
Wahid begitu keheranan melihat sikap ustad Farid, tidak biasanya ia tidak fokus terhadap sesuatu, bisa dibilang kalau ustad Farid adalah orang yang paling fokus salah hal pekerjaan,
"Ustad kenapa sih?" tanyanya kemudian setelah kliennya pergi.
Bukannya menjawab pertanyaan Wahid, ustad Farid malah berdiri dari duduknya,
"Kamu tunggu di parkiran ya!" ucapnya kemudian membuat Wahid semakin bingung.
"Kita mau pulang ya?" tanya Wahid lagi.
"Aku ada urusan sebentar!"
"Kemana ustad?"
"Sebentar saja, jadi kamu duluan ke parkiran bawa juga berkasnya!" ucap ustad Farid sambil menyerahkan map yang tadi masih tergelatak di atas meja.
Wahid pun melakukan apa yang yang di perintahkan oleh ustad Farid tanpa bertanya lagi.
"Ustad Farid aneh, ada apa ya?" Wahid hanya bisa bertanya-tanya sambil berjalan ke parkiran.
Ustad Farid pun berjalan menghampiri meja Anin,
"Assalamualaikum!" sapanya membuat Anin tersenyum dan segera menjawabnya,
"Waalaikum salam, mas!" jawab Anin dengan begitu ramah dan langsung berdiri menyambut kedatangan ustad Farid.
Berbeda dengan David yang tampak begitu penasaran dengan kedatangan ustad farid,meskipun begitu ia sama sekali tidak bergeser dari duduknya, hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada makanannya.
"Sepertinya anda salah tempat, meja ini hanya saya pesan untuk dua orang saja!" ucap David dengan nada dinginnya.
Ustad Farid pun tersenyum, "Maaf, tapi saya tidak berniat untuk duduk!" jawabnya sambil menatap ramah pada David, kemudian ia beralih pada Anin yang sudah berdiri, "Maaf saya terlambat, tadi masih ada urusan di meja sebelah."
"Tidak pa pa mas, Anin ngerti kok!" Anin merasa begituan plong dengan keberadaan ustad Farid. "Oh iya mas David perkenalkan ini mas Farid yang insyaallah telah mengkhitbah saya!" ucap Anin dengan percaya dirinya.
Bisa eF juga akhirnya nih anak ..., batin ustad farid. Ehhh tunggu, kayaknya tadi dia bilang sesuatu, apa ya ...., batin ustad Farid. Tapi tetap ia tersenyum ramah.
David tidak mengerti maksud ucapan Anin, ia pun kembali bertanya, "Apa maksudnya?"
"Mas Farid juga melamar saya, yang insyaallah beberapa hari lagi kami akan menikah!" ucap Anin, dan kali ini ustad Farid bersiap untuk protes tapi segera Anin kembali bicara.
"Dan saya harap mas David sudah tahu apa jawaban saya atas lamaran mas David! Saya sudah lebih dulu menerima lamaran ustad Farid."
David masih terdiam dengan gaya cool nya. Tapi terlihat ia memanikan sendoknya di atas piring tanpa berniat untuk menanggapi ucapan Anin.
"Bagaimana, bisa pulang sekarang mas?" tanya Anin dan ustad Farid hanya bisa mengangukkan kepalanya, lebih tepatnya ia masih begitu syok dengan perkataan Anin. Tapi tujuannya mendatangi meja Anin memang ingin membebaskan anin dari pria itu.
Tapi bukan gitu juga ....
"Mas David, saya permisi dulu ya. Bapak sudah nunggu di rumah! Assalamualaikum!" pamitnya kemudian pada David sambil mengambil tas nya yang masih di atas meja.
"Silahkan mas!" pinta Anin pada ustad Farid untuk berjalan di depannya.
David hanya diam menatap kepergian Anin dan ustad Farid.
"Anin_!" ustad Farid hendak protes pada Anin tapi dengan cepat Anin memotongnya,
"Nanti aja mas, kita bicarakan!" ucap Anin hingga membuat surat Farid tidak lagi bertanya ataupun protes hingga mereka sampai di parkiran.
Wahid begitu terkejut saat melihat ustad farid keluar bersama Anin,
"Assalamualaikum mas Wahid!" sama Anin begitu mereka berhadapan.
__ADS_1
"Waalaikum salam! Ohh jadi ini ya maksud pesan tadi?" tanya Wahid kemudian setelah menjawab salam.
"Apa?" tanya ustad Farid.
"Aku pikir kata-katanya tadi nggak mengandung makna!" ucapnya sambil tersenyum menggoda, sepertinya sekarang ia sudah mulai paham jika ada sesuatu antara ustad Farid dan Anin.
"Wahid, jangan banyak bicara! Bisa kan pesankan taksi online!" perintahnya pada Wahid.
"Nggak perlu mas Parid!" ucap Anin kemudian.
Tadi bisa ngomong eF kenapa sekarang jadi Pe lagi ...., batin ustad Farid sambil mengerutkan keningnya.
"Aku bawa motor sendiri tadi!" ucapnya sambil menunjukkan kunci motor miliknya.
Ustad Farid pun kemudian memerhatikan penampilan Anin, "Pakek baju itu?" tanyanya tidak percaya.
"Motorku kan matic, ustad. Jadi nggak masalah!"
"Baiklah, aku akan mengikutimu di belakang sama Wahid."
Mendengarkan ucapan dari ustad Farid, Anin pun seperti mendapatkan pencerahan.
Kesempatan nggak yah nih ....
Anin tersenyum memikirkan ide yang mungkin saja bisa ia lakukan saat ustad Farid datang ke rumahnya, "Serius ustad mau nganter?"
"Memang wajahku kayak becanda?" tanya ustad Farid sambil menunjuk ke arah wajahnya.
"Ya enggak sih!"
Anin pun segera mencari motornya dan mulai meninggalkan rumah makan itu bersama ustad Farid dan Wahid. Anin meng2ndarai motornya sendiri sedangkan ustad Farid dan Wahid mengikutinya di belakang.
Saat melintas di depan rumah makan, tepat saat David keluar dari rumah makan itu bersama anak buahnya.
"Apa perlu kita kejar pak?" tanya anak buahnya.
"Nggak perlu, kita lihat aja besok!" ucapnya sambil berjalan menuju ke mobil pribadi miliknya,
Kamu pasti akan jadi milikku ...
Sepanjang perjalanan Anin terus menatap ke kaca spionnya, bibirnya terus tersenyum begitu melihat pantulan ustad Farid di sana.
"Perasaan nggak gimana-gimana atau ngapa-ngapain, tapi kayak romantis banget!" gumam Anin sambil tersenyum menatap wajah tampan ustad Farid dari kaca spion nya.
"Kok bisa sih ustad?" tanya Wahid, tampak ia masih begitu penasaran dengan bagaimana, dan apa yang terjadi sebenarnya antara ustad Farid dengan Anin.
"Apanya Hid?" tanya ustad Farid sambil tetap fokus ke depan.
"Sehati!" jawab Wahid singkat tapi menimbulkan pertanyaan panjang di benak ustad Farid.
"Sama siapa?" ustad Farid masih pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Wahid.
"Sama Anin! Atau jangan-jangan emang ustad udah janjian ya?" tanya Wahid yang sudah mulai jengkel.
"Sok tahu kamu!" 7stad Farid tidak ingin membahas terlalu banyak.
"Buktinya ketemu terus!"
"Kamu tahu dari mana kalau kita ketemu terus?"
"Jadi benar kan, ustad ketemu terus sama Anin?" tanya Wahid sambil tersenyum menggoda,
__ADS_1
"Kamu nanya atau sengaja interogasi sih Hid?"
"Ya dua-duanya!" jawab Wahid dengan santainya.
***
Blitar
"Kok jam segini ustad Zaki belum pulang sih Jah?" Nur beberapa kali menatap jam yang tergantung di dinding, ini sudah jam sembilan malam dan Nur masih harus menunggu Zahra di rumah sakit. Sengaja ia tidak pulang karena ingin pulang bareng dengan pak Warsi dan Bu Narsih.
"Kan nganter abi sama ummi, Nur!" jawab Zahra sambil sibuk menscrol layar hp nya.
"Kemana?"
"Ke Surabaya, ke bandara."
"Ummi sama Abi balik ke Bandung?"
"Iya,"
"Aku denger kemarin mau pakek mobil aja, kok nggak jadi?"
"Kan temennya ustad Parid ngikut ustad Parid ke Tulungagung, kata mas ustad kasihan kalau Abi harus nyetir sendiri ke Bandung!"
"Ohhhh, kirain!" Nur pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Zahra, ia mulai mescroll hpnya, "Acaranya di Semarang nggak jadi?" tanya Nur lagi membuat Zahra teralihkan perhatiannya, ia menatap sahabatnya itu sambil mengerutkan keningnya,
"Kok kamu tahu?"
"Ya tahu lah," ucap Nur sambil tersenyum.
"Mencurigakan!" ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apanya!!! Kemarin pas ada ustad Farid aku sempet ngobrol soalnya!"
Mendengar hal itu, Zahra menjadi begitu penasaran, ia sampai meletakkan hp nya dan mendekat ke arah nur,
"Ngobrolin apa?"
"Kepo banget!"
"Ayolah, apa Nur?"
"Ya soal kehidupan di Bandung kayak gimana! Itu aja!"
"Itu tok?"
Nur pun mengangukkan kepalanya, "Serius itu tok?"
"Iya!"
"Nggak percoyo aku!"
"Yo wes lek nggak percoyo!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...