
Dua bulan kemudian.
"Mas, kita mau ke mana?" tanya Anin saat sang suami tiba-tiba mengajaknya pergi tanpa memberitahu tujuannya. Ini tidak biasa.
"Kan kejutan dek."
"Baiklah, demi terkejut Anin kan diam."
Akhirnya Anin pun memilih diam sepanjang perjalanan, hingga lima belas menit kemudian ustad Farid menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang tampak masih baru karena beberapa sisa material masih berserakan di halaman rumah, catnya juga tampak masih sangat baru.
"Ini rumah siapa mas?"
"Nanti dek Anin juga tahu, lebih baik sekarang masuk dulu ya."
Ustad Farid mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya dan mulai membuka pintu.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil membuka pintu. "Masuk dek." pinta ustad farid.
"Kok mas punya kuncinya sih? Ini nggak pa pa kalau Anin masuk gitu aja?"
"Nggak pa pa dek, ini rumah kita."
"Rumah kita?" Anin masih tidak percaya karena ia ia tahu beberapa bulan lalu masih berupa tanah kosong.
"Iya dek, kebetulan penjualan mas mencapai target, bahkan dua kali lipat jadi mas dapat bonus lumayan besar. Jadi mas gunain buat bangun rumah impian kita, maaf ya mas nggak kasih tahu dek Anin dulu."
"Ya Allah mas, aku nggak tahu harus ngomong apa lagi. Ini benar-benar rumah impian Anin, persis seperti yang Anin inginkan. Ada taman di belakang, ada kolam kecil. Dapur yang langsung menghadap ke taman, ada ruang makan di teras samping, benar-benar rumah impian mas. Bagaimana bisa aku marah sama mas,"
Anin saking bersyukurnya ia sampai memeluk sang suami.Sederhana tapi rumah impian jelas jauh lebih baik dari rumah sebesar apapun.
Anin begitu bahagia mendapatkan surprise itu. Ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi, ia terus berkeliling dan berlarian kesana kemari sepeti anak kecil.
Selang dua hari, ustad Farid pun mengajak Anin untuk pindah rumah dengan dibantu beberapa orang mereka merapikan barang-barang. Hanya barang-barang lama yang ada di rumah lama yang mereka bawa. Memang tidak banyak karena ustad Farid sengaja meninggalkan beberapa barang di rumah lama. Ustad Farid berencana menjadi rumah lama sebagai gudang untuk menyetok baju muslim yang datang karena toko terlalu sempit.
__ADS_1
"Beberapa hari ini mas sudah kasih Anin banyak kejutan. Jadi sekarang giliran Anin yang masih kejutan ke mas Parid." ucap Anin saat mereka hendak tidur.
"Kejutan?"
"Iya, tapi mas Parid tutup mata dulu ya."
"Baiklah."
Selagi ustad Farid tutup mata, Anin pun mengambil benda kecil di balik bantalnya dan mengarahkan tepat di depan pan mata ustad Farid.
"Sekarang sudah boleh buka mata,"
Ustad Farid pun perlahan membuka matanya, ia berkali-kali mengedipkan matanya. Walaupun ia belum pernah melihat barang aslinya tapi ia kerap melihatnya di senetron senetron yang ada di tv.
Karena masih tidak puas, ia pun mengambil benda kecil itu dari tangan Anin,
"Dek ini garis dua. Apa ini artinya dek Anin hamil?"
Anin pun mengangukkan kepalanya dengan sangat yakin,
"Alhamdulillah," ustad Farid hampir saja menitikkan air matanya tapi dengan cepat ia menghapusnya, ustad Farid segera memeluk tubuh Anin dan mengusap perut Anin yang masih rata.
Satu per satu Allah telah mewujudkan doa-doanya, walaupun pelan tapi janji Allah itu pasti. Allah tahu sekeras apa usaha makluknNya.
"Pokoknya besok harus periksa ke dokter kandungan." ucap Ustad Farid, "Sudah, sekarang dek anin tidur. Cari posisi yang nyaman. Kalau kurang nyaman langsung bilang sama mas ya."
Anin tersenyum, "Iya mas."
Pagi harinya, Anin segera mengajak Anin ke dokter kandungan, bahkan untuk ke sana ustad Farid sengaja menggunakan mobil sewaan agar Anin nyaman.
"Bagaimana dok, ibu dan bayinya?"
"Alhamdulillah pak, ibu dan bayinya sehat. Usia kandungan bunda Anin menginjak Sembilang bulan, masih rawan-rawannya jadi pak Farid harus tetap mengawasi gizi dan kesehatan ibunya agar janinnya tetap sehat ya pak."
__ADS_1
"Baik Bu. Untuk hal-hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan apa saja dok?"
"Di trimester pertama ini, sebaiknya ibu mengurangi aktifitas-aktifitas fisik ya. Mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Sebaiknya jangan olah raga berat dulu, kalau jalan pagi nggak pa pa, tapi sebentar saja. Trus hubungan suami istri, sebaiknya di kurangi dulu sampai usia kandungan menginjak trimester dua."
"Maksudnya nggak boleh_?" ustad Farid tampak kikuk saat Harau mengatakan hal itu.
"Sebenarnya kalau tidak ada masalah, hubungan suami istri masih di perbolehkan, tapi kalau bisa di hindari dulu untuk mengurangi resiko-resiko yang tidak di inginkan."
"Baik dok terimakasih atas menjelaskan."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, ustad Farid pun mengajak Anin mampir ke rumah orang tua Anin dan mengatakan kehamilan Anin. Tampak pak Suroso dan istrinya begitu bahagia begitu juga dengan Novi, berbeda dengan sang budhe yang masih tinggal di rumah pak Suroso.
"Wong hamil aja kok kayak habis dapat Wahyu. Nggak usah lebay gitu, tuh lihat si Atun hamil Sampek anaknya lima ya nggak segitunya." ucap budhe Anin tampan cuek. Karena semua sudah hafal dengan sikap budhe Anin jadi tidak diambil pusing.
"Berganti ibu harus segera mempersiapkan acara empat bulanan."
"Masih lama Bu, masih dua bulan lagi."
"Yo nggak pa pa, pokoknya nanti acara empat bulanannya di sini sana." ucap pak Suroso menanggapi ucapan Anin dan ibunya, kemudian pak Suroso menoleh pada ustad Farid,
"Rid, jangan lupa kasih tahu Ambu dan Abah kamu, mereka pasti juga sangat senang."
"Enggeh pak."
Ustad Farid benar-benar menjadi suami yang siaga, bahkan di bulan-bulan pertama ustad Farid melarang Anin melakukan apapun.
Ustad Farid menggantikan pekerjaan Anin di tempat produksi keripik, bahkan untuk meneliti pemasukan dan pengeluaran pun ustad Farid yang mengambil alih.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...