
Ustad Farid tengah turun dari mobil miliknya yang baru saja ia beli beberapa Minggu lalu, bukan mobil mewah tapi cukuplah untuk membuat sang istri sedikit nyaman jika pergi kemana-mana.
Tapi mungkin ini kali terakhir ia bisa mengendarai mobil itu, jika uangnya tidak cukup mungkin ia juga akan menjualnya.
Kini ia sudah berada di depan sebuah gedung perkantoran yang cukup besar yang ada di Surabaya.
Langkahnya begitu pasti memasuki lobi, manik matanya menelisik mencari keberadaan seseorang.
Perasaan lega saat melihat sederet meja yang di belakangnya beberapa wanita berpenampilan lari khas kantoran,
"Apa atasan anda ada di ruangannya?" tanya ustad Farid begitu sampai di depan meja yang ia tahu itu meja resepsionis. Bukan hal yang asing jika sebuah perusahan yang lumayan besar di surabaya dengan cukup banyak menjaga resepsionis, mereka terlihat sibuk semua ada yang tengah keringat telpon, dan aja juga yang melayani tamu.
Ya, ustad Farid sengaja datang ke Surabaya untuk menemui David.
"Apakah sudah ada janji?"
"Katakan saja kalau
Farid dari Blitar ingin bertemu dengannya." ucapnya dengan pasti, ia yakin jika David tidak mungkin menolak kedatanganya. Bukan karena ia orang penting tapi urusannya mungkin cukup menarik perhatian David.
"Baik, tunggu sebentar ya." ucap wanita itu dan ustad Farid menganggukkan kepalanya.
Wanita berpakaian rapi itu tampak bicara di sambungan telpon, hanya sepuluh menit dan akhrinya ustad farid pun di persilahkan untuk masuk ke sebuah ruang yang tampak paling bagus dari yang lainnya.
"Wahhh apa nih yang berhasil membuat tuan Farid bisa sampai ke sini?" tanya seorang pria yang tengah duduk membelakangi arahnya datang, walaupun begitu ustad Farid tahu siapa pemilik suara itu.
"Berhenti menggangu keluarga saya, terutama istri dan calon anak saya." ucap ustad Farid tanpa basa basi.
Srekkkk
Perlahan kursi itu di putar dan pria itu tersenyum licik.
"Memang begitu cara bertamu? Bukankan kamu yang paling tahu bagaimana cara menghormati tuan rumah?"
"Bagaimana saya bisa menghormati orang yang hampir saja mencelakai anak dan istri saya."
"Oh masalah itu!!?? Itu sih wanita tua itu saja yang bodoh, saya sudah memberinya pilihan. Tapi dia malah memilih meracuni keponakannya sendiri. Trus saya bisa apa??"
"Berapa hutang budhenya Anin?"
"Ckkkk, jangan sombong. Gaji kamu jadi guru seratus tahun pun nggak akan mampu melunasinya." hina David pada ustad Farid.
"Saya akan melunasinya."
"Dasar congkak."
"Saya serius, tapi dengan syarat! Jangan ganggu keluarga saya lagi."
"Baiklah saya setuju."
"Tapi saya ingin bukti fisiknya, sebuah surat perjanjian di atas materai."
"Ihsssss, saya seorang pria. Saya bisa menepati janji, jadi jangan khawatir."
"Jika anda gantle, anda tidak akan menggangu ataupun mengharapkan cinta dari wanita yang sudah bersuami."
__ADS_1
"Ckkkkk, berani sekali anda menghina saya."
"Saya mengatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Jadi katakan berapa hutan budhenya Anin?"
"Seratus lima puluh juta."
Itu bukan uang yang sedikit bagi ustad Farid, ia baru saja merintis usahanya. Tabungannya juga tidak banyak.
"Baiklah, saya akan kembali dalam waktu satu jam dengan uang yang kamu minta."
"Kalau pun tidak kembali saya juga tidak memaksa."
"Saya pasti akan kembali, assalamualaikum."
Ustad Farid pun keluar, ia harus pergi ke bank dan menghubungi seseorang. Setelah ia mendapatkan uang sejumlah yang di minta oleh David, ia pun segera menemui David.
Ustad Farid pun segera menyerahkan uang itu ke David.
"Sebelum ini, saya tetap meminta surat perjanjiannya." ucap ustad Farid dengan tegas. Meskipun ucapan David meyakinkan, tapi tetap ustad Farid meminta hitam di atas putih sebagai bukti.
"Baiklah, terserah kamu." David pun memanggil sekretarisnya dan meminta apa yang di minta oleh ustad Farid.
Setelah semuanya di urus oleh sekretaris David, dan urusannya beres ustad Farid pun berpamitan pergi.
Ia tidak berniat untuk menginap, ia tidak bisa meninggalkan Anin terlalu lama dalam keadaan hamil seperti saat ini.
Sebelum pulang, ustad Farid harus menemui seseorang terlebih dulu.
"Maaf ya, aku hanya bisa membayar segitu." ucap pria itu.
"Tidak pa pa koh, saya yang malah terimakasih karena koh Han mau membantu saya, insyaallah nanti kalau ada uang mobilnya saya ambil lagi ya koh."
"Terimakasih banyak, kalau begitu saya permisi koh.
"Nggak mampir ke dalam dulu?"
"Lain kali aja koh, bentar lagi magrib. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Ya, ustad Farid menjual mobilnya lagi. Ia terpaksa pulang dengan motornya yang sengaja ia tinggal di gudang.
Sebenarnya uang itu juga sebagian ia tabung untuk biaya persalinan Anin. sedangkan persalinan Anin yang tinggal beberapa Minggu lagi, ustad Farid harus kembali memutar otaknya untuk mencari uang untuk biaya persalinan Anin.
***
Karena sekretaris David adalah teman anak budhe Anin, ia pun menceritakan perihal yang di lakukan ustad Farid pada budhe Anin.
Hingga akhirnya Budhe Anin mengetahui kalau ustad farid yang telah melunasi hutang-hutangnya. Ia pun bergegas ke rumah Anin.
"Nin, dimana suami kamu?" tanyanya begitu sampak di rumah Anin.
"Lagi keluar kota, budhe. Katanya pulangnya agak telat. Tapi mungkin bentar lagi pulang budhe, sudah jam delapan malam."
Benar saja, terdengar di luar suara motor berhenti di depan rumah, itu suara motor ustad Farid.
__ADS_1
'Kok motor? Bukankah tadi berangkatnya pakek mobil? Mungkin sengaja mas Farid menitipkan motornya di toko kali ya,' batin Anin berkecamuk, meskipun sebenarnya cukup cemas.
Belum lama ini ustad Farid baru saja membeli sebuah mobil bekas dengan harga yang lumayan murah, walaupun begitu mesinnya masih halus dan yang lebih penting dari itu bisa ia gunakan untuk mengantar Anin kemana-mana dari pada selalu sewa ke rental mobil.
"Assalamualaikum," sapa ustad Farid begitu masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam," sahut Anin.
Ustad Farid selalu pulang dalam keadaan segar karena ia salalu menyempatkan diri untuk mandi di rumah lama sebelum bertemu Anin agar ia tidak membawa kuman. Bajunya juga sudah bersih karena ia meninggalkan beberapa baju di rumah lama.
"Budhe," saat akan memeluk istrinya, ia melihat budhe ada bersama sang istri.
"Iya, budhe cariin mas." ucap Anin dan budhe pun segera mendekat.
"Farid, budhe benar-benar tidak tahu harus berkata apa sekarang, kalaupun minta maaf rasanya kesalahan budhe terlalu banyak, budhe selalu meremehkan kamu, tapi di saat kesusahan seperti ini, kamu yang membantu budhe. Budhe juga rasanya tidak begitu pantas mengucapkan terimakasih karena apa yang kamu lakukan buat budhe terlalu besar. Budhe tidak bisa membalasnya."
"Maksud budhe apa sih? Mas Farid udah bantu apa ke budhe?" tanya Anin yang masih bingung dengan situasinya.
"Farid sudah melunasi hutang budhe, Nin. Hutang budhe nggak sedikit."
Anin pun beralih menatap sang suami,
"Nanti mas jelaskan." ucap ustad farid sambil mengusap puncak kepala Anin yang tidak tertutup hijab itu. Anin memang tidak memakai hijab di dalam rumah karena memang di rumah tidak anak laki-laki selain ustad Farid.
"Ini sudah menjadi kewajiban Farid, budhe. Jika salah satu keluarga dalam masalah, sudah selayaknya kita saling membantu terlebih budhe sudah banyak berjasa dalam kehidupan istri saya, apalagi ini sudah berhubungan dengan nyawa. Farid tidak akan tinggal diam."
Mendengar ucapan ustad Farid, sekali lagi budhe menangis histeris. Ia benar-benar merasa begitu bersalah dan tidak pantas untuk mengucapkan maaf apalagi berterimakasih.
Setelah budhe sudah lebih tenang, Anin pun meminta Budhe untuk menginap saja dan pulang ker umah orang tuanya besok saja. Beruntung budhe setuju.
"Mas, berapa hutang budhe?" tanya Anin yang tiba-tiba khawatir.
"Seratus lima puluh juta."
"Itu banyak sekali mas," Anin begitu terkejut, hingga ia menutupi mulutnya yang terbuka lebar, "Jangan-jangan mobilnya mas jual ya?"
Ustad Farid menundukkan kepalanya tampak begitu menyesal, "Iya dek. Maaf ya mas nggak tanya dulu sama kamu." ucap ustad Farid menyesal, "Aku hanya tidak ingin dia menyakiti kamu dan anak kita lagi."
"Jadi mas_,"
"Aku dengar percapakan kamu dan budhe kemarin."
Reaksi yang seperti itu memang di anggap wajah bagi Anin karena ini sudah menyangkut keselamatan dirinya dan anaknya. Tapi sekarang ada yang lebih ia khawatirkan.
"Mas, jadi tabungan mas juga_?" Anin tiba-tiba merasa tidak enak menanyakannya.
"Maaf, tabungan mas habis. Tapi insyaallah mas akan segera cari lagi."
Jika saat ini tabungan Anin masih, ini tidak akan menjadi masalah. Masalahnya tabungan Anin juga baru saja habis untuk membangun tempat produksi kripik, kalaupun ada tidak sampai lima juta.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...