
Hari pertama di kontrakan baru menjadi hari yang sibuk untuk pasangan pengantin baru itu. Selain karena mereka harus berkemas, mereka hendak berencana untuk pergi ke Blitar menjenguk istri ustad Zaki yang baru pulang dari rumah sakit.
"Nanti Anin harus bicara apa di sana?" tanya Anin merasa canggung saat ustad Farid mengajak Anin untuk menjenguk istri ustad Zaki. Pasalnya ia belum sekalipun bertemu dengan mereka, bagaimana sikap mereka dan sebagainya.
"Apa aja boleh!" jawab ustad farid dengan santai tanpa menoleh pada Anin, tampak ia masih sibuk memasukkan beberapa baju yang sudah di lipat rapi dan siap di masukkan ke dalam lemari plastik di depannya. Hanya ada dua lemari plastik yang muat di masukkan ke dalam kamar selain spon tempat tidur dan sebuah meja kecil.
Ukuran kamar itu memang tidak beda jauh dari ukuran kamar Anin.
Lemari sengaja ustad Farid membeli dua karena satu untuknya dan satunya lagi untuk Anin.
Karena ustad Farid masih terlihat sibuk, Anin yang tengah bermain dengan hpnya ia pun menggeser duduknya dan beringsut ke lantai tepat di samping ustad Farid membuat ustad Farid dengan reflek menghindar saat tangan Anin hampir saja menyentuh bahunya.
"Dek."
"Apaan sih mas, aku mau bantu masukin," protes Anin, dengan sengaja menggesekkan lengannya ke lengan ustad Farid.
"Astaghfirullah hal azim!" ucap ustad Farid membuat Anin kesal. Sebenarnya ustad Farid hanya masih belum terbiasa bersentuhan dengan Anin seperti itu.
"Apaan sih astaghfirullah astaghfirullah gitu mas. Anin nih istrinya mas Parid loh, bukan orang lain." ucap Anin kesal.
"Nggak, nggak gitu deh. Hanya_!" ustad Farid hampir saja menyentuh bahu Anin tapi seperti tertahan membuat Anin semakin kesal.
"Hanya nggak mau nyentuh Anin!" ucap Anin lagi sambil berdiri meninggalkan ustad Farid yang terbengong.
"Astaghfirullah hal azim. Ya Allah salah lagi, tadi nggak maksud begitu." ustad Farid mengeluh pada dirinya sendiri dengan wajah penuh bersalahnya sambil menatap pintu kamar yang kembali di tutup dengan kasar dari luar.
Ia pun mengusap kasar wajahnya,
"Gimana iye ini, kumaha?"
Ia tidak menyangka refleknya bisa menyakiti perasaan Anin. Kemarahan Anin memang ada benarnya juga, mereka sudah menikah hampir dua Minggu tapi. ustad Farid benar-benar belum berniat untuk memberi nafkah batin pada Anin.
__ADS_1
Bukannya dia tidak mau, tapi mendadak bersentuhan dengan lawan jenis menjadi hal yang berbeda dari kebiasaannya.
Tidak seperti ustad Zaki yang pernah mengalami masa muda yang urakan dan membangkang, ustad Farid dari kecil terlalu fokus dengan kehidupannya sendiri, belajar dan bekerja membuatnya tidak punya pengalaman dengan lawan jenis hingga usianya matang.
Ustad Farid pun akhirnya memutuskan untuk menyusul Anin dan mencari keberadaannya. Ternyata wanita itu tengah duduk sendiri di ruang tamu di sofa yang memang sudah di beli oleh pemilik rumah.
Anin duduk sambil menelungkupkan wajahnya di sela dua lututnya, sudah bisa di pastikan saat ini Anin tengah menangis.
Srekkkk
Getaran kecil itu menyadarkan Anin jika ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya.
Ustad Farid menggeser sedikit demi sedikit duduknya hingga begitu dekat dengan Anin, meskipun masih menyisakan jarak beberapa centi dari Anin.
Tangannya terlihat gemetar saat hendak menyentuh tunggung Anin, tapi ia berusaha keras agar tetap bisa menyentuh punggung istrinya itu, ia harus belajar. Di saat berdua seperti ini, getaran di tubuhnya terasa begitu nyata. Jika banyak orang, ia bisa dengan mudah menyentuh tangan, merangkul, menggandeng tapi saat berdua seperti ini rasanya malah begitu canggung.
Plekkkk
"Dek, maafin mas ya. Mas bukan bermaksud tidak ingin menyentuh dek Anin tapi mas merasa ini sungguh hal yang sangat baru. Bersentuhan dengan lawan jenis apalagi di satu tempat yang sepi, mas jadi terngiang-ngiang dengan pelajaran ustad Muhsin."
Anin mendongakan kepalanya hingga menampakkan wajahnya yang penuh air mata, dengan kedua tangannya ia menghapus air matanya itu,
"Siapa ustad Muhsin?" tanya Anin karena ustad Farid membawa-bawa orang lain dalam masalah keluarganya.
"Ustad mas saat di Mts dulu, dek."
"Memang ustad Muhsin mengatakan apa?"
"Tidak boleh antara laki-laki dan perempuan saling bersentuhan apalagi di tempat sepi, karena sudah pasti yang ke tiganya syetan."
Yahhhh, kok jadi bahas ustad Muhsin sih ..., keluh Anin dalam hati.
__ADS_1
"Kayaknya ustad Muhsin kurang deh."
"Maksud dek Anin?"
"Yang bahasan soal, muhrim dan bukan muhrim di bab mana?"
"Astaghfirullah hal azim!" bukannya menjawab pertanyaan Anin, ustad Farid malah beristigfar.
Srekkkkk
Tiba-tiba Anin berhambur memeluk tubuhnya, menyandarkan kepalanya tepat di dada ustad Farid membuat kedua tangan ustad Farid mengambang di udara.
"Maafin Anin yang mas, Anin bukannya ingin maksa. Tapi setidaknya pelukan gini kan juga nggak pa pa, kalau tidur kan jadi hangat atau kalau enggak ciuman juga nggak pa pa."
Ciuman ..., ustad Farid benar-benar syok.
Deg deg deg
Karena tidak mendapat jawaban dari ustad Farid, Anin malah semakin mengeratkan pelukannya hingga ia bisa mendengar detak jantung dari ustad Farid yang begitu cepat membuat Anin tersenyum.
Kok ada, pria sepolos ini ..., batin Anin sambil tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1