Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 80


__ADS_3

Satu bulan berlalu, tapi hubungan Anin dan ustad Farid masih diam di tempat.


Bukan karena ia tidak menginginkan hubungan pernikahannya tumbuh, tapi ustad Farid masih merasa pernikahan mereka yang terlalu mendadak membuatnya tidak berani menuntut banyak pada sang istri.


Apalagi, masalah gaji. Ia belum punya penghasilan yang cukup untuk membahagiakan anin. Apalagi tabunganya sudah ia kuras untuk membeli rumah yang awalnya hanya di sewakan itu.


Satu Minggu yang lalu, pemilik rumah tiba-tiba berniat untuk menjual rumahnya dan jika ustad Farid tidak bisa membelinya terpaksa pemiliknya akan menjual dengan orang lain dan itu artinya mereka harus pindah lagi.


Hari ini Ustad Farid mendapat gaji pertamanya sebagai guru. Tidak banyak, karena ia hanya sebagian guru honorer, mungkin tidak akan cukup untuk membeli kebutuhan satu Minggu jadi, beruntung ia masih bekerja di kedai milik ustad Zaki.


Dengan ragu ustad farid mendekati Anin yang tengah mengolah pembukuan usaha keripiknya.


"Dek"


"Hemmm?" Anin pun menoleh, melihat suaminya yang sudah duduk di sampingnya, ia pun memilih menutup buku besarnya,


"Ada apa mas?" tanya Anin.


Ustad Farid merogoh saku kemejanya, dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih.


"Ini gaji pertama mas mengajar di sini, maaf karena mas hanya bisa memberi ini saja." ucap ustad Farid dan Anin pun tersenyum dengan begitu semangat Anin menerimanya.


"Alhamdulillah mas, ini rezeki yang Allah titipkan untuk kita." Anin bahkan mencium amplop itu.


"Boleh aku buka sekarang?" tanya Anin kemudian.


Ustad Farid dengan ragu mengangukkan kepalanya, bukanya ia tidak punya gaji lain. Tapi gaji dari kedai ia sudah gunakan untuk menambal kekurangan pembayaran rumah.


Anin pun dengan semangat membuka amplop dan mengeluarkan isinya, ada empat lembar uang seratus ribuan. Dan sekali lagi Anin tersenyum, walaupun ini tidak akan cukup untuk hidup mereka selama satu bulan, tapi ia tidak ingin membuat sang suami minder. Lagi pula ia juga sudah punya penghasilan sendiri, ini tidak menjadi masalah baginya.


"Maaf ya dek_,"


"Husstttt!" belum sampai ustad farid menyelesaikan ucapannya, Anin lebih dulu menempelkan jari telunjuknya di bibir ustad Farid,


"Berapapun yang mas kasih buat Anin, Anin terima. Anin seneng dapat uang ini, ini nafkah pertama mas Parid buat Anin, Anin akan sayang membelanjakannya." ucapnya sambil pura-pura cemberut.


"Terimakasih ya, mas jadi lebih semangat buat bekerja."


Anin tersenyum, ia meletakkan amplopnya di atas meja begitu saja dan mendekatkan tubuhnya ke arah ustad Farid,

__ADS_1


"Mas,"


"Hmmm?" ustad Farid terlihat tegang saat Anin begitu dekat seperti itu.


"Kita sudah menikah selama satu bulan kan?"


"I_ya," jawab ustad farid gugup. Tapi Anin malah semakin bersemangat menggoda suaminya.


"Mas juga sudah kasih Anin nafkah."


"Iya,"


"Jadi, bukankah seharusnya sekarang sudah waktunya Anin kasih balasan."


"Maksudnya_,"


Cup


Belum sampai ustad Farid menyelesaikan ucapannya, Anin sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan bibir Anin.


Dan kali ini, meskipun masih kaku, ustad Farid mulai membalas ciuman Anin.


Kini posisinya bahkan sudah berubah, Anin berada di bawah lingkungan ustad Farid. Dan mungkin ini durasi terlama ciuman mereka.


Anin tersenyum, "Jika lebih dari ini, Anin juga sudah siap." gunanya pelan, lebih seperti berbisik.


"Hahhhh?" ustad Farid mendengarnya, tapi ia ingin mendengarnya untuk kedua kalinya.


"Bukan apa-apa, sudah mau magrib mas. Mas nggak ke masjid."


"Ahhh iya, ya udah mas siap-siap dulu ya."


Akhirnya ustad farid pun memilih meninggalkan Anin, ia tengah menjaga jantungnya berada begitu dekat dan kontak fisik dengan Anin seperti itu membuat jantungnya tidak karuan.


Ternyata Anin pun merasakan hal yang sama, bahkan pipinya memerah saat mengingat hal berani yang baru saja ia lakukan.


***


Setelah sholat isya' ustad Farid tidak langsung pulang. Ia memilih singgah di tempatnya Wahid, kebetulan Wahid kembali dari malang. Ia masih sering berkunjung ke Tulungagung setiap libur kuliah. Tulungagung seperti rumah kedua setalah bandung baginya.

__ADS_1


"Ya Allah ustad, sudah nikah jam segini masih keluyuran di sini. Nggak di cari sama istri?" tanya Wahid.


Ustad farid yang tengah merebahkan tubuhnya di atas spon tidur itu hanya tersenyum tipis.


Wahid pun memilih duduk di samping ustad Farid dan mengambil ponselnya.


"Hid, gimana kuliahnya?" tanya ustad Farid kemudian.


"Seperti biasa ustad, ini masih semester awal jadi nggak banyak tugasnya. Ustad sendiri gimana? Ustad junior sudah otw belum nih,?" tanya balik Wahid.


Mendapatkan pertanyaan itu, ustad Farid pun segera bangun dan duduk dengan menekuk kedua lututnya serta menyandarkan punggungnya di dinding,


"Junior apa?"


"Ya anak ustad. Apalagi tang di tunggu dalam pernikahan kalau bukan keturunan? Ya walaupun kita tidak bisa memaksa Allah, buah hati itu anugerah bagi setiap pasangan. Masalah di kasih apa enggak urusan Allah."


Hehhhh ....


Ustad Farid malah menghela nafas saat mendengar ucapan panjang lebar dari Wahid membuat Wahid curiga.


"Ustad," Wahid sampai memiringkan kepalanya, "Jangan bilang ustad belum melakukannya ya?"


Dan dengan polosnya ustad Farid mengangukkan kepalanya.


"Apa masalahnya?" Wahid sampai tercengang, masalahnya satu bulan bukan waktu yang singkat di usia pernikahan.


"Aku takut Anin belum siap."


"Ustad yakin? Atau ustad yang belum siap?"


Mendengar pertanyaan dari Wahid, ustad Farid hanya terdiam. Ia juga tidak tahu jawabannya.


"Jangan sampai Anin jenuh dengan hubungan pernikahan kalian Lo ustad. Wanita itu dimanapun fitrahnya ingin di manja, ya salah satunya dengan sentuhan fisik. Kalau masalah kata-kata romantis itu hanya bumbu saja."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2