Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 25


__ADS_3

Ustad Farid tampak rapi dengan kemeja dan sarung yang melingkar di pinggangnya. Ia tengah menyisir rambutnya dan mulai mengenakan peci kesayangannya.


Wahid yang baru saja kembali dari mencuci baju sedikit terkejut melihat penampilan ustad Farid, Wahid pun meletakkan keranjang cucian yang telah kosong di sudut ruangan dan kembali menatap sang ustad,


"Mau ke mana ustad?" tanya Wahid kemudian. Tanpa ustad Farid menoleh ke arahnya, ia bisa tahu jika ustad Farid menatap padanya melalui cermin besar yang berada di depan sang ustad.


"Ke madrasah!" jawab ustad Farid singkat sambil merapikan kembali lengan kemejanya yang sempat ia singsingkan dan kini ia panjangkan lagi. "Kayak ya gini lebih tapi?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengancingkan lengan kemejanya.


"Kok pakek sarung?" tanya Wahid setelah menemukan ada yang aneh pada diri sang ustad


Mendapat pertanyaan dari Wahid, ustad farid pun segera memperhatikan sarungnya yang sudah melekat di tubuhnya,


"Memang ada yang aneh?" tanya ustad Farid sambil sesekali memutar badannya.


"Ya enggak sih ustad, tapi_!" belum selesai Wahid berkata, ustad Farid segera memotongnya.


"Tapi aneh?" tanya ustad Farid merasa sangsi dengan penampilannya sendiri.


"Agak beda!" sebenarnya tidak masalah, ustad farid malah tampak berbeda jika begitu. Keluar aura pondokannya.


"Celanaku kotor semua, kamu tahu kan aku cuma bawa dua celana!"


"Pantes!!!"


"Beneran nggak pa pa kan kalau begini ke sekolah?" tanya ustad Farid lagi merasa ragu.


"Nggak pa pa sih ustad, asal_!"


"Asal apa?"


"Asal dalemnya pakek kolor!"


"Mau aku timpuk pakek helm?"


"Ampun, ampun ustad, hanya becanda!"


"Issttt!" ustad Farid pun nyengir dan kembali menatap ke cermin, memastikan sekali lagi kalau penampilannya sudah sempurna.


"Aku berangkat, jangan lupa ke kedai!" ucap ustad Farid ambil mengambil tas kecil dan helmnya, "Oh iya semalam aku sudah pinjam motor salah satu karyawan, motornya udah datang belum?" tanyanya begitu teringat Dangan helm yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Sudah ustad, tuh di depan."


"Kenapa nggak bilang dari tadi?"


"Lupa ustad, Wahid balik ke sini tadi juga mau ngomong itu!"


"Dasar!!! Ya sudah, aku berangkat dulu!" ucapnya setalah memakai juga jaketnya dan menenteng tas kecilnya. "Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Ustad Farid pun segara memacu motornya menuju ke madrasah tempat pak Purwanto.


Dengan dibekali search lok dari kepala madrasah, ustad Farid akhirnya mencari tempat yang belum pernah ia kunjungi itu. Tempatnya cukup jauh dari lokasinya atau mungkin karena baru pertama kali dan masih mencari hingga ia membutuhkan waktu hingga hampir satu jam untuk sampai.


Terlihat sekolah sudah sepi, tapi ia bisa mendengar di setiap kelas terlantung ayat-ayat Al-Qur'an. Sepertinya ada pembiasaan sebelum memulai pelajaran untuk membaca Al Qur'an.


"Assalamualaikum pak!" sapa ya pada satpam.


"Waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu mas?" tanya pak satpam.


"Saya mau ketemu sama pak Purwanto, apa beliaunya sudah datang?" tanya ustad Farid sambil melepaskan helmnya.


"Sudah pak,"


"Baiklah, kalau begitu mari saya antar ke ruangannya."


"Terimakasih pak!"


Ustad Farid yang di antar pak satpam pun menuju ke ruangan kepala sekolah yang lokasinya lumayan agak jauh dari pos satpam.


Madrasah itu cukup besar untuk ukuran madrasah yang ada di kota kecil seperti Tulungagung. Tidak heran jika madrasah itu menjadi madrasah favorit bagi para orang tua dan calon siswa yang hendak mendaftar ke sana.


"Assalamualaikum!" sapa ustad tmfarid membuat pria yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya segara mendongakkan kepalanya dan tersenyum begitu melihat siapa yang datang.


"Waalaikum salam, ustad. Silahkan masuk!"


Setelah memastikan ustad Farid masuk, pak satpam pun segera berpamitan dan berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Silakan duduk ustad!"

__ADS_1


"Terimakasih pak!" Ustad Farid pun segara duduk di depaneja kerja pak Purwanto.


"Ada apa ya pak, apa ada hal penting yang harus di bicarakan?" tanya ustad Farid setelah berbasa-basi.


"Maaf sekali kalau saya menyuruh ustad buru-buru ke sini!"tampak pak Purwanto sungkan.


"Tidak pa pa pak, jangan sungkan seperti itu!"


"Bagaimana lagi ustad, saya sungguh tidak enak mengatakannya!"


"Katakan saja.pak, insyaallah jika saya bisa membantu, saya akan bantu!"


Walaupun ragu akhirnya pak Purwanto menjelaskan keluh kesahnya pada ustad Farid.


"Sebenarnya untuk dua atau tiga Minggu ke depan saya harus ke Jakarta untuk mengikuti seminar. Saya khawatir nanti ustad tidak enak kalau tidak ada saya, jadi saya meminta ustad ke sini lebih cepat!"


"Maksudnya?"


"Kebetulan kemarin guru agama di sini ada yang cuti melahirkan, dan kami kekurangan guru untuk itu. Jika ustad masih sibuk, ustad bisa datang dua kali dalam seminggu, setiap hari Rabu dan Jum'at selama saya tidak ada. Apa ustad keberatan?"


"Kalau hanya dua hari, insyaallah saya bisa. Tapi nanti jika sewaktu-waktu saya tidak bisa, saya mohon ijin ya pak!"


"Iya, nggak pa pa ustad, saya maklumi."


Setelah urusannya dengan pak Purwanto selesai, ustad Farid pun segara meninggalkan ruang kepala madrasah.


Ia tidak bisa langsung pulang karena masih harus menunggu kedatangan guru kurikulum untuk membicarakan jadwal. Kebetulan sang guru hari ini datang terlambat. Ia pun memilih menunggu di ruang tunggu agar sang guru mudah menemukannya.


Tapi langkahnya segera melambat saat melihat seseorang yang tengah berada di sana, ia tengah menatap ke arahnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2