di atas meja.


Ia pun segera mengunci pintu dan menyusul sang suami ke kamar.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2