
Akhrinya mereka sampai juga di wpan rumah, ustad Farid begitu terkejut saat melihat sebuah mobil sedan yang terparkir di depan rumah mertuanya,
"Pak, itu mobil siapa?" tanya ustad farid ambil mensejajari langkah mertuanya.
"Itu pasti mbakyu Harti!"
"Budhe Harti?" ustad Farid sampai mengeryitkan keningnya, "Mau ke mana?"
"Mungkin pulang!" wajah pak suros tanpa frustasi, ia semakin mempercepat langkahnya begitu melihat seorang wanita yang keluar dari dalam rumah dengan tas besarnya, di belakangnya di ikuti oleh dua wanita lainnya, itu Anin dan Bu Wiji.
"Mbakyu, mbakyu Sido muleh Saiki to (mbakyu, mbakyu jadi pulang sekarang Yo)?" tanya pak Suroso begitu berhadapan dengan wanita dengan wajah yang selalu terlihat ketus.
"Yo Iyo,arep nyangopo eneh nek kene, aku wes ora di kanggekne eneh, omongaku Yo wes Ra di gugu (Ya iya, mah ngapain lagi di sini, aku sudah tidak di perlukan lagi di sini, ucapannya sudah tidak di dengar)!"
"Sek ta lah mbakyu, ojo gampang tersinggung, diomongne apik-apik disek (sebentar lagi mbakyu, jangan gampang tersinggung, dibicarakan baik-baik dulu)!" ucap pak Suroso mencoba mencegah kakak ipanya itu agar tidak pergi dengan perasaan kesal.
Tentu hal itu membuat ustad Farid merasa tidak enak. Ia tahu siapa yang menjadi penyebab wanita itu tampak begitu gusar. Percakapan budhe Harti kemarin malam dengan Anin sudah menunjukkan semuanya.
Terlihat Anin dan Bu Wiji hanya diam, sepertinya mereka sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk wanita itu.
"Wes mboh So, aku tak muleh disek. Mben lek wes enek solusine aku tak Rene eneh (sudahlah So, aku tak pulang dulu. Nanti kalau sudah ada solusinya aku akan ke sini lagi)!"
"Sek sek mbak, Iki maksude solusi opo (Sebentar sebentar, ini maksudnya solusi apa)?" pak Suroso semakin curiga dengan kakak iparnya itu yang begitu ngotot ingin menjodohkan Anin dengan pemuda kaya bernama David itu.
"Yo piye eneh So, mbakmu Ki wes kadong ndwe utang akeh Karo ibuk e David, lek Sampek ngerti ibuk e David Yen Anin wes rabi, Yo opo nasib e mbakyumu Iki (Ya bagaimana lagi So, mbakmu ini sudah terlanjur punya hutang banyak sama ibuknya David, kalau sampai ibuknya David tahu kalau Anin sudah menikah, bagaimana nasib mbakyumu ini)?" akhirnya budhe Harti mengutarakan alasannya ingin menjodohkan Anin dengan David.
"Astaghfirullah hal azim, mbakyu!" baik pak Suroso maupun Anin dan istrinya begitu terkejut. Tapi ustad Farid yang tidak begitu mengerti dengan percakapan mereka hanya menangkap jika ada masalah serius dengan perkataan wanita itu.
"Maksud mbak Harti solusi piye mbak (Maksud mbak Harti solusi bagaimana mbak)?" Bu Wiji pun ikut menghampiri wanita itu, ia juga merasa khawatir dengan kakak perempuannya.
"Wes to Ji, tak pikire Dewe. Wes lek ngono aku budal (Sudahlah Ji, biar aku pikir sendiri. Sudah kalau begitu aku berangkat! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Budhe Harti pun segera masuk ke dalam mobil travel yang sudah ia sewa, bahkan saat melewati ustad Farid ia sama sekali tidak ingin menyapanya.
Beberapa kali nama David di sebut membuat ustad Farid menjadi menghubungkan nama itu dengan banyaknya bingkisan yang berada di kamar shalatan.
Apa mungkin itu dari dia ...., batinnya .
__ADS_1
Sepeninggal mobil travel yang membawa budhe Harti, semua anggota keluarga pun kembali masuk. Novi yang baru saja keluar dari kamar mandi malah terlihat bingung.
Hampir ia lupa kalau sekarang sudah ada kakak ipar yang tidak lain guru agamanya, beruntung kali ini ia sudah memakai pakaian lengkap hanya saja sebuah handuk menggulung rambutnya yang masih basah,
"Ada apa buk, pak, kok ribut-ribut diluar?" tanyanya sambil memegangi handuk yang hendak jatuh.
"Nggak pa pa, cepetan siap-siap hari ini mas Iwan yang antar ke sekolah!" ucap Bu Wiji menunjuk seorang pemuda dekat rumah yang biasanya memangs sering di mintai tolong untuk antar jemput Novi kalau Anin atau masnya sibuk.
"Loh kok mas Iwan sih buk, mbak_!" Novi segera menghentikan ucapannya begitu sadar dengan pria yang berdiri di samping mbaknya, "Ehhh ustad Farid!" ucapnya sambil nyengir.
Sebenarnya ustad Farid merasa tidak enak tidak menawarkan diri untuk mengantar Novi, tapi ia masih tahu batasannya, meskipun kini ia sudah berstatus sebagai suami Anin, tetap saja ia harus bisa menjaga jarak dengan adik perempuan Anin agar tidak timbul fitnah.
***
Anin baru saja keluar dari kamar mandi saat ustad Farid tengah sibuk membantu Bu Wiji di dapur, tampak ustad farid begitu asyik meniup api di tungku. Meskipun Sudja selesai memasak, Bu Wiji suka memanfaatkan tungku yang masih panas untuk merebus air.
Melihat Anin masuk ke dalam kamar, ustad Farid pun segera berpamitan kepada mertuanya untuk menyusul Anin.
"Assalamualaikum, dek!" sapaan ustad farid begitu mengejutkan Anin yang tengah menyisir rambutnya yang basah membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan sisir di tangannya, ia baru saja suci dari haid.
"Wa_alaikum salam!" jawabnya dengan gugup, pasalnya ia baru saja membayangkan apa yang akan terjadi jika suaminya itu tahu dirinya sudah suci dari haid. Meskipun dirinya yang memaksa untuk menikah, tetap saja ia seorang wanita yang takut dengan malam pertama.
"Iya bentar!" Anin pun bergegas menarik jilbab instan yang menanggung di samping meja rias dan memakainya meskipun rambutnya masih basah.
"Kenapa di pakai jilbabnya?" pwrtanya dari ustad Farid itu membuat Anin melongo.
"Hahhh?"
"Maksudnya, rambut dek Anin masih Basar, kan nggak bagus kalau langsung pakek hijab sebelum kering!"
"Kan ada mas Parid!"
Parid lagi ...., keluh ustad farid dalam hati.
"Duduk sini!" ustad farid menepuk tempat duduk di sampingnya yang masih kosong.
Anin pun menurut, ia pun duduk di samping ustad farid meskipun menyisakan.temoat kosong di antar mereka. Beruntung saat ustad Farid pergi ke masjid, ia segera merapikan barang-barang yang berserakan di lantai hingga ia masih bisa bergerak dengan leluasa.
"Dek Anin ini kan sekarang sudah istrinya mas, jadi nggak pa pa kalau dek Anin mau nggak pakek hijab kalau di dalam kamar, tapi kalau di luar, mas harap dek Anin bisa menjaga aurat!"
__ADS_1
Oh iya, kenapa bisa lupa ...., Anin sampai menepuk keningnya sendiri. Sepertinya ia masih kerap lupa dengan status barunya padahal baru saja ia membayangkan bagaimana proses malam pertama mereka.
"Maaf mas, ternyata Anin belum terbiasa!"
"Sama!" jawab ustad Farid membuat Anin tersenyum.
Melihat senyum Anin, seperti candu bagi ustad Farid. Entah apa yang membuat ustad Farid menyukai senyum itu.
"Oh Iyo, mau arep ngomong opo (Oh iya, tadi mau ngomong apa)?" tanya Anin segera setelah menghentikan senyumnya.
"Hahhh?" walaupun sudah beberapa hari di Jawa tetap saja ia belum terlalu mengerti jika di ajak bicara snaggan bahasa Jawa. Kadang ia mengerti tapi menjawab dengan bahasa jawanya ia tidak bisa.
"Maksud Anin, tadi mas ustad mau tanya apa?"
"Ohhh, iya mas hampir lupa. Maaf ya kalau mas lancang!"
"Hmmm!" Anin mengangukkan kepalanya.
"Kemarin mas tanpa sengaja melihat beberapa bingkisan di kamar shalatan, bingkisan itu terlihat mahal. Apa itu dari_?"
Sebelum ustad Farid menyelesaikan pertanyaannya, Anin pun segera menyahutnya,
"Iya mas itu dari mas David. Sebenarnya memang Anin berencana untuk mengembalikannya, tapi belum ada waktu yang tepat aja!"
"Syukurlah. Karena dek Anin tidak menerima pinangan David, ada baiknya jika dek Anin segera mengembalikannya. Insyaallah saya siap anter dek Anin, kebetulan pick up di kedai lalapan kalau hari Sabtu tidak beroperasi!"
Anin kembali tersenyum,
"Baiklah, Anin mau!" ucapnya dengan begitu bersemangat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1