
Perlahan Anin keluar dari kamar dan mencari keberadaan sang suami. Ternyata sang suami tengah terlelap di depan tv, dengan beralaskan sebuah busa lipat.
Ia pun duduk berlutut di depan tubuh suaminya, kemudian menelungkupkan tubuhnya menyanggah dagunya dengan kedua tangan, menatap wajah tampan sang suami.
Perlahan sebelah tangannya ia tarik dari dagunya dan ia ulurkan ke wajah sang suami, mengukir wajah suaminya mulai dari kening, turun ke hidung dan akhrinya terhenti di belahan bibir sang suami,
"Maha besar Allah yang sudah menciptakan makluk sebaik ini," gumamnya lirih sambil tersenyum.
Tapi dengan cepat Anin menarik tangannya saat pria itu perlahan membuka matanya,
"Dek,"
"Maaf mas, Anin ganggu tidur mas."
Ustad Farid pun tersenyum dan memiringkan tubuhnya, menyangka kepalanya dengan tangan kirinya,
"Enggak. Dek Anin belum tidur."
Anin menggelengkan kepalanya, "Aku nggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Pengen tidur di peluk," ucap Anin dengan manja membuat ustad Farid tersenyum dan menggeser tubuhnya, kemudian menepuk bantal di sampingnya,
"Tidurlah, biar mas peluk."
Anin kembali tersenyum, dan segera merebahkan tubuhnya di samping suaminya, tangan ustad Farid pun segera melingkar di pinggang Anin,
__ADS_1
Anin menyusupkan wajahnya ke dada sang suami, dan benar saja hanya dalam hitungan menit Anin sudah terlelap.
Hawa dingin yang menyusup ke tubuhnya karena selimut yang ia pakai terlalu tipis membuat Anin berkali-kali merekatkan selimutnya, tapi segera ia menyadari sesuatu. Sepertinya tidak ada orang yang semalam memeluknya.
Dengan setengah sadar, Anin membuka matanya dan benar saja ia tengah tidur seorang diri. Tapi samar-samar pendengarannya menangkap sayup-sayup suara seseorang yang tengah berdoa. Saat ia memiringkan tubuhnya, ternya benar sang suami tengah duduk di atas sajadah dengan tangan yang menengadah.
"Ya Allah aku sedang mengupayakan sesuatu. Aku sedang berusaha sebaik mungkin. Aku iringi ikhtiar ini dengan doa agar Engkau mudahkan urusanku. Aku percaya bahwa Engkau mengetahui kesungguhan ku, dan Engkau tahu sebesar apa harapanku.
Aku percaya akan kuasaMu ya Rabb, aku tahu Engkau telah menetapkan segalanya dengan sebaik-baiknya ketetapan.
Ya Allah ya Rabb, aku percaya Engkau memiliki jalan yang teramat indah untuk menuntun hamba Mu ini, dan aku percaya apapun yang terjadi dan apapun hasilnya nanti, itu karena kehendakMu.
Robbana atinna fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah waqina adabanar. Aamiin."
Saat ustad Farid kembali mengatupkan kedua tangannya, Anin segera kembali menutup matanya setelah ikut mengambil doa suaminya.
"Dek, sebentar lagi subuh, bangun yukk."
Anin pun perlahan membuka matanya, pura-pura belum bangun.
"Mas, sudah bangun?"
"Iya, mas ke masjid nggak pa pa ya?" tanyanya lagi dan Anin pun mengangukkan kepalanya. Memang dari rumah sudah terdengar lantunan bacaan Al Qur'an dari masjid.
***
"Suamimu belum pulang juga dari masjid?" tanya budhe Anin saat ustad Farid belum juga pulang meskipun Anin yang di bantu budhenya sudah selesai memasak. Karena hari ini ada budhe, mungkin ustad Farid pulang terlambat. Ia tidak mau menggangu Anin dengan budhenya.
__ADS_1
"Belum budhe, tapi biasanya mas Parid ngisi pengajian subuh di masjid, budhe."
"Ihhh kayak gitu mau hidupin anak orang, mana kenyang dengan ngaji. Kamu nggak lihat bapak kamu, selesai Sholah subuh langsung berangkat ke ladang, jam segini sudah kembali dari ladang trus kerja. Lah ini, suami kamu enak-enakan jam segini masih di masjid. Jan nggak punya tekat."
"Budhe, nggak gitu. Mas Parid orangnya juga rajin. Tapi kan memang rejeki orang beda-beda."
"Assalamualaikum," sarapan dari seseorang segera menghentikan kegiatan Anin, berbeda dengan budhe yang memilih memalingkan wajahnya dan pergi.
"Waalaikum salam," jawab Anin dengan cepat.
"Budhe mau mandi, suntuk di rumah. Mau jalan-jalan, habisin uang." ucap budhe sambil meninggalkan Anin dan ustad Farid.
"Mas, Itu tadi budhe hanya_,"
Ustad Farid menempelkan jari telunjuknya di bibir Anin,
"Enggak pa pa dek, budhe benar. Mungkin mas harus bekerja lebih keras lagi agar bisa bahagiain kamu dek."
"Mas," Anin jadi semakin merasa bersalah, ia yakin jika suaminya pasti mendengarkan ucapan budhenya tadi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...