
Setelah pak Dadang pulang, kyai Syam tampak begitu bersemangat, Kyai Syam pun menghubungi putranya yang juga tinggal di Jawa dan memberitahu tentang kabar yang baru ia dapat.
"Assalamualaikum, Zak!" sapanya begitu telpon tersambung.
"Waalaikum salam, bi!" tapi rupanya bukan suara putranya melainkan suara sang menantu.
"Zahra? Zaki mana?"
"Mas ustad lagi di kamar mandi bi, bentar lagi keluar katanya, bi!" ucap di seberang sana, sebenarnya tidak masalah baginya bicara dengan menantu atau putranya. "Maaf ya bi, Zahra angkat!" tampak dari suara sang menantu dia merasa bersalah.
"Ohhh nggak pa pa, ngomong sama kamu sama aja, lagi pula Abi juga belum tangan kabar kamu. bagaimana kabar kamu? Kapan kata dokter boleh pulang?" tanya kyai Syam kemudian.
"Alhamdulillah baik bi, katanya kalau satu Minggu lagi kesehatan zahra tetap stabil, Zahra sudah boleh pulang!"
"Alhamdulillah!" Abi begitu senang karena jika benar Minggu depan sudah boleh pulang, berarti kepulangan Zahra maju lima belas hari dari perkiraan dokter sebelumnya.
Zahra tampak tidak nyaman jika berbicara sendiri dengan ayah mertuanya itu, rasanya jantungnya agak mau loncat.
Senyumnya sumringah begitu melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Itu bi, mas ustad sudah keluar,!" ucap Zahra sambil menunjuk ke arah suaminya meskipun kyai Syam tidak bisa melihatnya.
"Siapa?" tanya ustad Zaki yang hanya mengerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, sepertinya dia lupa kalau tadi sudah sempat bertanya pada Zahra.
"Abi!" jawab Zahra dengan melakukan hal yang sama, ia juga bicara tanpa suara.
Wajah ustad Zaki tampak segar, sepertinya ia baru saja cuci muka, terlihat dari air yang masih membasahi wajahnya. Ustad Zaki pun segera mendekati istrinya yang tengah mengulurkan tangan kanannya yang memegang ponsel.
"Di loudspeaker aja dek!" ucap ustad Zaki saat merasakan tangannya masih sedikit basah.
Zahra pun akhrinya melakukan seperti yang di perintah sang suami. Ustad Zaki duduk di samping sang istri.
"Assalamualaikum, bi." sapa ustad Zaki, "Ada apa bi?" lanjutnya bertanya.
"Waalaikum salam, gini Zak. Insyaallah besok Abi sama ummi mau kembali ke Blitar!"
Ustad Zaki tampak begitu terkejut, pasalnya baru kemarin sore Abi dan umminya kembali dari semarang,
"Mendadak sekali, ada apa bi?" ia khawatir jika ada masalah yang serius yang dia tidak ketahui.
"Farid sudah cerita belum?" tanya kyai Syam balik bertanya.
Ustad Zaki kembali mengerutkan keningnya,
__ADS_1
"Farid?" ustad Zaki teringat jika ia terlalu sibuk beberapa hari ini hingga lupa menanyakan keadaan Farid.
"Ada apa bi sama Farid? Zaki beberapa hari ini tidak menghubunginya, apa ada masalah?" ia khawatir jika ternyata ustad Farid tidak betah di Tulungagung atau ada masalah dengan ustad Farid dan Wahid di sana.
"Ada berita gembira Zak!" ucap kyai Syam lagi membuat sepasang suami istri itu saling berpandangan.
"Maksud Abi?"
"Jadi besok yang datang ke Jawa bukan hanya Abi sama ummi, tapi Ambu sama abahnya Farid."
"Maksudnya, Zaki nggak mengerti bi?"
"Jadi gini, tadi sore abahnya ustad Farid, pak Dadang datang ke rumah. Katanya ustad Farid menelpon, beliau ingin kita datang untuk melamar seorang gadis!"
"Hahhhh?" ustad zaki begitu terkejut, begitu juga dengan Zahra, mereka saling berpandangan.
"Abi nggak salah denger?" tanya ustad Zaki lagi ragu, hanya dalam waktu tidak lebih dari satu Minggu dan tiba-tiba pria itu minta dilamarkan seorang gadis.
"Insyaallah enggak! Pak Dadang sendiri yang ke sini, dan rencananya besok pagi kita langsung ke Jawa. Gimana kamu bisa datang?"
"Nanti Zaki usahakan bi, tapi kalau nggak bisa tolong sampaikan salam Zaki saja ya bi buat Farid!"
"Insyaallah!"
Dan kemudian zahra lebih dulu membuka suara,
"Mas, Zahra kayaknya baru kemarin doain ustad Parid dapat jodoh orang Jawa, kok bisa_!"
"Jodoh itu rahasia Allah, dek! Tapi mungkin dari selain banyak doa untuk ustad Farid, doa dek Zahra yang paling cepat di kabulkan!" ucap ustad Zaki sambil tersenyum Dnegan begitu teduhnya.
"Nggak pengen ngomong sama ustad Parid, mas?" tanya Zahra lagi.
Ustad Zaki mengeryitkan keningnya hingga alis tebalnya hampir tertaut,
"Ini sudah malam!"
"Kan malah nggak ganggu pas aktifitas, lagi pula masih jam delapan!" Zahra begitu ngotot, ia begitu penasaran apa alasan ustad Farid hingga memutuskan untuk menikah dengan cepat.
"Baiklah!"
Ustad Zaki pun melakukan apa yang di minta sang istri, mereka tampak menunggu hingga panggilan itu terjawab, dan benar saja tidak butuh waktu lama telpon tersambung.
"Assalamualaikum, Zak!" sapa dari seberang sana.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Rid. Gimana kabarnya?" ustad Zaki sengaja menanyakan kabar terlebih dulu.
"Alhamdulillah baik, insyaallah semua lancar!" ucap ustad Farid.
"Termasuk pernikahan?" tanya ustadz Zaki to the point.
Dan pertemanan itu berhasil membuat ustad Farid begitu terkejut.
"Kamu tahu dari mana?" tanyanya.
"Barusan Abi telpon. Bagaimana bisa? Sama siapa? Kenapa? Kamu nggak macem-macem Sampek ketangkep kan sama orang situ?" ustad Zaki langsung memberondongi ustad Farid dengan banyak pertanyaan dan yang terakhir berhasil membuat ustad Farid melongo.
"Astaghfirullah hal azim, Zak! Su'uzhon banget jadi orang."
"Ya nggak gitu, habis ini terlalu tiba-tiba!"
"Kamu juga, kenapa dulu nikahnya tiba-tiba?"
"Atau jangan-jangan kamu ngalamin hal yang sama ya sama aku?"
"Ya, begitulah!"
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya!"
"Ceritain dong!"
"Entar aja kalau kamu datang ke sini!"
"Siap. Insyaallah aku datang!"
Akhirnya ustad Zaki mengakhirinya obrolan mereka, sesaat setelah sambungan telpon terputus ustad Zaki dan Zahra sambil berpandangan dan tertawa bersama.
Mereka bukan tengah menertawakan ustad Farid, tapi mereka tengah menertawakan bagaimana proses mereka dulu berjodoh hingga menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...