Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 63


__ADS_3

Sore hari, sepeti rencananya. Ustad Farid pun kembali mampir ke mes untuk mengambil baju-baju yang hanya beberapa helai itu untuk di bawa ke rumah Anin.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ternyata Wahid sudah ada di dalam, ia segera menyambut kedatangan ustad Farid.


"Ya Allah jadi segera ustad!"


"Apanya?" tanya ustad Farid yang ikut duduk di tikar di depan Wahid yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Wajahnya ustad, kayaknya memang kayak gitu kalau udah nikah. Wajahnya jadi semakin berseri."


"Ada-ada aja kamu nih!" ucap ustad Farid dan Wahid pun kembali fokus pada layar laptopnya.


"Sibuk banget ya?" tanya ustad Farid. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ia cerita dan tanyakan pada Wahid karena menurutnya, meskipun Wahid masih muda ia begitu banyak pengalamannya. Mungkin karena pergaulannya tidak terbatas tidak seperti dirinya yang selama ini hanya fokus untuk belajar dan belajar saja.


"Sibuk banget ya Hud?" tanyanya kemudian membuat Wahid mendongakkan kepalanya dan menatap padanya dengan kening yang berkerut,


"Ada masalah ya ustad?" tanyanya balik, untuk pertama kalinya ustad Farid tampak ingin bicara serius padanya. Wahid pun segera menutup laptopnya,


"Ada apa ustad?" tanyanya lagi.


"Kalau kamu sibuk nggak pa pa lain kali saja aku bicaranya!" ucap ustad farid membuat wahid semakin penasaran.


"Nggak pa pa ustad, itu tadi hanya beberapa persiapan untuk kuliah saja!"


"Kapan mulainya?" tanya ustad Farid, ia sampai lupa jika Wahid tidak bisa di Tulungagung terlalu lama lagi karena ia harus segera kembali kuliah.


"Masih satu Minggu lagi, jangan khawatir ustad, Wahid akan kembali ke sini dafi pada ke Bandung setiap sua Minggu sekali atau pas kuliah libur!"


"Ohhhh!" tampak suara Farid tanpa ekspresi.


"Oh iya, ustad tadi mau bicara apa?"


Hehhhhh ....


Ustad Farid menghela nafas belum bercerita,


"Jadi gini. menurutmu jika aku_!" tampak ustad Farid ragu untuk mengatakannya membuat Wahid semakin gemas.

__ADS_1


"Jangan bilang ini soal Anin?" tanya Wahid dan ustad Farid masih diam membuat Wahid semakin yakin jika yang akan mereka bicarakan adalah Anin.


"Ustad dan Anin belum_?" tanya Wahid dan ustad Farid pun segara memotong ucapanya.


"Menurutmu apa tidak aneh jika aku langsung meminta hak sebagai suami sedangkan kita menikah bukan karena kita saling kenal sebelumnya?"


Mendengar pertanyaan ustad Farid, Wahid malah tersenyum. Ia tahu sekaranh kegundahan sepeti apa yang tengah ia hadapi. Meskipun belum menikah, tapi setidaknya ia pernah berada di masa bandel-bandelnya, tidak seperti ustad Farid.


Bukan tanpa alasan ustad Farid menjaga diri agar tidak melakukan kesalahan, selain karena ia takut dengan Allah, ia juga tahu diri dengan posisinya. Menjadi anak angkat kyai Syam adalah anugrah terbaik dalam hidupnya dan untuk itu ia tidak ingin membuat siapapun kecewa padanya.


"Ya dari pada ustad Farid sakit kepala tiap hari mending di coba aja!" ucap Wahid masih dengan begitu enteng.


Apa iya jika menahannya aku bisa sakit kepala? Tapi iya sih, rasanya kepalaku sakit ...., batin ustad Farid. Tapi segera ia menggelengkan kepalanya.


"Oh iya Hid, kira-kira ada nggak ya kontrakan yang dekat-dekat kampung Anin?"


"Ustad Farid mau ngontrak?" tanya Wahid dan ustad Farid pun mengangukkan kepalanya.


Ia merasa tidak enak jika harus terus menumpang di rumah Anin, mau bagaimanapun saat ini Anin menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak mungkin terus-terusan tinggal di rumah mertuanya.


"Nanti coba Wahid tanyakan sama temannya Wahid deh ustad?!"


"Memang kamu punya teman di sini?" tanya ustad Farid heran, dan Wahid pun tersenyum.


"Jangan bandel-bandel Hid, ingat kita hanya perantau!" ucap Ustad Farid merasa perlu untuk menasehati Wahid. Bagaimanapun ia sudah menganggap Wahid seperti adik sendiri.


"Siap ustad!"


"Oh iya, aku baw amotor aku ya, nggak pa pa kan?"


"Nggak pa pa ustad, jangan khawatir. Di sini banyak kendaraan. Ustad bawa aja!"


Akhrinya setelah selesai berbincang dengan Wahid, ustad Farid pun berpamitan. Ia masih punya tugas mengajar mengaji di masjid dekat rumah Anin bersama kyai Hasan.


Beruntung saat sampai dir.umah, Anin belum pulang. Anin sudah mengirim pesan padanya bahwa dia akan berkeliling untuk menjual keripiknya.


Ia masih belum siap menghadapi Anin saat ingat dengan apa yang sebenarnya terjadi semalam.


Walaupun samar-samar dan sepeti mimpi, setelah melihat rona merah di dadanya, ia jadi yakin jika yang mereka lakukan semalam benar-benar terjadi.


Flashback on

__ADS_1


Setelah diam-diam mencium Anin, ustad Farid mebusaha keras untuk mengendalikan perasaannya.


Bukanya selsia, ia malah semakin gelisah. Hingga hampir tengah malam barulah ia tertidur.


Tapi bahkan dalam mimpi pun ia tetap memikirkan apa yang baru aja ia lakukan. Ia membalik badannya tanpa sadar dan kembali mendekatkan bibirnya pada bibir waktu itu.


Seakan gayung pun bersambut, Anin pun membalas ciumannya, dan ciuma itu semakin panas bersamaan dengan semakin panasnya tubuh. Hingga tanpa sadar ia membuka kancing kemejanya, Anin dengan bersemangat mengabsen dada bidang ustad Farid yang tengah terbuka itu dengan bibirnya dan meningalkan tanda mereka di sana.


Tapi yang di sayangkan. Bukannya sadar, mereka begitu berani karena merasa hanya dalam mimpi, hingga akhrinya mereka kembali terlelap dalam posisi saling berpelukan.


Flashback off


Ustad Farid pun kembali berangkat setelah mandi dan mengganti bajunya.


Dari pada jalan kaki yang akan memakan waktu, ustad farid pun memanfaatkan sepeda motornya dan memacunya ke masjid.


Sesampai di masjid ternyata anak-anak sudah berkumpul begitu juga dengan kyai Hasan.


"Assalamualaikum!" sapanya dan langsung di sambut oleh mereka.


"Waalaikum salam, silahkan masuk ustad!" ucap kyai Hasan.


Ustad farid pun segera mendekati dan duduk di samping kyai Hasan berhadapan dengan anak-anak,


"Maaf kyai, saya terlambat!"


"Tidak masalah ustad. Mari saya kenalkan sama anak-anak!"


Ustad Farid pun mengangukkan kepalanya, kyai Hasan pun mulai memp2rkenalkan ustad Farid dengan anak-anak yang tenang mengaji itu.


Akhrinya mereka pun membagi menjadi dua kelas, kelas remaja dan anak-anak. Kyai hasan memberikan kelas remaja pada ustad farid karena menurutnya anak-anak remaja sekarang lebih suka dengan ustad yang fresh sedangkan kelas anak-anak untuk sementara ia pegang selama putranya belum kembali.


Hingga waktu magrib mereka selesai, dan akan berganti dengan yang mengaji ba'dha magrib. Kebanyakan yang ba'dha magrib yang mengaji adalah ibu-ibu dan bapak-bapak juga para pemuda pemudi. Jika ba'dha magrib seminggu dua kali dan biasanya mendatangkan ustad dari lain daerah.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2