Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 23


__ADS_3

Ustad Farid tampak menikmati kembali kopinya dengan tubuh yang sudah segar. Secangkir kopi akan menghilangkan rasa lelahnya seharian ini,


"Oh iya ustad, tadi pak_!" ucap Wahid lagi setelah lama saling terdiam, tampak ia tengah mengingat sesuatu.


Ustad Farid segera meletakkan kembali cangkirnya yang tinggal setengah isinya,


"Pak siapa?" tanyanya penasaran.


Wahid tampak masih berpikir keras, "Pak_," dan akhrinya setelah tidak bisa menemukan siapa nama pria itu, Wahid memilih jalur aman,


"Pak kepala sekolah!" ucapnya menyerah karena tidak bisa menyebutkan nama.


"Pak Purwanto?" ustad Farid langsung menebak.


"Ahhh Iya!" Wahid begitu sumringah begitu tahu namanya, rasanya gundukan es di kepalanya seakan mencair seketika, ambyar.


"Ada apa?" tanya ustad Farid lagi, perasaan baru tadi pagi mereka bertemu dan mereka juga belum punya janji penting lagi sebelum ia menghubungi sendiri.


"Telpon," ucap Wahid memberi jeda, "katanya telpon ustad Farid nggak bisa!"


Ustad Farid baru teringat jika ponselnya mati sejak berangkat jalan-jalan tadi,


"Ponselku habis baterai, ada apa?"


"Beliau minta maaf, karena terpaksa besok ustad di suruh ke madrasah katanya ada hal yang penting yang mendesak yang harus segera dibicarakan sama ustad!" ucap Wahid menjelaskan seperti apa yang di katakan oleh pak Purwanto.


Kira-kira ada apa ya ...., batin ustad Farid sambil menatap cangkir yang berada di atas meja, walaupun begitu tapi pikirannya kini bukan fokus pada cngkir itu melainkan praduga sementara tentang apa yang akan dibicarakan oleh pak Purwanto.


"Jam berapa?" tanyanya kemudian setelah terdiam sejenak.


"Kalau bisa katanya pagi aja, pas jam sekolah!" ucap Wahid lagi menirukan ucapan pak Purwanto.


"Penting banget?" ustad Farid masih begitu penasaran, ia tidak sabar menunggu besok hingga berharap Wahid punya jawabannya.


"Begitulah katanya!" jawab Wahid dengan santai tapi tidak mewakili rasa penasaran ustad Farid.


Setelah mengobrol cukup lama, masjid yang berada di kampung sebelah sudah mengumandnagkan azan, mereka pun bergegas untuk pergi ke masjid yang ada di dekat mes.


Tanpa di minta, seperti kebiasaan sebelumnya, wahid langsung mengambil wudhu dan mengumandangkan azan, selagi menunggu para jama'ah datang mereka sengaja melantunkan puji-pujian.


Satu persatu jamaah berdatangan hingga masjid hampir penuh oleh jamaah, wlawwlnya ustad Farid tidak berniat menjadi imam tapi kyai yang biasa menjadi imam di masjid itu meminta ustad Farid untuk menggantikannya. Sekalian untuk perkenalan ke masyarakat sekitar.


Seperti biasa ustad Farid dan Wahid akan kembali selepas isya' sekalian. Sembari menunggu isya', mereka mengobrol bersama bapak-bapak yang lain yang juga tengah menunggu isya'.


"Tadi ustad jalan-jalan kemana aja?" tanya Wahid saat perjalanan pulang selepas sholat isya'.


"Agak jauh, nggak tahu daerahnya!" jawab ustad Farid jujur, ia memang asal jalan tanpa ada raha tujuannya. Ia hanya ingin mengenal daerah barunya itu


"Nggak nyasar?" tanya Wahid penasaran, pasalnya ini untuk pertama kalinya ustad Farid berada di Jawa.


"Emang aku nggak bisa baja google map kayak_!" cetocoa ustad Farid, tapi tiba-tiba ingatan ustad Farid tertuju pada Anin hingga membuat ucapannya terhenti.

__ADS_1


"Kayak siapa ustad?" tanya Wahid penasaran. Ia sampai memiringkan kepalanya untuk mengetahui jawabannya.


"Lupakan! Bukan siapa-siapa!" ucap ustad Farid sambil mempercepat langkahnya meninggalkan. Wahid yang masih jauh di belakang.


"Ehhh tunggu, bukankah tadi ustad Farid bilang kalau hp nya sudah mati sejak berangkat? Lalu pakek hp siapa dong?" gumam ya penasaran.


"Hid, mau tetap di situ?" teriak ustad Farid saat menyadari jika Wahid bahkan tidak berpindah dari tempatnya.


"Iya ustad, bentar!" sahut Wahid sambil berjalan cepat menyusul ustad Farid.


Hingga sesampai di Mes, ustad Farid memilih segera merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai, satu ruangan itu terdapat dua kasur lantai berukuran one size, di dalam ruangan yang berukuran lima kali lima meter itu menjadi tempat serba guna, mereka melakukan segala aktifitas di sana kecuali memasak dan mandi.


Dapur dan kamar mandi berada di bangunan terpisah dari tempatnya saat ini, mereka harus keluar dan pergi ke belakang agar sampai di dapur.


"Ahhhh, capeknya!" gumam ustad Farid sambil menatap langit-langit, sesekali terlihat jarinya bergerak guna mengagungkan asma Allah. Ustad Farid memang selalu menyempatkan waktu kosongnya dengan berzikir.


Berbeda dengan ustad Farid, Wahid memilih duduk di karpet dan menyandarkan punggungnya di dinding, seperti biasa ia kembali fokus dengan ponselnya.


Hal itu berhasil membuat ustad Farid kembali penasaran. Ia tidak pernah merasa begitu tertarik dengan benda pipih itu, tapi tidak dengan Wahid. Ia merasa Wahid sudah begitu ketergantungan dengan benda itu, setiap kali duduk yang selalu ia mainkan hanya benda pipih itu.


Semenarik itu ya melihat hp ...., batinnya sambil memiringkan kepalanya menatap Wahid yang tidak sadar jika tengah diperhatikan oleh ustad Farid.


"Hid," panggilnya kemudian setelah merasa tidak tahan dengan rasa penasarannya. Panggilan itu berhasil mengalihkan perhatian Wahid.


"Iya ustad?"


"Menurutmu, mana yang lebih menarik, uang apa ponsel?"


"Pengen survey aja!"


"Dua-duanya, tapi hanya sekedarnya ustad!"


"Memang yang di bilang sekedarnya itu, pagi-pagi bangun buka mata hp, makan hp, jalan hp, habis sholat hp, ke kamar mandi hp, mau tidur lagi masih hp lagi."


"Ohhh ustad!" Wahid merasa kalau ucapan sang ustad memang di tujukan padanya, dengan cepat Wahid meletakkan ponselnya sambil tersenyum. "Bentar lagi Wahid juga baca Al Qur'an kok ustad!"


"Baguslah kalau gitu!" ucap ustad farid. Ia pun kembali menengadahkan kepalanya hendak menutup mata, tapi segera ia teringat sesuatu. Ia pun kembali memiringkan kepalanya menatap Wahid yang tengah menyingsingkan lengan bajunya hendak mengambil wudhu.


"Besok kamu langsung ke kedai aja ya Hid, kalau pak Dul sudah datang katakan kalau aku ke madrasah dulu, kalau nggak keberatan suruh nunggu!" Wahid pun menghentikan kegiatannya mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan oleh ustad Farid.


"Iya ustad!" jawabnya singkat, Wahid pun akhirnya berdiri dari tempatnya dan keluar dari ruangan itu menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu sedangkan ustad Farid kembali menengadahkan kepalanya, ia tengah fokus dengan pikirannya.


Bukan seperti yang di inginkan, tapi ternyata apa yang dia pikirkan tidak sejalan dengan apa yang seharusnya ia pikirkan, tiba-tiba pikiran ustad Farid teralihkan pada gadis yang telah membuat ia mendorong motor begitu jauh.


Tapi fokusnya bukan tentang rasa kesalnya mendorong motor, tapi ia malah fokus pada pernyataan gadis itu, kini pikirannya fokus pada gadis yang tadi siang telah berani melamarnya,


Memang dia serius dengan perkataannya? Kalau tidak bagaimana? Kalau ternyata dia hanya ingin mempermainkanku, hanya ingin membuat aku malu? Apa iya, tapi kan kita tidak saling kenal. Kalau memang melakukan hal itu, motifnya apa coba ...., ustad Farid tengah memikirkan segara kemungkinannya.


Kenapa jadi mikirin dia sih ....


Dengan cepat ustad Farid menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Nggak, nggak, nggak boleh seperti ini. Dia pasti hanya bercanda ....


Wahid sudah kembali dari belakang, ia keherannya saat melihat ustad Farid yang menggelengkan kepalanya beberapa kali,


"Ustad," panggil Wahid kemudian.


"Emang nikah gampang!" celetup ustad Farid membuat Wahid tercengang.


"Memang siapa yang mau nikah ustad?" tanyanya kemudian.


Ustad Farid yang segara sadar pun segera bangun dari tidurnya, ia duduk bersila di tempatnya,


"Hahhh?" ustad Farid sadar jika dia baru keceplosan.


"Siapa?" tanya ustad Farid kemudian setelah sedikit menetralkan perasaannya.


"Iya, siapa ustad yang mau nikah?" tanya Wahid yang semakin penasaran.


"Bukan_, eh maksudnya jangan buru-buru nikah!" ucap ustad Farid pura-pura menasehati.


"Ya nggak lah ustad, Wahid kan masih mau kuliah. Lagi pula Wahid juga belum punya modal buat nikah."


"Ohhh."


Hanya gitu ...., batin Wahid tidak percaya.


Wahid semakin curiga, ia pun akhrinya memilih duduk di tempat tidurnua, ia duduk bersila menghadap sang ustad,


"Ustad belum kepikiran buat nikah, kan sudah pasti ustad punya modal?" tanyanya, itu benar-benar pertanyaan yang sudah lama ia pendam dan ingin ia tanyakan.


"Kenapa jadi tanya gitu?" tanya balik ustad Farid.


"Ya pengen tahu aja Ustad!"


"Nggak usah memikirkan hal yang memang tidak seharusnya dipikirkan, oh iya kamu tadi manggil aku ada apa?" tanya ustad Farid kemudian.


"Nggak pa pa, ya pengen tanya itu tadi!, ngomong-ngomong soal kedai, kenapa ustad Farid nggak bangun kedai sendiri aja dari pada ngejalanin kedainya ustad Zaki?"


"Menurutmu?"


"Nggak tahu, kalau Wahid tahu pasti nggak tanya ustad!" jawab Wahid dengan santainya


"Ya udah buat PR aja, anggap sebagai ulangan Minggu ini." ucap ustad Farid sambil kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya dan menutup tubuhnya hingga sampai di kepala.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.abi5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2