Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 90


__ADS_3

"Kok pulang lebih awal mas?" tanya Anin saat ustad Farid pulang dari masjid sebelum.jam delapan malam.


"Iya dek, mas nggak ngisi pengajian hari ini."


Anin tampak masih sibuk menyiapkan makanan untuk sang suami, setelah beberapa bulan menikah membuat Anin mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah. Walaupun sebagian besar yang mengerjakan ustad Farid. Tapi untuk memasak, sekarang pekerjaan itu sudah diambil alih oleh anin. Dengan berbekal video YouTube dan beberapa konten memasak di tok tok, Anin mulai bisa membuat beberapa makanan yang di modifikasi menjadi resepnya sendiri.


"Makan mas," ucap Anin sambil menyodorkan sepirinh mie ayam kecap buatannya.


Ustad Farid pun dengan cepat membaca doa dan mulai menyantap makanan buatan sang istri,


"Ini benar-benar makanan ternikmat yang mas makan.". ucapnya sambil mengunyah makanannya.


"Jangan lebay deh mas."


"Mas serius. Mau tahu apa yang bikin nikmat?"


"Apa?"


"Karena di temani sama bidadari tercantik di dunia dan dibuat sendiri sama bidadarinya. Kamu tahu ini yang bikin makanan ini nikmat, mungkin yang enak banyak tapi yang nikmat ya cuma ini."


Seketika wajah Anin tersipu, rasanya seperti puluhan kupu-kupu beterbangan dari kepala Anin.


"Dek Anin nggak makan?" tanya ustad Farid saat menyadari Anin tidak mengambil makanan.


"Sudah tadi mas, maaf ya Anin nggak nungguin mas. Anin kita mas pulang malam, karena lapar jadi Anin makan duluan."


"Ohhh, nggak pa pa dek. Nggak usah merasa bersalah begitu, maaf ya mas yang salah, mas selalu bikin dek Anin nungu."


"Nggak pa pa, santai aja. Oh iya, ngomong-ngomong kenapa mas pulang cepet? Memang siapa yang ngisi pengajian?"


"Anaknya kyai Hasan."


Golek


Anin menelan Salivanya dengan kasar. Ia menatap sang suami dengan serius.


"Kyai Hasan?" Anin masih menyangkal pendengarannya.


"Anaknya dek. Anak kyai Hasan baru pulang dari pesantren. Anaknya baik, kalem, ganteng. Dek Anin masak nggak kenal?"


"Kenal kok_, mas! Kenal." jawab Anin dengan gugup, "Ya sudah Anin ke kamar mandi dulu ya mas, tadi Anin lupa belum bilas cucian."

__ADS_1


Srekkkk


Ustad Farid dengan cepat menahan tangan Anin,


"Duduk dek,"


'Jangan-jangan mas Farid tahu sesuatu!?' batin Anin khawatir, ia pun menuruti permintaan suaminya dan kembali duduk.


"Ada apa mas?"


"Biar mas yang kerjain, dek Anin tidur aja, nanti mas nyusul."


"Tapi mas,"


"Dek Anin sudah kerja keras seharian ini, jadi biar mas aja."


Benar saja, satu Minggu ini Anin benar-benar sibuk karena tengah melakukan pembangunan tempat produksi kripik, meskipun sudah di percayakan pada tukang tapi Anin tetap memantau masalah bahan-bahan dan desaninnya juga. Ia juga untuk sementara harus memindahkan tempat produksi ke dapur ibunya agar produksi tetap berjalan selama pembangunan.


"Baiklah, Anin ke kamar dulu ya."


Anin pun segera beranjak dari duduknya, ia pergi ke kamar.


Anin duduk di tepi tempat tidur, tangannya mencengkram seprai dengan wajah penuh khawatir.


Semua pemikiran tentang hal yang mungkin terjadi membuat Anin semakin cemas, ia bahkan melupakan niatnya untuk tidur. Bagaimana ia bisa tidur juga perasaannya tengah di luputi rasa khawatir.


"Kira-kira kyai Hasan sudah menceritakan semuanya apa belum ya?" ucapnya setelah sekian lama dalam posisi yang sama.


"Cerita apa dek?"


Pertanyaan itu segera menyadarkan Anin, ia pun mencari sumber suara dan ternyata sang suami sudah berada di belakangnya.


"Ahhh itu mas, cerita soal mas Fais."


"Beliau cerita sih,"


"Ya benar mas? Jadi mas sudah tahu dong?" tanya Anin sambil menggeser duduknya berharap suaminya duduk di sampingnya.


"Ternyata ustad Fais itu sudah mengajar di pesantren tempatnya belajar. Targetnya seharusnya pulang satu tahun yang lalu, tapi karena pemilik pesantren meminta ustad Fais untuk menjadi pengajar di sana, mas Fais pun menunda kepulangannya."


"Pantas," gumam Anin pelan tapi masih bisa di dengar oleh ustad Farid.

__ADS_1


"Pantas apa dek?"


"Ahhh itu mas, pantas lama nggak pulang, rupanya ngajar juga."


"Ya begitu deh aku dengar dari cerita ustad Fais." Ustad Farid tersenyum lalu mengusap wajah Anin, "Kok jadi ngomongin ustad Fais sih, nanti beliau tersedak loh. Bagaimana kalau kita merancang masa depan."


"Maksud mas Parid?"


"Kita produksi anak yukkk," ucap ustad Farid sambil mengusap wajah Anin.


"Masssss,"


Di tempat lain, ustad Fais masih belum bisa tidur. Ia memilih menghabiskan waktunya di teras rumah sambil membaca buku.


"Belum tidur, Is?" tanya kyai Hasan. Ia pun ikut duduk menyusul putranya itu.


"Iya bah, Abah belum tidur?"


"Belum ngantuk, kamu sendiri?"


"Balum bah, masih asyik baca. Kangen juga sama suasana rumah, pengen besok jalan-jalan." ucap ustad Fais, kemudian ia menutup bukuny begitu teringat sesuatu.


"Oh iya bah, ustad Farid nikah sama siapa?"


Mendengar pertanyaan dari putranya, kyai Hasan terdiam.


"Maaf karena Abah tidak cerita sama kamu sebelumnya."


"Ada apa bah?" tanya ustad Fais dengan kening yang berkerut hingga membuat alis tebalnya hampir saja menyatu.


"Ustad Farid suami Anin."


Seketika suasana menjadi hening, baik ustad Fais maupun kyai Hasan tidak ada yang mengeluarkan suara lagi.


Hingga akhirnya ustad Fais memberanikan diri untuk bertanya, "Kapan bah?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2