Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 89


__ADS_3

Bohong jika ucapan budhe Anin tidak menyinggung perasaan ustad Farid, bagaimanapun dia, sesabar apapun dia tetaplah seorang manusia biasa. Ustad Farid pun akhirnya benar-benar bertekad untuk membuka usahanya dengan tabungan seadanya. Tabukan sisa ia membeli rumah, karena jika ingin membuat toko sendiri pihak produsen meminta uang muka setidaknya dua puluh lima persen sebelum baju di kirim.


Awalnya begitu sulit karena ia harus membagi uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dan merintis usaha, beruntung ustad Farid masih punya penghasilan lain dari konten-konten mengaji yang ia buat. Sedikit-sedikit bisa membantu menutup kebutuhan sehari-hari karena ustad Farid benar-benar tidak mengijinkan Anin membantu perihal keuangan, ia meminta semua hasil uang usaha Anin untuk di tabung.


Satu Minggu tinggal satu atap dengan budhe Anin adalah satu Minggu yang berat. Selain mendapatkan tekanan, jelas mereka bahkan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.


Beruntung hari ini hari terakhir sebelum budhenya pindah ke rumah orang tua Anin.


"Budhe sudah nggak betah di sini, sempit."


"Maaf ya budhe, buat budhe nggak nyaman." ucap Anin.


"Biar Farid antar ya budhe sekalian Farid berangkat sekolah."


"Sebenarnya budhe nggak suka kalau naik motor butut kayak gitu, tapi ya mau bagaimana lagi. Ya sudahlah budhe mau."


"Budhe..., motor mas Farid juga baru ketimbang motor Anin, budhe. Kemarin aja muji-muji motor Anin."


" Kamu tuh Nin, nggak demen banget kalau budhe ngasih saran sama suami kamu."


'Hahhh, dimana letak sarannya, ' batin Anin. Sebenarnya Anin ingin protes tapi segara ustad Farid memberi isyarat pada Anin untuk diam saja.


"Ayo budhe, biar Farid bawakan tasnya."


"Seneng banget kamu ya kalau budhe keluar dari rumah kamu."


'Budheeeee,' batin Anin sudah sangat kesal, bibirnya pengen sekali membalas ucapan pedas budhenya tapi sang suami segera mengusap tangan Anin hingga membuat wanita itu menyerah.


Ustad Farid pun segera mengantar budhe ke rumah orang tua Anin. Terakhir kali ia tahu jika budhe akan tinggal lama di rumah orang tua Anin, mungkin malah selamanya karena rumahnya yang ada di Surabaya sudah di jual untuk membayar hutang.

__ADS_1


"Sampai budhe." ucap ustad farid begitu sampai di depan rumah pak Suroso.


"Sudah tahu," jawab budhe dengan judes lalu turun dari motor, tapi kembali ia berbalik menatap ustad Farid,


"Itu tas ku sekalian di turunkan."


"Iya budhe."


Ustad Farid dengan sabar menanggapi apapun yang di lontarkan oleh budhe Anin. Kedatang mereka segera di sambut oleh pak Suroso dan istrinya.


"Ya Allah mbak, saya dan mas Suroso sudah menunggu mbak dari kemarin loh." ucap istri pak Suroso sambil mengajak budhe Anin masuk.


Sedangkan pak Suroso segera mengambil alih salah satu tas yang tengah di bawa oleh ustad farid,


"Nggak pa pa pak biar Farid bawa sendiri." tolak ustad Farid yang merasa tidak enak.


"Nggak pa pa, maaf ya budhenya Anin memang seperti itu. Dia pasti banyak menyusahkan kamu."


Setelah menurunkan budhe Anin, ustad Farid pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


***


Beberapa bulan ini ustad Farid begitu sibuk, Anin pun sama. Meskipun begitu mereka masih selalu menyempatkan diri untuk ngobrol sebelum tidur. Walaupun begitu, ustad Farid dan Anin juga menyisakan satu hari dalam satu Minggu tanpa menyentuh pekerjaan.


Meskipun sibuk, tapi ustad Farid juga tidak mengabaikan tugasnya di madrasah ataupun di diniyah.


Saat pagi hari ustad Farid akan pergi ke madrasah dan setelah magrib ustad Farid juga mengajar di diniyah. Karena toko mulai stabil ustad Farid bisa meluangkan waktu setidaknya dua hari dalam satu Minggu untuk mengisi Diniyah sore.


"Ustad." panggilan itu berhasil menghentikan ustad Farid yang hendak masuk kelas Diniyah. Ternyata itu kyai Hasan, dia bersama seorang pemuda. Meskipun masih muda, tapi wajahnya mirip kyai Hasan.

__ADS_1


"Iya kyai?"


"Ini saya mau memperkenalkan putra saya yang saya ceritakan beberapa bulan lalu, namanya Fais. Dia baru pulang dari pesantren dua hari lalu." ucap kyai Hasan dan pemuda itu mengulurkan tangannya pada ustad Farid.


Ustad Farid pun menyambut uluran tangannya, "Saya Farid, senang bisa kenal sama mas Fais. Semoga kedepannya kita bisa bekerja sama."


"Insyaallah." jawab pria itu sambil tersenyum ramah. Pria itu tampan dengan kulit yang bersih dan perawakan yang tinggi, sedikit lebih tinggi di banding ustad Farid,


"Ustad Farid ini pendatang ya? Sepertinya sebelumnya kita belum pernah bertemu?" tanya Fais lagi.


"Iya, kebetulan jodoh saya di sini."


Fais pun tersenyum, "Ya Allah ternyata karena seorang gadis. Gadis mana yang begitu beruntung menikahi ustad setampan ustad Farid?" tanyanya sambil menoleh pada kyai Hasan. Tapi pria paruh baya itu malah menundukkan kepalanya.


"Ehhhhh, sepertinya saya masih ada urusan. Lagi pula ustad Farid juga harus masuk ke kelas kan. Sebaiknya obrolannya di lanjut nanti." ucap kyai Hasan seperti sengaja mengalihkan perhatian mereka.


"Baiklah, maaf kalau begitu saya masuk dulu. Assalamualaikum." ijin ustad Farid.


"Waalaikum salam,"


Setelah mendapatkan jawaban, ustad Farid pun segera masuk ke dalam kelas.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2